Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 66 - Selalu Mencoba Kuat


__ADS_3

Hari berlalu.


Seperti kesepakatan antara Arden dan Dea, memasuki usia 9 bulan kehamilan mereka akan pindah kamar ke lantai 1.


Kamar yang berada persis di sebelah kamar milik Silvana.


Saat ini para pembantu sedang membereskan kamar itu, memindahkan beberapa baju milik tuan dan nyonya ke dalam lemari yang ada di kamar ini.


Sementara Arden, Dea dan Silvana yang juga ada di sana memilih duduk di sofa. Arneta dan Arsila sudah pergi kuliah.


"De, kamu tidak ingin memanggil kedua orang tua mu untuk datang kesini?" tanya Silvana, mengingat sang menantu yang akan segera melahirkan dia jadi teringat akan kedua orang tua Dea.


Teringat saat dulu dia melahirkan anak-anaknya Silvana juga ingin didampingi oleh sang ibu.


Dan ditanya seperti itu Dea tidak langsung menjawab, Dia malah terdiam sedikit termenung. Jujur saja dia sangat merindukan kedua orang tuanya.


Tapi memanggil mereka ke sini, apakah itu keputusan yang tepat? mengingat hubungannya dengan Silvana yang mulai membaik.


Dea sadar, kini dia sudah menikah dengan Arden, bagaimanapun sayangnya dia pada kedua orang tuanya dia akan mendahulukan kebahagiaan keluarga sang suami.

__ADS_1


Dea menunduk, tidak menjawab.


"Aku sudah meminta Leon untuk menjemput mereka Ma, mungkin nanti malam sudah sampai." Arden yang menjawab, Sebuah jawaban yang membuat Dea langsung mengangkat wajahnya dan tercengang.


Sesuatu yang sangat dia khawatirkan, ternyata ditanggapi biasa saja oleh sang suami.


"Bagus kalau begitu, jadi saat anak kalian lahir rumah ini akan terasa lebih ramai," balas Silvana pula, saat mengatakan itu dia pun tersenyum lebar.


Dan Dea makin terperangah melihat keduanya.


Apa aku yang terlalu berpikir berlebihan? batin Dea.


Para pembantu juga sudah menyelesaikan tugasnya.


Kini di kamar ini hanya tinggal Arden dan Dea.


"Kamu kenapa? sepertinya dari tadi lebih banyak diam, apa tidak suka Papa dan Mama akan datang ke sini?" tanya Arden, dia memeluk pinggang istrinya dan sedikit memijat pinggang sang istri.


"Bukan tidak bahagia tapi apa tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Aku takut membuat Mama Silvana merasa tidak nyaman."


Mendengar itu Arden tertawa pelan, dulu Dea yang selalu mengatakan padanya untuk selalu berpikir positif tentang Silvana. Tapi akhir-akhir ini Dea selalu mengkhawatirkan akan hal itu.


Menjelang kelahiran anak mereka, Dea jadi kembali takut dengan Silvana.


"Jangan-jangan anak kita nanti takut dengan mama Silvana," ucap Arden lalu kembali tertawa, sedangkan Dea langsung mengerucutkan bibirnya mendengar itu.


"Kamu terlalu banyak berpikir sayang, Mama sudah berubah dia sangat menyayangi kamu." Terang Arden.


Satu tangannya yang tadi memijat pinggang Dea, kini naik untuk mengelus puncak kepala sang istri.


Arden tahu apa yang sudah dilakukan oleh Silvana pada Mona dan ibunya. Awalnya dia juga terkejut namun akhirnya merasa bahagia karena Silvana benar-benar menyayangi Dea dengan tulus.


"Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, pikirkan saja tentang anak kita. Pikirkan jika bukan hanya kita yang ingin menemui dia tapi dia juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kita." Arden mengelus perut istrinya.


Nanti Dea dan anaknya akan berjuang bersama. Ardan sungguh tak kuasa ketika menyadari itu.

__ADS_1


Sebenarnya disini yang paling lemah adalah Arden. Tapi dia selalu mencoba kuat tidak ingin membuat Dea semakin takut.


__ADS_2