
"Dan setelah kamu pergi ke luar negeri, aku merasa kamu meninggalkan aku karena dia" ucap Naira sambil mengingat masa lalu.
Flashback
"Nai" panggil Ardan di sela-sela mengendarai mobilnya.
"Hmm" Naira menjawab hanya dengan deheman, karena sibuk dengan benda pipih nya.
"Kamu denger aku dulu Nai, baru kamu fokus ke hp lagi" ucap Ardan kesal.
"Iya, iya ,ini aku simpen hp nya" ucap Naira sambil memasukkan hp ke dalam tas nya.
"Jadi gini orang tua aku pengen ketemu sama kamu" ucap Ardan.
"Terus?"
"Jadi nanti malam kamu dandan yang cantik, soalnya aku mau ngajak kamu ke suatu tempat abis itu baru kita ketemu orang tua aku" ucap Ardan.
"Tapi orang tua kamu gak bakal ngelarang kita buat pacaran kan maksud aku, aku takut orang tua kamu...." belum sempat Naira menyelesaikan ucapannya Ardan sudah menyela nya.
"Ssstttt udah ok, orang tua aku itu baik dia gak bakal makan kamu hidup hidup, mereka juga gak mandang kondisi kamu kaya gimana yang penting bagi mereka itu kamu mau nerima aku apa adanya itu aja" ucap Ardan menenangkan.
"Hmm tapi kamu bisa jamin kan" ucap Naira ragu, karena dia sadar gak seharusnya dia bersanding dengan Ardan yang notabenya orang kaya.
"Aku jamin sayang" ucap Ardan dengan cengiran has nya, Naira hanya memicingkan mata nya saja.
Malam pun tiba.
Ardan menunggu Naira di depan teras, sebelumnya Ardan telah meminta ijin kepada Paman dan Bibi.
Naira keluar dengan anggun rambut yang di gerai begitu saja dan gaun berwarna oranye yang menampilkan bentuk tubuh yang ideal.
Ardan yang melihat itu hanya terbengong, karena Ardan gak pernah melihat dandan secantik ini.
"Ekhem, Ardan kamu baik baik aja kan?" tanya Naira yang melihat Ardan hanya bengong aja.
"I-i- iya aku baik baik aja, cuman..." belum sempat Ardan menyelesaikan ucapannya Naira langsung menyelanya.
"Aku jelek ya? pasti ini gara gara aku pake make up iya kan? Atau make up nya gak rapi? Atau..." ucap Naira heboh, Ardan Pusing sekali mendengar ocehan dari Naira.
__ADS_1
"Kamu cantik ko" ucap Ardan dengan tersenyum.
"Kamu pasti bohongkan?" ucap Naira sambil menatap tajam ke arah Ardan, Ardan hanya menelan ludahnya.
"Aku serius Nai, aku gak berani Bohong sama kamu" ucap Ardan meyakinkan.
"Hmm, ya udah ayo kapan berangkat nya kalo terus debat" ucap Naira.
"Iya, udah gak sabar ya pengen ketemu camer" ucap Ardan menggoda.
"Ngg- nggak ko biasa aja" jawab Naira dengan pipi yang sudah merah bak kepiting rebus.
"Masa? Terus kenapa itu pipinya kok merah" tanya Ardan lagi dengan kekehan kecil.
"Ardan kalo kamu terus goda aku, aku gak bakal mau pergi" ucap Naira yang sudah kesal.
"Iya, gak bakal deh tuan putri" ucap Ardan.
"Ardan.." ucap Naira geram.
"Iya sayang" ucap Ardan. Demi apa pun Naira jijik mendengar kata kata sayang. ( author nulis sambil ketawa-ketawa, padahal dalam hati sad karena gak punya pasangan, sedangkan ardan ama Naira mau malming lah intan jangan kan malming intan mah hari hari biasa aja cmn rebahan sambil nyemil😫, maaf jadi curhat).
"Aku gak mau jadi pergi" ucap Naira dengan wajah yang sudah di tekuk.
"Aku janji gak bakal goda kamu lagi" tambah nya.
"Hmm"
"Ya udah ayo masuk ke dalam mobil" ucap Ardan dengan tersenyum.
"Untung gue sayang coba kalo gak sayang udah gw ceburin lu" grutu Ardan yang masih bisa di denger sama Naira.
"Coba bilang sskali lagi yang kenceng" ucap Naira sambil melotot.
"Bilang apa sayang?"alibi Ardan.
"Aku gak bilang apa apa ko" tambahnya lagi.
"Bohong dosa tanggung sendiri" ucap Naira.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau bagi dosa kalo kamu mau aku dengan senang hati ngasihnya juga" gerutu Ardan.
"Aku denger Ardan" ucap Naira.
"Iya maaf" ucap Ardan.
Ardan menutup pintu mobil lalu berlari kecil memutari jok kemudi. Dia mulai menyalakan mesin mobil lalu mengendarai mobil nya membelah jalanan ibu kota.
"Ardan sebenernya kita mau kemana?" tanya Naira.
"Rahasia pokoknya nanti kamu bakalan tau"
"Tapi kayanya aku tau ini arah jalan kemana" ucap Naira sambil menatap Ardan.
"Iya kamu bener kita bakal ketempat itu" ucap Ardan.
"Emang mau ngapain sih, ini kan udah malem, kamu gak takut kalau disana sepi gimana?" ucap Naira.
"Gak bakal disana bakalan rame, jadi kamu tenang ok" ucap Ardan.
"Oke" jawab Naira tapi dengan wajah yang cemas.
Naira dan Ardan telah sampai di tempat yang sudah di rencanakan Ardan. Disana nampak hanya beberapa orang lalu lalang, karena hari sudah gelap, Ardan membawa Naira ke tempat yang sudah di hias dengan begitu indah,disana ada tempat dua tempat duduk yang dipisahkan oleh satu meja karena memang Ardan yang memilih dan di hadapan mereka ada Danau yang juga di hias dengan begitu indah, lampu yang menyala memenuhi setiap sudut taman, ya tempat itu adalah taman dimana mereka pertama kali bertemu.
Lalu Ardan menarikan kursi untuk Naira duduk, Setelah Naira duduk barulah Ardan duduk pula.
Di depan mereka sudah terhidang makanan dan minuman kesukaan Naira, yaitu stik dan jus alpukat.
Ardan memberi isyarat agar Naira memakan makanan yang telah ia siap kan. Naira yang mengerti dengan apa yang Ardan isyarat dia pun mulai memakan makanannya.
Setelah makan Ardan memulai pembicaraan nya.
"Nai" panggil Ardan sambil memegang tangan Naira. Naira yang sedang melihat ke arah Danau sedikit terkejut lalu mengadakan wajahnya ke depan lebih tepatnya kearah Ardan, lalu menjawabnya dengan senyuman yang begitu manis.
"Nai, di tempat ini kita bertemu dan di tempat ini juga kita memulai hubungan kita jadi aku ingin di tempat ini juga aku ingin hubungan kita melangkah ke jenjang berikutnya" ucap Ardan sambil menatap tepat pada manik mata Naira.
Naira masih terdiam, dia masih ingin mendengar ucapan Ardan selanjutnya.
"Karena aku sudah merasa cukup mengenal kamu aku ingin meminang kamu dengan ikatan yang suci dengan cara menghalalkan mu dan menyempurnakan segala kekurangan ku, aku sadar aku bukan laki-laki yang sempurna tapi aku ingin menjadi laki-laki yang paling beruntung karena telah memiliki kamu" ucap Ardan.
__ADS_1
Lalu dia berjongkok dihadapan Naira, Naira sungguh terkejut dengan perlakuan Ardan yabg berjongkok dihadapan nya. Lalu berkata...
"Will you marry me?" ucap Ardan. Naira sungguh terharu, tanpa sadar dia meneteskan air mata bahagia nya. Ketika Naira akan menjawab tiba-tiba