
Sudah satu bulan lebih Ardan menjabat menjadi CEO di perusahaan milik Ayahnya, dan semenjak dia berkunjung ke rumah Naira tempo hari hubungannya dengan Naira menjadi sedikit lebih baik, walau sering di kacangin oleh Naira.
Karena hari ini akhir pekan Ardan akan mengajak Naira jalan-jalan.
Ardan menuruni tangga dengan tersenyum senyum sendiri ntah apa yang dia pikirkan.
"Bun, Ayah sama Clara mana?" tanya Ardan.
"Kalau Ayah ada lagi main catur sama Om,
kalau Clara tadi bilang sich mau ngerjain tugas bareng temannya" ucap Bunda.
"Ooh, apa mereka sudah sarapan?" tanya Ardan lagi.
"Sudahlah Ardan, emang kamu gak liat ini jam berapa?" ucap Bunda.
"Gak, emang ini jam berapa sich ini pasti masih pagi ya kan?" tanya Ardan dengan melahap nasi goreng di depannya.
"Astaghfirullah Ardan, matahari udah naik kamu bilang masih pagi, ini udah jam sebelas Ardan" ucap Bunda kesal.
"Masa sih Bun, ko Ardan gak sadar ya, padahal tadi niatnya abis solat subuh mau tidur sebentar tau-tau nya ke bablasan" ucap Ardan dengen cengirannya.
"Makannya kalau habis sholat itu jangan tidur lagi" ucap Bunda.
"Ya maaf Bunda" ucap Ardan.
"Tapi ngomong-ngomong kamu udah rapi gini mau kemana?" tanya Bunda.
"Mau ngajak jalan Naira" ucap Ardan dengan tersenyum sumringah.
"Emang Naira nya mau?" tanya Bunda dengan tersenyum meledek.
"Ya pasti mau lah, masa jalan sama orang ganteng gak mau" ucap Ardan dengan narsisnya.
"Iya terserah kamu aja" ucap Bunda, gak mau ngeladenin anaknya yang super duper narsis
"Tapi tunggu deh Bunda, gimana ya kalo Naira gak mau akau ajak jalan? Tapi kayanya gak mungkin deh kalo dia gak mau di ajak jalan sama aku secara gitu aku ini kan orangnya ganteng, pinter, udah deh calsu (calon suami ) idaman" ucap Ardan dengan pedenya.
"Astaghfirullah Ardan kamu itu sebenarnya anak siapa sich, narsisnya gak ketulungan? Perasaan dulu bunda gak ngidam yang aneh-aneh tapi ko jadinya kaya gini ya" ucap Bunda heran dengan anaknya yang narsis akut.
"Ya anak Bundalah, masa anak kambing" ucap Ardan.
"Emang kamu mau jadi anak kambing?" tanya Bunda.
"Nggak" jawab Ardan singkat.
"Ya sudahlah kapan kamu selesainya jika terus bicara sama Bunda. Nanti kalo udah selesai piring kotornya langsung ke dapurin biar sekalian nanti di cuciin sama bibi" titah Bunda.
__ADS_1
"Iya Bunda" jawab Ardan dan melanjutkan acara makannya yang tertunda tadi karena perdebatan dengan Bundanya.
Setelah makan Ardan langsung menuju rumah Naira.
Kini Ardan telah sampai di depan rumah Naira, dia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, setelah itu dia berjalan keluar menuju pintu rumah Naira.
***Tok tok tok**
Suara ketukan pintu*.
"Assalamualaikum" ucap Ardan.
"Wa'alaikumsalam, sebentar" ucap Bibi dari dalam rumah.
***Ckelek**
Suara pintu di buka*.
Seketika mata Bi Siti membulat sempurna melihat siapa yang datang ke rumahnya setelah sekian lama tidak berkunjung.
"Eh... Nak Ardan. Sudah lama gak kemari, apa kabar? Ngomong-ngomong kemana aja gak pernah kemari?" Tanya Bi Siti, karena memang Bi Siti tidak mengetahui apa yang terjadi antara Naira dan Ardan.
"Alhamdulilah kabar Ardan baik. Kebetulan Ardan baru pulang dari luar negeri" ucap Ardan sambil mencium punggung tangan Bi Siti.
"Ooh... Iya, ya sudah masuk dulu" ucap Bi Siti.
"Iya makasih Tan" ucap Ardan.
"Tante panggil Naira dulu ya" Imbuhnya lagi.
Ardan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
***Tok tok tok**
Suara ketukan pintu*.
"Nai, apa kamu di dalam?" tanya Bi Siti dari luar kamar.
"Iya sebentar, Bi" ucap Najra dari dalam.
***Ckelek**
Pintu kamar Naira terbuka*.
Terlihat Naira keluar kamar dengan baju rumahan.
"Iya ada apa Bi?" tanya Naira.
__ADS_1
"Itu Nai ada Ardan" ucap Bibi dengan tersenyum.
"Ooh... Ada apa dia kesini?" tanya Naira.
"Gak tau Bibi gak nanya, mungkin mau ketemu kamu kali" ucap Bibi.
"Ya sudah Naira temui dulu" ucap Naira.
"Iya Bibi akan buatkan minum dulu" ucap Bi Siti, sambil melangkah pergi.
"Tidak usah Bi, biar Naira aja" ucap Naira menggantikan langkah Bi Siti.
"Ya sudah" ucap Bi Siti.
Naira berjalan kearah dapur membuatkan minuman Ardan. Setelah selesai Naira melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dimana Ardan berada saat ini.
Ardan yang melihat kedatangan Naira seketika mengembangkan senyumannya.
"Silahkan, diminum Pak" ucap Naira dengan menyuguhkan teh hangat buatannya.
"Ada keperluan apa ya anda sampai repot-repot datang kemari?" tanya Naira.
"Nai, aku datang kesini mau ngajak kamu jalan ke taman. Kamu mau kan?" ucap Ardan dengan tersenyum manis.
"Maaf saya sibuk" ucap Naira acuh.
Ardan yang sudah biasa dengan sikap Naira yang akan acuh kepadanya jika tidak menyangkut masalah kantor.
"Emang kamu sibuk ngapain sih? Perasaan kerjaan di kantor gak numpuk" ujar Ardan.
"Aku sibuk pokoknya, kamu gak perlu tahu" ucap Naira.
"Tapi aku pengennya tempe bukan tahu" ucap Ardan dengan muka yang di polos polosin
Sungguh demi apapun Naira ingin sekali menoyor laki-laki yang ada dihadapannya, dia sungguh kesal sekali dengan laki-laki itu.
"Bapak tau kalo teh itu panas?" ucap Naira dengan senyum yang dipaksakan, untuk menahan amarahnya.
"Nggak kan aku belum minum" ucap Ardan dengan polosnya.
"Mau coba gak di sirem sama teh panas yang airnya mendidih? Kalo mau saya dengan senang hati akan menyiramkannya" ucap Naira yang geram dengan Ardan.
"Tapi sayangnya aku gak mau tuh" ucap Ardan dengan tersenyum.
"Padahal saya lagi ingin nindas orang loh, Pak" ucap Naira.
.
__ADS_1
.
Makasih buat kaka yang udah mampir, Maaf kalo masih banyak typo, tolong di koreksi aja nanti insyaallah diperbaiki, karena Intan juga masih pemula masih sama sama belajar. Jangan lupa like, comen, vote, dan kasih rate bintang lima ya 😊😊😊