Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 42 - Pikirkan Anak Kita Dulu


__ADS_3

"Kehamilan simpatik?" ulang Dea dan Leon langsung menganggukkan kepalanya cepat.


Tapi saat itu Leon tidak sempat menjelaskan semuanya kepada Dea tentang kehamilan Simpatik yang sedang dialami oleh Arden. Karena saat itu Arden sudah menunggunya di dalam mobil, sementara Dea harus segera kembali bekerja.


Akhirnya mereka berpisah, Arden dan Dea sudah berjanji untuk kembali bertemu nanti malam. Saat Dea pulang kerja, Arden yang akan menjemput. Lalu sama-sama mereka akan menuju rumah Arden.


Disaat senggang, Dea meminjam ponsel Fanny dan mencari tentang kehamilan simpatik di gugle. Dea membaca beberapa artikel dan mulai memahami.


Dia cukup terkejut, masih tidak percaya benarkah Arden mengalami ini semua?


Dan waktu berlalu.


Saat waktunya Dea pulang tiba mobil Arden sudah terparkir sempurna di halaman cafe. Dea langsung masuk dan duduk disamping prianya yang berada di kursi kemudi.


"Kenapa tidak jalan?" tanya Dea, dia sudah duduk sempurna tapi Arden malah diam saja, tidak segera melajukan mobil.


"Apa ada yang kamu lupakan?"


"Apa?"


Dan mendapati jawaban Dea itu membuat Arden kecewa, padahal dia ingin sebuah kecupan dari calon istrinya ini.


Wajah Arden kembali ditekuk, dia Lalu menghidupkan mesin mobil dan melaju.


Sementara Dea sungguh heran melihat tingkah Arden itu.

__ADS_1


Melupakan Apa? Aku tidak melupakan apapun? batin Dea dengan kesal.


Dia ingin marah, namun urung ketika ingat tentang kehamilan simpatik.


"Ar," panggil Dea pelan.


"Kamu sudah makan?" tanya Dea lagi, coba mencairkan suasana yang kini beku.


"Sudah."


"Tapi aku belum, kita berhenti di mini market itu ya? Aku mau beli mie instan."


Arden melirik Dea, makanan yang paling dia benci itu entah kenapa kini jadi terbayang rasanya nikmat sekali.


Dan sebenarnya Dea pun ingin tahu respon Arden ketika mendengar makanan itu.


Ha? Dea terperangah, ternyata Arden benar-benar berubah, yang dulu dia benci kini tidak lagi, persis seperti salah satu artikel yang dibaca oleh Dea.


Akhirnya malam itu Dea membeli cukup banyak mie instan.


Hampir jam 10 malam mereka berdua masih duduk di kursi meja makan dan siap melahap mie goreng.


"Serius kamu mau makan itu?" tanya Dea.


"Kenapa?" Arden mulai murung, takut Dea melarang.

__ADS_1


Dan melihat wajah Arden yang berubah, Dea langsung jadi peka. Dia tidak boleh bicara sembarangan lagi.


"Kalau mau makan biar aku suapi," jawab Dea dengan senyum genit, hanya ini cara yang dia punya untuk membuat Arden gagal marah.


"Suapi pakai mulut."


"Ish, mana bisa seperti itu!"


Arden mulai terkekeh.


Selesai makan mereka masih duduk disana, membicarakan banyak hal sekaligus menunggu perut mereka tidak kekenyangan lagi.


"Kamu tidak ingin pulang?" tanya Arden, dia menarik Dea untuk duduk di atas pangkuannya. Satu tangannya mengelus perut Dea dengan lembut.


"Pulang kemana?"


"Ke rumah kedua orang tua mu. Ayo kita pulang dan meminta izin untuk menikah." jawab Arden, dia ingin segera menikahi Dea. Tidak ingin anaknya ini lahir tanpa status yang jelas.


Sementara Dea tidak langsung menjawab, masih memikirkan Silvana yang menjadi penghalang terbesar untuk hubungan mereka.


"Bagaimana dangan mama Silvana?" tanya Dea, dia mulai membiasakan diri memanggil Silvana dengan sebutan mama, hanya karena tidak ingin membuat Arden marah.


"Kita menikah dulu, pikirkan anak kita dulu." terang Arden dengan memohon, kedua matanya nampak sayu.


Dea membelai wajah itu dan mengecup bibir Arden sekilas.

__ADS_1


Pemandangan manis yang membuat Leon mendelik di salah satu sudut. Dia urung mengambil minum dan segera kembali ke kamar.


__ADS_2