
Kesal terus menggerutu, akhirnya Silvana memutuskan untuk pergi dari apartemen Arneta dan Arsila.
Dia meminta Sam untuk mengantarnya ke salah satu pasar tradisional modern yang ada di kota.
Sampai di sana Silvana langsung memborong semua buah alpukat yang dia temui di pinggir jalan. Membuat bagasi mobilnya penuh dengan buah buah itu.
"Nyonya, anda ingin pergi kemana lagi?" tanya Sam, mobil mereka sudah melaju keluar dari area pasar tapi Silvana belum berucap untuk mengatakan tujuan mereka.
Membuat Sam bingung. Di depan sana ada pertigaan. Lurus terus mereka akan pulang ke rumah utama, belok kiri mereka menuju ke apartemen anak-anaknya.
Jadi mau kemana?
Sementara Silvana juga jadi bingung, ke mana dia akan membawa buah alpukat ini.
Apartemen Arneta dan Arsila atau apartemen Arden?
Tidak, tidak, Aku tidak akan membawa buah alpukat ini ke apartemen mereka lebih baik buah-buah ini aku bawa pulang dan meminta mereka untuk datang. Batin Silvana.
Setelah itu mulai ada senyum yang terbit di bibirnya, dia akan memanfaatkan buah itu untuk memancing anaknya pulang.
"Kita pulang saja Sam."
"Baik Nyonya."
Sore tiba.
Hingga jam 4 sore Arden masih juga belum mendapatkan buah alpukat untuk sang istri.
Arneta dan Arsila pun sama saja, mereka berdua malah mendatangi pusat perbelanjaan yang sudah didatangi oleh Arden.
__ADS_1
Sia-sia saja.
"Ar, ayo kita pulang. Aku sudah capek," keluh Dea, Padahal dari tadi dia sudah tidur di dalam mobil, tempat duduknya pun sudah dibuat lebih turun hingga membuatnya merasa nyaman.
"Tapi De_"
"Ar! pulang."
"Baiklah."
Arden memutar kemudi nya dan menuju apartemen mereka, namun tak lama kemudian ponsel Arden berdering, ada panggilan masuk dari Arneta.
Dea yang menjawab.
"Halo Ta."
"Kak Dea, kakak dimana? sudah pulang belum? dapet nggak buah alpukat nya?" tanya Arneta, pertanyaan yang terlalu banyak hingga membuat Dea bingung mau menjawab yang mana dulu.
"Di rumah mama banyak buah alpukat. Mama tadi beli di pasar," ucap Arneta lagi karena kakak iparnya ini hanya diam.
Dan Dea yang mendengar ibu mertuanya mendapatkan buah alpukat itu pun mengulum senyum. Ada perasaan bahagia tersendiri di dalam hatinya.
"Kak Dea kesini saja, aku dan Sila juga sudah di rumah mama."
"Iya," jawab Dea singkat dan panggilan itu pun terputus. Membuat Arden mengerutkan dahinya bingung.
Sebenarnya apa yang dibicarakan oleh Dea dan Arneta, selama panggilan telepon itu Dea hanya diam kemudian berucap satu kata iya, lalu mati.
Aneh sekali.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arden.
"Kita ke rumah mama Ar."
"Kenapa? apa mama meminta Arneta untuk menghubungi mu dan meminta kita datang? astaga, mama benar-benar memanfaatkan Arneta dan Arsila."
Geram dengan pikiran buruk yang terus bersarang di kepala suaminya Dea pun mencubit lengan Arden kuat-kuat.
"Aw sakit De!"
"Kamu sih! kalau bicara tentang mama pikirannya negatif terus!"
"Aku hanya waspada."
"Waspada untuk apa?! di rumah mama banyak buah alpukat, tadi mama beli di pasar." Terang Dea, sebelum suaminya kembali berpikir buruk.
"Benarkah?"
"Iya."
"Pasti Mama sengaja membeli buah itu agar kita datang."
"AR!!"
"Iya iya, kita ke rumah mama."
Melihat Dea yang seperti mau marah Arden pun terpaksa menuruti keinginan istrinya itu.
Arden membawa mobilnya menuju rumah utama.
__ADS_1
Tapi meski begitu, Arden akan tetap pada pendirian awal. Bahwa dia tidak mau pindah.