
Maaf ya lama up nya, aku lagi proses ajuin kontrak dan ribet banget, huhuhu. Pengen nangis.
Doain cepet kontrak ya, nanti aku crazy up lagi.
Ada perasaan hangat yang masuk ke relung hati Dea ketika mendengar Silvana mengizinkannya untuk memanggil Silvana dengan sebutan mama.
Meski nadanya terdengar tidak ramah, namun tetap saja tak mengurangi rasa bahagia yang Dea rasakan.
Wanita hamil ini tersenyum kecil, kecil sekali sampai Silvana tidak menyadarinya.
"Berapa lama usia kandungan mu?"
"3 bulan awal, Ma."
"Apa kamu ngidam?"
"Tidak Ma."
"Arden yang ngidam?"
Dea mengangguk kecil.
Hih! bahkan cucuku saja sudah takut tidak diakui, karena itu dia menyusahkan ayahnya. Batin Silvana.
Pagi itu Silvana memeriksa seluruh ruang apartemen ini, yang tidak dia masuki hanyalah kamar Arden dan Dea.
__ADS_1
Semua ditelisik dan nampak rapi juga bersih. Semua perabot juga tertata semestinya.
Ya harus begini, lagipula Dea sudah tidak bekerja. Batin Silvana lagi, dia terus menggerutu di dalam hati.
Tidak berani lagi mengutarakan kekesalannya langsung.
Dan kabar kedatangan Silvana ke apartemen itu langsung didengar oleh Arden yang berada di kantor. Hingga kini Arden masih memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Dea, bahkan harus mengawasi lebih teliti.
Arden tidak ingin kecolongan kedua kali.
Tahu ada Silvana di apartemennya membuat Arden tidak tenang, Dia mengurungkan niat awalnya untuk bekerja dan memutuskan segera kembali pulang.
Sepanjang perjalanannya pun Arden merasa takut Silvana akan kembali menyakiti istrinya itu.
Mengucapkan kata-kata jahat hingga membuat Dea bersedih.
Sampai di lobby apartemen dan segera berlari menuju unit apartemennya.
Menekan tombol password dengan tergesa dan mendorong pintu dengan kasar.
"De!" panggil Arden langsung, baru 2 jam 30 menit ia pergi dan kini sudah kembali lagi.
Dea yang mendengar panggilan itu pun langsung tahu jika suaminya sudah pulang, namun dia mengerutkan dahi merasa bingung, Kenapa Arden sudah kembali? apa ada sesuatu yang tertinggal? pikir Dea.
Dea ingin menghampiri, namun kalah cepat dengan Arden yang sudah lebih dulu menemui dia di dapur.
__ADS_1
Arden melihat Dea yang duduk di meja makan, sementara Silvana berkutat di dapur miliknya.
"Untuk apa Mama kesini?" tanya Arden dengan suaranya yang dingin.
Dea langsung bangkit dan menyentuh lengan suaminya.
"Ar, jaga bicara mu, jangan emosi," bisik Dea.
Silvana tidak mendengar bisikan itu, namun Silvana cukup tahu jika Dea pasti menenangkan anaknya. Meminta Arden untuk tidak memarahi dia.
Dan Silvana melihat dengan jelas, perubahan raut wajah Arden yang jadi lebih teduh.
Astaga, anakku patuh sekali dengan wanita itu. batin Silvana lagi, dia terus mengeluhkan semuanya di dalam hati.
"Mama datang kesini untuk meminta maaf," ucap Silvana. akhirnya. Saat melihat wajah Arden dia mulai mampu menurunkan egonya sendiri.
Saat hanya melihat Dea tadi sungguh dia tidak bisa mengucapkan kata maaf.
Sementara Arden terdiam, menatap Silvana mencari kejujuran.
"Mama sudah lelah bertengkar terus seperti ini Ar, jadi mama mohon. Maafkan mama dan kita mulai semuanya dari awal."
"Tidak ada yang perlu dimulai, mama hanya cukup menerima Dea, bukan hanya menerima anak yang dikandungnya." balas Arden.
Membuat Silvana menelan ludahnya dengan kasar, karena ucapan Arden itu memang benar.
__ADS_1
Hanya karena anak yang dikandung Dea lah dia bisa menerima Dea ditengah-tengah keluarga mereka.
"Iya Ar, mama tahu. Beri mama kesempatan," jawab Silvana pula dengan berat hati.