
Puas saling menyesap di dalam mobil, akhirnya Arden dan Dea turun.
"Sayang, kemari sebentar," titah Arden, saat Dea mendekat dia bahkan sedikit menarik tangan istrinya.
"Kenapa?"
"Kancing baju mu masih copot 1."
"Kamu sih buka-buka segala."
Arden terkekeh, dia mengancingkan baju istrinya. Setelah selesai Arden pun menggandeng Dea dan mulai menuju unit apartemen mereka.
Dea masuk dan bibirnya langsung tersenyum, berada di apartemen ini membuatnya merasa nyaman. Suasana yang selalu dia rindukan selama masa pelarian.
Aroma ruangan ini bahkan masih sama seperti sebelum dia pergi. Tidak ada yang berubah sedikitpun.
Saat Dea menghentikan langkahnya di ruang tengah tiba-tiba Arden memeluk pinggangnya dari belakang. Pria ini bahkan langsung mendaratkan dagunya di pundak sang istri.
"Bagaimana bisa Apartemen ini tidak berubah sedikitpun? bahkan kulihat sangat bersih, kamu merawatnya dengan baik," ucap Dea, matanya masih menelisik setiap sudut ruangan, sementara Arden malah asik menghirup aroma tubuh istrinya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, yang bekerja keras untuk merawat Apartemen ini agar tetap sama seperti sebelum kamu pergi adalah Leon."
"Iss!" kesal Dea, dia mencubit tangan suaminya yang melingkar di perut, merasa kesal karena Arden tidak ada romantis-romantisnya.
"Berarti aku harus berterima kasih kepada Leon."
__ADS_1
"Jangan macam-macam, kamu dilarang dekat dengan pria manapun, termasuk Leon."
"Iiss, posesif."
"Terserah."
"Kata terserah itu milik wanita," ledek Dea, tapi Arden tidak peduli, dia terus mengucapkan kata ...
"Terserah."
Mereka berdua terkekeh bersama. Malam ini Arden dan Dea menikmati kebersamaan mereka. Sangat intim dan penuh kehangatan.
Mereka berdua bicara banyak hal, tentang beberapa waktu lalu yang mereka lalui sendiri-sendiri.
Dea sangat tahu bahwa dia menyukai rambutnya panjang.
"Astaga Ar, nanti kan juga panjang lagi sih."
"Tetap saja aku kesal, bahkan kamu menggunakan riasan agar terlihat berbeda."
"Namanya juga kabur."
Arden yang merasa kesal menarik hidung Dea dengan kesal. Lalu memeluk pinggang istrinya agar Dea duduk lebih dekat.
Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah, menyaksikan siaran televisi di jam 9 malam.
__ADS_1
Ada film yang tengah mereka tonton.
"Ar, lihat pria itu, dia membebaskan wanitanya mau seperti apa juga, dia tidak marah," ucap Dea, membicarakan pria pemeran utama di film yang mereka sedang tonton.
"Setiap orang itu berbeda dan aku bukan dia," jawab Arden dengan suaranya yang dingin, tatapannya juga fokus menatap kedepan dan tidak melihat kearah Dea.
Mendapat respon seperti itu Dea mencebik, namun semakin dilihatnya Arden malah semakin terlihat mempesona.
Jika sedang seperti ini rasanya Arden seperti yang dia temui saat pertama kali bertemu, pria dingin yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Bukan pria manja yang bersamanya berapa hari ini.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Arden, matanya melirik sekilas ke arah Dea lalu kembali fokus ke layar kaca. Arden sedang memahami Seperti apa pria yang ada di dalam film itu, dia tidak suka saat Dea memujinya.
"Kamu tidak mengalami kehamilan simpatik lagi?"
"Kenapa memangnya?"
"Sepertinya sikapmu sudah normal."
"Normal itu yang seperti Apa?"
"Seperti ini, dingin, ketus dan menyebalkan!"
"Apa??" saat itu juga Arden langsung menggelitik perut Dea, memberi hukuman karena mengata-ngatai dia. Seketika keduanya tertawa bersama, sementara televisi itu terabaikan begitu saja.
__ADS_1