Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#7


__ADS_3

Naira terus menangis, mencurahkan isi hatinya yang terpendam selama 17 tahun. Bibi memeluk Naira, merasakan apa yang keponakannya rasakan.


Paman terus menatap dari luar kamar tidak ada niat untuk masuk, karena jika dia masuk maka keponakannya itu tidak akan leluasa mencurahkan isi hatinya. Seketika Paman meneteskan air matanya, mengingat semua kejadian yang menimpa keponakannya.


Flashback


Naira kecil menangis, ketika melihat Ibu dan Ayahnya terus bertengkar.


"Apa Mas, kamu mau bilang apa lagi? Kamu mau bilang jika wanita itu bukan simpanan kamu ya Mas?? Jawab aku mas!!" Pekik Lina Ibu Naira.


"Aku minta maaf aku tau aku salah, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan dia, dia sedang mengandung" Ucap Hadi Ayah Naira.


"Sudah berapa lama?" Tanya Lina, dengan dingin.


"Satu tahun" Ucap Hadi.


"Heh.... Kamu tau mas kamu pandai sekali menyembunyikannya. Aku mau kita pisah" Ucap Lina.


"Maaf, jika itu yang kamu mau maka aku akan menurutinya" Ucap Hadi.


"Baik" Ucap Lina.


"Naira kita pergi ya dari sini" Ucap Lina dengan lembut.


"Tapi Naira mau sama Ayah Ma Naira gak mau ikut Mama" Ucap Naira karena dia lebih sering bersama ayahnya dari pada ibunya.


"Naira tau Ayah sekarang sudah mempunyai keluarga baru jadi Naira gak boleh nakal ya sayang, Naira cukup nurut saja sama Mama ya nak" Ucap Lina memberikan pengertian.


"Tapi Naira gak mau Ma" Ucap Naira.


"Naira dengarkan Mama kamu gak boleh bertemu dengan Ayah kamu lagi ingat itu!" Ucap Lina, sambil menyeret Putri bungsunya, Naira meronta-ronta memanggil nama Ayahnya.


"Ayah tolong Naira ayah.... huuuu....huuu...Naira janji gak bakal nyusahin Ayah tapi Naira mohon Naira pengen sama Ayah" Ucap Naira menangis sejadi-jadinya.


Hadi yang melihat itu hanya terdiam, sungguh rasa penyesalannya melebihi apa pun, melihat putri kecil kesayangannya pergi.

__ADS_1


"Ma Naira gak mau Ma" Naira menangis sejadi-jadinya.


"Diam Naira, diam Mama itu pusing tau gak kalo ngedengerin kamu nangis terus" Ucap Lina mulai emosi.


"Tapi Naira pengen ke Ayah Ma, Naira kangen Ma" Ucap Naira.


"Assalamualaikum" Ucap Lina.


"Wa'alaikumsalam, Ehhh Mba ya ampun kenapa malam malam datang ke sini, masuk mba" Ucap Bi Siti.


"Iya, makasih Siti aku cuman mau titip Naira aja" Ucap Lina.


"Loh emang kenapa Mba" Ucap Bi Siti.


"Nanti aku ceritakan, sekarang aku harus pergi dan satu lagi jangan ajak dia menemui Ayahnya" Ucap Lina.


"Iya, Mba" Ucap Siti.


"Aku pergi dulu ya" Lina pun meninggalkan Naira dengan Siti.


"Naira masuk yuk sayang di luar dingin" Ucap Siti.


"Iya, sayang besok kita menemui Ayah ya, sekarang udah malam, ayo masuk dulu" Ucap Siti.


Mereka masuk kedalam, karena Naira sudah sering menginap di rumah Paman dan Bibinya jadi Naira mempunyai kamar sendiri.


"Tapi Bibi janjikan kalo besok Naira bisa ke temu Ayah" Ucap Naira.


"Iya , Sayang" Jawab Bibi.


Singkat cerita Ibu dan Ayah Naira bercerai. Ibu dan Ayahnya hanya fokus pada kehidupan pribadinya dan Naira tetap tinggal bersama Paman dan Bibinya.


Hingga suatu hari Ibunya menikah lagi. Dan Ayah tiri Naira tidak ingin Naira tinggal bersama dengannya. Tidak lama setelah menikah Ibu Naira melahirkan seorang anak perempuan.


Waktu terus berlalu Ibu Naira tidak pernah lagi menjenguk Naira, Naira pun semakin menjauh dari Ibunya. Karena hasutan dari keluarga barunya Ibu Naira sedikit demi sedikit membenci Naira.

__ADS_1


Semenjak saat itu Naira tidak pernah bertemu dengan Ayahnya dan jarang berkomunikasi dengan Ibunya.


Flashback off


Naira terus sesegukan hingga lama kelamaan dia tertidur dalam dekapan Bibinya mungkin karena lelah menangis.


Paman menghampiri istri dan keponakannya. Paman mengelus sayang kepala keponakan yang telah dia rawat sejak umur 8 tahun itu, sekarang gadis kecil kesayangannya itu telah tumbuh menjadi gadis yang manis, pintar, dan ramah.


"Apa kau memendam semuanya sendirian selama 17 tahun lebih, jika saja Paman tau semenderita itu kamu Paman tidak akan pernah menyuruh mu untuk menemui Ibumu" Ucap Paman.


"Sudahlah sebaiknya kita keluar dia sudah tenang biarkan dia istirahat" Ucap Bibi.


Paman dan Bibi keluar dari kamar Naira.


Sekitar tengah malam Naira demam tinggi, dan terus mengigau menyebutkan nama Ibunya.


Kebetulan saat Bibi akan mengambil air minum ke dapur, Bibi mendengar suara dari arah kamar keponakannya.


Bi Siti membuka handle pintu, dia melihat keponakannya tidur dengan gelisah.


"Ngak..gak, Naira gak mau, hiks.. hiks..., Ayah tolong Naira" Igawan Naira.


"Nai, Naira bangun sayang" Ucap Bibi dengan sedikit menggoyangkan tubuh Naira dan menyibakan anak rambut yang menutupi wajahnya.


"Astaga, kamu demam sayang" Gumam Bibi.


Bibi bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat dan juga kompres, setelah mengambil semua Bibi kembali ke kamar Naira.


Sesampainya di Kamar Naira, Naira masih saja mengigau.


Bibi mulai mengompres Naira, hingga suhu tubuh Naira benar bebar turun. Bibi memperhatikan wajah damai Naira, ada rasa iba dalam hatinya, terkadang ada dalam pikiran jika orang tuanya terlalu egois.


.


.

__ADS_1


.


Makasih buat kaka yang udah mampir, Maaf kalo masih banyak typo, tolong di koreksi aja nanti insyaallah diperbaiki, karena Intan juga masih pemula masih sama sama belajar. Jangan lupa like, comen, vote, dan kasih rate ya 😊😊😊


__ADS_2