
Hari Senin adalah hari dimana setiap orang mengawali harinya, Begitupun Ardan dan Naira.
Seperti biasa Naira pergi ke kantor dengan memesan ojol, kini dia berada tepat dihalaman bangunan yang menjulang tinggi. Dia memasuki lobby kantor dengan senyum yang melekat di bibirnya. Dia menyapa setiap orang yang dia lewati. Ketika dia akan memasuki lift, Ardan terlihat baru saja tiba dan langsung menarik tangan Naira lalu masuk ke dalam lift khusus Presdir.
"Aw, sakit apa yang kamu lakukan Ardan?" ucap Naira.
"Kamu..." ucap Naira sambil menunjuk Ardan.
"Apa? Aku hanya ingin kamu naik lift yang sama dengan aku itu aja" ucap Ardan tanpa melepas genggamannya. Semua karyawan yang melihat itu di buat tidak percaya bagaimana bisa CEO baru mereka menarik tangan sekertarisnya di depan banyak orang.
"Tapi tidak usah tarik-tarikan, kamu bisa bilang kamu ikut aku, jangan tarik tarik kaya gini, mana nariknya kenceng banget lagi" ucap Naira.
"Kalo aku cuman ngomong doang kamu gak bakal mau aku jamin pasti kamu punya seribu alasan" ucap Ardan.
"Terserah" ucap Naira, lalu keluar dari lift.
.
.
.
.
Tak terasa hari kini sudah pukul lima semua karyawan kantor sudah pulang, begitupun dengan Naira, dia berjalan melewati lobby kantor dan memasang senyum manis.
"Mba Naira" panggil resepsionis, Naira menghentikan langkahnya dan menoleh. Resepsionis tersebut menghampiri Naira.
"Mba sama Pak Ardan pacaran ya?" tanya resepsionis tersebut yang bernama Laras.
"Nggak emang kenapa?" ucap Naira dengan santai.
"Eleh mba bohong kan? Kemaren aja aku liat Mba jalan sama Pak Ardan ke taman ya kan ngaku loh Mba" ucap Laras
"Nggak aku gak pacaran sama Pak Ardan, nih ya lagian buat apa aku bohong" ucap Naira sambil terus berjalan.
"Ooh, tapi Mba sama Pak Ardan cocok tau Mba yang satu ganteng yang satu cantik, nikmat mana yang kau dustakan Mba" ucap Laras.
__ADS_1
"Ya udah kamu aja yang sama Pak Ardan, kan tadi kata kamu Pak Ardan ganteng" ucap Naira sambil tersenyum.
"Mending kalo Pak Ardannya mau kalo gak mau malu aku Mba" ucap Laras. Naira hanya tersenyum. Mereka terus berbincang-bincang hingga ojol pesanan Laras tiba.
" Mba ajol pesana aku udah dateng, aku duluan ya, bye~ Mba" ucap Laras.
"Ia, bye" ucap Naira sambil melambaikan tangannya
"Kenapa lama banget ya abang-abang ojolnya?" gerutu Naira.
Ardan yang melihat Naira masih ada di kantor dan blm pulang pun menghampirinya.
"Kenapa belum pulang?" tanya Ardan yang datang secara tiba-tiba.
"Astaghfirullah, kenapa datang tiba-tiba" ucap Naira yang kaget karena Ardan datang secara mendadak.
"Hehe maaf" ucap Ardan sambil menggaruk tengkuknya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku loh" ucap Ardan.
"Aku antar pulang aja ya"
"Gak usah Pak itu Abang ojolnya udah dateng" ucap naira sambil tersenyum.
"Atas Nama Mba Naira" ucap Abang ojol.
"Iya saya mas" ucap Naira.
"Ini Mba helmnya" ucap Abang ojol sambil menyodorkan helmnya.
"Pak saya duluan" ucap Naira.
"Iya silahkan" ucap Ardan memaksakan untuk tersenyum.
"Huft" Ardan mengeluarkan napasnya secara kasar.
.
__ADS_1
.
.
.
Naira telah sampai didepan rumah bibinya.
"Assalamualaikum" ucap salam Naira.
"Wa'alaikumsalam" ucap semua orang yang ada di ruang tamu.
Naira merasa heran tidak biasanya Ibu dan ayah tirinya itu datang kerumah Bibinya.
"Sini nak, duduk" ucap Lina ibu Naira.
Naira masih bingung dengan sikap ibunya yang tiba-tiba baik, tidak seperti biasanya. Karena tidak mau ambil pusing, Naira duduk di sebelah bibinya.
"Gimana kabar kamu?" tanya lina sedikit basa-basi.
"Alhamdulilah baik Mah" ucap Naira sambil tersenyum.
"Mamah kesini mau minta tolong sama kamu" ucap Lina.
"Mau minta tolong apa mah?" tanya Naira.
"Mamah mau kamu..."
.
.
.
Wajib like, comen, vote, sama bintang lima ya!
Ingat wajib!
__ADS_1