
Di kantor
Ardan baru saja turun dari mobil mewahnya, bersamaan dengan turunnya seorang laki-laki tampan seumuran dengan nya.
Laki-laki itu berjalan masuk kedalam kantor. Sesampainya di dalam kantor, laki-laki tersebut menuju meja resepsionis.
Ardan yang melihat laki-laki tersebut masuk ke dalam kantornya tidak memperdulikannya.
"Permisi Mba, maaf saya mau tanya" Ucap ramah laki-laki tersebut.
"Iya silahkan Mas" Ucap resepsionis.
"Apa Naira sudah datang?" Tanya laki-laki tersebut.
Ardan yang mendengar nama Naira di sebut seketika menghentikan langkahnya.
"Maaf mas, hari ini Mba Naira gak masuk" Ucap resepsionis.
"Boleh saya tau kenapa dia tidak masuk hari ini" Ucap laki-laki tersebut.
"Mba Naira sedang sakit mas" Ucap resepsionis.
Ardan yang dari tadi hanya mendengarkan saja, kini dia mulai cemas sama halnya dengab laki-laki yang ada di hadapan resepsionis.
"Apa Naira sakit? Kenapa Ayah gak kasih tau aku" Ucap batin Ardan.
"Baiklah, terimakasih ya Mba" Ucap laki-laki tersebut. Dan berlangsung pergi meninggalkan kantor Ardan.
Laki-laki tersebut masuk kedalam dan melajukan mobilnya. Begitupun dengan Ardan.
Laki-laki tersebut datang lebih dulu ke tempat tinggal Naira, dia buru-buru keluar dari mobilnya bersamaan dengan datangnya Ardan. Karena Ardan sering ke rumah Naira dulu, jadi dia mengetahui tempat tinggal Naira.
Laki-laki tersebut berlari menuju rumah Naira, Ardan yang menyadari itu dia buru-buru keluar dari mobilnya, tetapi kalah cepat oleh laki-laki tersebut, laki-laki itu sudah sampai di depan pintu dia mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
"Sebentar" ucap seseorang dari dalam.
Ceklek
Pintu terbuka.
Terlihat seorang gadis cantik membukakan pintu dengan wajah yang pucat, tatapi tidak menghilangkan aura kecantikan nya.
Naira terkejut dengan siapa yang datang pagi-pagi.
"Kakak" ucap lirih Naira.
Dia berhambur ke pelukan kaka Tirinya. Kaka tiri Naira yang bernama Alvin itu pun membalas pelukan dari adiknya dengan sesekali mencium pucuk kepalanya. Ardan yang melihat pemandangan itu, hatinya terbakar api cemburu.
"Ya sudah lebih baik" ucap Naira.
"Ayo masuk ka" ucap Naira.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Ardan yang tidak dapat mendengar apa-apa, dan melihat Naira membawa masuk laki-laki asing ke dalam rumahnya, merasa geram.
Ardan mempercepat langkahnya, setelah sampai di depan pintu rumah Naira, Ardan dengan kerasnya mengetuk pintu rumah Naira.
***Tok tok tok**
Suara ketukan pintu*.
Naira yang baru akan duduk mendengar ketukan pintu merasa heran.
"Siapa ya ka?" tanya Naira.
__ADS_1
"Entahlah coba kau buka dulu" ucap Kaka Tirinya itu.
Ardan yang tidak sabar untuk di bukakan pintu, dengan kerasnya ia menggedor-gedor pintu rumah Naira.
***Brug brug brug**
Gedoran pintu*.
"Iya sebentar, sabar napa" ucap Naira dari dalam rumah.
***Ceklek**
Suara pintu di buka*.
Mata Naira membulat sempurna melihat siapa yang menggedor-gedor pintu rumahnya.
"Ardan" ucap lirih Naira.
Ardan yang masih emosi dan melihat ekspresi Naira yang terkejut melihatnya seketika emosinya tidak bisa di tahan lagi karena, mengira telah mengganggunya.
Naira yang melihat wajah Ardan yang merah padam dengan napas yang memburu.
"Maaf Tuan ada yang bisa saya bantu? Kenapa anda datang kesini? Bukannya saya sudah ijin untuk hari ini?" tanya Naira beruntut.
Ardan yang mendengar kata formal yang keluar dari bibir Naira, seketika emosinya menggebu-gebu, ingin rasanya ardan berteriak. Tetapi ia tahan agar tidak menyinggung Naira dan Naira mungkin akan semakin menjauh. Ardan menghela napas dan membuangnya dengan kasar.
"Iya, saya tahu kamu sudah ijin. Hanya saja saya ingin menjenguk calon istri saya yang sedang sakit" ucap Ardan dengan senyum manis.
"Calon istri?" ucap Naira dengan sedikit bingung.
Belum sempat Ardan menjawab suara Alvin mengalihkan atensi mereka
"Siapa Nai kenapa lama sekali?" tanya Alvin. Sambil berjalan menghampiri mereka.
__ADS_1