Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 41 - Pertengkaran Tidak Masuk Akal


__ADS_3

Hari ini Dea tetap masuk kerja meski Arden ada di rumah kontrakanya. Arden tidak melarang Dea pergi, baginya diantara dia dan Dea memang berhak menjalani hidupnya masing-masing.


Dengan bibir yang tersenyum, Arden melepaskan Dea pergi bekerja.


Lalu saat Dea sampai di cafe, ternyata Arden sudah lebih dulu duduk di salah satu kursi meja.


Ha? Dea terperangah, bagaimana pria itu bisa berpindah secepat ini.


Ah iya, pasti Leon ikut dengannya. Sementara aku harus naik kendaraan umum. Batin Dea. Dia mendekati Arden namun tidak ikut duduk.


"Kamu seperti penguntit," sindir Dea, namun Arden malah bangga dengan sebutan itu.


"Kamu lah yang mengajarkan aku jadi seorang penguntit."


Dea mendengus.


"Masuklah, aku tidak akan menganggu mu."


Dea mengangguk.


Hari itu Dea bekerja dengan kedua mata Arden yang terus mengawasi, melihat kemanapun langkah kaki Dia berjalan. Kesana kemari terus seperti itu sampai akhirnya jam istirahat tiba.


Dea makan siang bersama dengan Arden, setelah mengenalkan Arden sebagai kekasihnya pada semua teman-teman.


Namun dikenalkan seperti itu membuat Arden murung, dia merasa bersedih.


Arden tidak ingin dianggap hanya sebagai kekasih, dia ingin menjadi suami Dea.

__ADS_1


Wajah Arden berubah murung, dia bahkan tidak berselera untuk makan. Sebuah perubahan raut wajah yang begitu kentara.


"Kamu kenapa?" tanya Dea heran, dia mulai meletakkan sendok ditangan Arden.


"Jadi aku hanya kekasih mu?"


"Apa itu salah? kamu mau dianggap sebagai Apa?"


Arden tidak menjawab, dia memalingkan wajah.


"Astaga, kamu seperti anak kecil. Itu hanya perkenalan, tentang hubungan kita tidak perlu mereka tahu."


Tapi Arden tetap tidak mau mendengar penjelasan itu, tetap saja dia merasa sedih.


Leon yang sedari tadi duduk diantara mereka pun menelan ludahnya kasar. Sungguh tidak menyangka jika kehamilan simpatik efeknya akan sedramatis ini. Arden bukan seperti pria dingin yang dia kenal, Arden lebih mirip seperti gadis SMA yang baru merasakan cinta, salah sedikit saja dia akan marah.


"Makanlah sendiri, aku akan pulang."


"Astaga," jawab Dea.


Arden pergi dan Dea mengejarnya, sampai akhirnya mereka berhenti halaman cafe ini.


Leon pun mengikuti, kembali berada diantara pertengkaran tidak masuk akal ini.


"Nona Dea, mengalah lah, nanti akan saya jelaskan semuanya," bisik Leon, sebelum pertengkaran semakin runyam.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


Leon tidak menjawab, hanya wajahnya yang semakin memelas.


Pusing dengan keadaan ini akhirnya Dea menarik Arden untuk masuk ke dalam mobil pria itu. Duduk di kursi belakang dengan tenang.


"Maafkan aku kalau aku salah, tapi jangan suka pergi-pergi seperti itu, aku tidak suka," ucap Dea.


"Aku juga tidak suka jika hanya kamu anggap sebagai kekasih mu, bahkan sekarang di perutmu sudah ada anak kita. Bagaimana bisa hanya sebagai kekasih?"


"Ar, itu hanya basa basi, apa harus menjelaskan semua kepada mereka."


"Lihatlah, kamu tidak pernah menganggap hubungan kita serius."


"Astaga Arrr!!" Kesal Dea, dia menarik telinga Arden hingga pria ini gaduh kesakitan.


"Ampun De!!"


"Dengar tidak kalau aku bicara!"


"Iya dengar." Mata Arden mulai berkaca-kaca, dan sungguh Dea sangat frustasi dengan keadaan ini.


Cukup lama mereka berdua di dalam mobil itu sampai akhirnya Arden tenang.


Namun Dea keluar dari sana masih dengan kepalanya yang bingung dan semakin bingung saat Leon mengatakan sesuatu...


"Tuan Arden mengalami kehamilan simpatik."


"Ha?"

__ADS_1


__ADS_2