Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 40 - Dea Sungguh Bingung


__ADS_3

"Ar! aku tidak pakai baju!" pekik Dea saat Arden keluar dari dalam kamarnya beberapa detik.


Pria yang dipanggil ini pun menghentikan langkah, membuang nafasnya berat mencoba tenang. Entah kenapa kini dia begitu sensitif, hatinya mudah sekali tersentuh. Sejenak Arden bahkan memejamkan mata, bertanya-tanya kenapa dia jadi seperti ini? cinta matikah atau apa?


Sampai akhirnya dia ingat ucapan dokter Luna kemarin, tentang dia yang mengalami kehamilan simpatik. Semua tanda-tanda kehamilan Dea akan beralih padanya, mulai dari mual juga mood swing.


"Ar, jangan pergi," ucap Dea, dia berdiri di belakang Arden dengan melilitkan selimut tebal di tubuhnya. Dea tidak punya waktu untuk memakai bajunya kembali jadi dia hanya menggunakan selimut ini.


Dan mendengar suara lirih itu Arden pun akhirnya berbalik, menatap sang wanita yang terlihat memohon.


"Jangan pergi, apalagi keadaanku seperti ini," ucap Dea lagi, lebih lirih. Kesedihannya akan berkali-kali lipat jika Arden pergi meninggalkannya setelah mereka bercinta. Seolah hubungan di antara keduanya masih sama seperti saat pertama kali dulu, Dea yang hanya menjadi pelampiasan hasrat Arden.


"Maafkan aku De."


"Maafkan aku juga," jawab Dea cepat, keduanya saling melangkah mendekat lalu memeluk erat. Sangat erat hingga kini Arden yang menahan selimut itu ditubuh wanitanya.


"Ayo mandi sama-sama," ajak Dea dengan genitnya.


"Tapi tidak bathtub dan shower disini, mana asik."


"Pakai gayung juga tidak masalah, yang penting kan mandi."

__ADS_1


"Yang penting bersama mu."


Keduanya terkekeh, pagi itu mereka mandi bersama di dalam kamar mandi yang tidak begitu luas. Hanya ada ciuman panas tanpa penyatuan.


Karena untuk penyatuannyaa Arden kembali lakukan di atas ranjang.


Dan setelah semua lahar itu menyembur, Arden kembali mendekap tubuh Dea.


Sama-sana memeluk diatas ranjang.


"Ar, bagaimana kamu tahu kalau aku hamil?" tanya Dea. Namun Arden tidak langsung menjawab, karena tiba-tiba perasaan tak nyaman di perutnya kembali dia rasa.


Wajah Arden mulai terlihat pucat, lantas dengan segera Arden kembali ke kamar mandi dan muntah di dalam sana.


Huwek!


Dea yang cemas pun segera menyusul, kedua orang ini berlarian tanpa sehelai benang pun.


"Astaga Ar, kamu sakit?" cemas Dea, dia memijat tengkuk Arden kuat, sampai terasa nyaman bagi prianya.


Huwek!

__ADS_1


"Ayo kita ke rumah sakit."


Huwek!


"Ar, kamu membuatku takut."


Arden mulai tenang, tidak ada yang dia muntahkan, namun perutnya seperti diaduk-aduk.


"Karena mual inilah aku tahu kamu hamil," jawab Arden dengan suaranya yang lemas. Hanya seperti ini saja sudah membuatnya tak bertenaga, padahal saat bercinta tadi dia begitu kuat.


"Kamu bicara apa sih, aku tidak mengerti. Kamu masuk angin, ayo pakai bajuku." Ajak Dea, dia memapah Arden hingga sampai duduk di tepi ranjang.


"Tapi tidak ada CD, pakai celana training ku saja. Bajunya jaket hodie ya?"


Dea sibuk sendiri mengambil semua baju itu dan memasangnya di tubuh Arden. Celana dan baju ini terlihat kekecilan, tapi untunglah masih bisa masuk.


Dan setelah memakaikan Arden baju, dia pun ingin memakai baju pula. Namun urung saat Arden malah menarik pinggangnya.


"Aku mual, tapi sangat ingin meminum susu dari mu."


"Hah?" Dea cengo, dia sungguh bingung. Sedari tadi dia tidak paham apa maksud ucapan Arden. Sampai akhirnya tanpa aba-aba Arden langsung melahap buah di dadanya.

__ADS_1


"Ar!!"


__ADS_2