
"Tapi apa perlu dia bilang kaya gitu." ucap Naira masih sesegukan.
Siti membawa Naira untuk duduk di sofa yang ada di hadapannya, Naira terus menangis sampai tak terasa dia tertidur dalam dekapan Siti.
💮💮💮
Pagi hari Naira terbangun, kepalanya terasa berat mungkin effek dia menangis semalaman dan banyak pikiran. Dia mencoba membuka matanya dan berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri dia bercermin di meja riasnya, ia melihat pantulan dirinya mata yang bengkak, dan bibir yang sedikit pucat.
"Astaga, kenapa mataku seperti ini, bisa jadi bahan ledekan satu kantor." Ucap Naira yang terlihat frustasi. Dia sedikit menutupi bagian yang terlihat menyedihkan dengan polesan makeup nya. ( maaf intan nggk tau namanya apa jadi intinya dia pake makeup aja😂)
Dia keluar dari kamarnya dan menyapa semua orang yang sudah berada di meja makan.
"Pagi semua." Ucap Naira sambil mengecup pipi Siti.
"Pagi Sayang." Ucap Bi Siti dan Paman Reno.
"Hahahaha..... Kakak ada apa dengan mata mu, astaga kakak seperti,,,, hahahha." ucap Ardi tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Diam kamu."
"Tapi lihat mata kakak, kakak tau kakak seperti Spongebob Squarepants yang matanya bengkak gara gara buka tutup odol."
Paman Reno dan Bi Siti tidak bisa lagi menahan tawanya akibat perkataan Ardi, Naira yang kesal menghentak kakinya ke lantai.
"Apa apaan kalian ini, berhenti menertawai ku."ucap Naira yang sudah kesal.
"Baiklah baiklah Ardi hentikan nak, lihat kakakmu bibirnya sudah seperti bebek." Ucap Paman Reno menimpali.
"Bibi lihat Paman dan Ardi." Ucap Naira merengek kepada Bi Siti.
"Sudah sudah nanti ada yang nangis dan tidak berangkat kerja, jika tidak berangkat kerja berarti tidak akan bertemu dengan CEO tampannya." Kini Bi Siti ikut meledek Naira, mereka sangat suka Naira yang bersikap seperti ini dari pada seperti kemarin yang suka sekali murung.
"Aishhh, kalian ini, ngomong ngomong bibi masak apa? Naira lapar sekali." Ucapnya dengan cengirannya.
"Bibi masak nasi goreng kesukaan kamu." Ucap Bi Siti dengan tersenyum.
"Sekarang makan, ouh iya Ardi hari ini kamu liburkan?"
"Iyah memangnya kenapa Mah?"
"Antar mamah belanja yah."
"Kenapa tidak dengan Ayah?" Ucap Ardi melayangkan protes
"Ayah sudah makannya, Ayah berangkat." Ucap paman Reno.
"Nikmatilah kebersamaan kalian, ayah berangkat." ucap Paman Reno meledek anaknya itu, lalu pergi sebelum dapat pelototan dari istrinya.
"Ekhem, Naira rasa Naira juga sudah hampir terlambat Naira juga pamit yah." Ucap Naira lalu mengecup pipi Bi Siti, sebelum benar-benar keluar Naira memeletkan lidahnya.
__ADS_1
Mereka tahu jika Bi Siti sudah belanja pasti akan sangat lama belum lagi dia akan menawar dengan harga yang tidak ada dua nya, biasa ibu ibu.
"Aishhh,,, mereka memang tidak setia meninggalkan aku sendiri." Ucap Ardi dengan kesalnya. Bi Siti hanya mengangkat bahunya.
💮💮💮
Naira sampai di lobi kantor, banyak yang menyapa Naira, dan hanya di balas senyuman yang manis dan sedikit angguka.
Sampai di ruangannya Naira melihat ruangan Ardan ternyata Ardan sudah datang.
"Awal sekali dia datang."
Baru saja duduk suara dering telpon kantor sudah mengganggunya.
"Dengan sekretaris Naira, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Naira dengan bahasa formalnya.
"Keruanganku." Satu kata dan langsung ditutup, dari suaranya Naira sudah dapat menebak siapa yang menelponnya.
Tok tok tok
"Masuk." Suara dari balik pintu.
"Permisi Pak ada yang bisa saya bantu." Ucap Naira sambil sedikit tersenyum. Tetapi tak ada jawaban dari Ardan, ia menenggelamkan wajahnya diantara tangannya yang berada di atas meja.
"Pak?" Sekali lagi Naira memanggil Ardan dan tak ada jawaban dari Ardan, Naira yang merasa aneh pun sedikit mendekat, dan menyentuh tangan Ardan, Ardan sedikit mendongakkan wajahnya, terlihat wajahnya yang pucat, dan matanya yang memerah. Naira dengan khawatir ia menyentuh kening Ardan dan badannya demam
"Astaga Ardan kamu demam kenapa masih ke kantor? Aturan kamu itu jangan maksain klo lagi sakit." Ucap Naira.
"Kamu bisa jalan nggak?" Di jawab gelengan oleh Ardan.
"Kamu tunggu sini dulu yah, aku mau ambil air kompress sama obat dulu." Lagi-lagi Ardan hanya mengangguk.
Naira kembali dengan dengan air kompress dan kain ada di tas Naira, tidak lupa obat juga.
"Kamu minum obat dulu yah. Setelah itu kamu pindah ke ruang pribadi!" Titah Naira. Lalu menyodorkan obat kehadapan Ardan, yang mendapat gelengan dari Ardan.
"Ayo dong masa kamu nggk mau minum obat, minum dulu yah obat nya biar agak mendingan." Ucap Naira yang hafal kalo Ardan susah sekali minum obat.
"Aku minum obat tapi kamu temenin aku yah." Ucap Ardan.
"Iyah aku temenin." Ucap Naira lalu menyodorkan obatnya, dan diambil oleh Ardan lalu meminum obat tersebut.
"Ish pait nggak ada apa obat yang manis." Protesnya.
"Mau pindah ke ruang pribadi?" tanya Naira. Ardan mengangguk.
Naira membopong tubuh Ardan lagi dengan susah payah karena tubuhnya yang lebih kecil di bandingkan dengan Ardan. Setelaj sampai di ruang pribadi atau bisa di bilang kamar.
Ardan di baringkan di kasur, Naira dengan telaten membuka sepatu Ardan dan menyelimutinya, lalu mengambil air kompress dan Naira juga yang mengompres Ardan, sampai Ardan tertidur, Setelah merasa Ardan lebih baik Naira beranjak dari duduknya. Tapi tangannya lebih dulu di cekal.
"Katanya janji mau temenin aku." Ucap Ardan dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Iyah tapi aku harus kosongin dulu jadwal kamu sama mau liat berkas berkas penting nanti aku kembali ke sini lagi kok." Ucap Naira memberi sedikit pengertian.
"Nggk kamu pasti bohong kan, nanti kamu nggak kembali kesini." Ucap Ardan.
"Aku janji Ardan." Ucap Naira.
"Enggak kamu bawa laptopnya kesini aja nanti kamu nggak kembali," Ardan persis seperti anak kecil yang merengek kepada ibunya.
"Huft,,, Astaga kenapa kamu jadi Childs banget, ya udh tunggu sebentar." Ucap Naira.
"Awas kalo kamu nggak kembali aku susul kamu."
"Iya..."
Naira kembali ke ruangannya dan membatalkan semua rapat, setelah merasa beres dia duduk di kursinya dan memeriksa berkas-berkas penting.
Brak
Suara pintu di buka dengan kencang.
Naira terperanjat, lalu melihat siapa yang membuka pintunya.
"Katanya sebentar taunya sampai setengah jam nggak "
"Ouh iya lupa." Ucap Naira dengan cengirannya.
"Ya udah ayoooo." Ucap Ardan.
"Iyah sebentar yah, bentar tanggung." Ucap Naira.
Ardan yang tidak sabar mengambil semua dokumen dan langsung menyeret Naira ke ruangannya.
"Aduh,, duh sabar napa bang."
Tidak ada jawaban dari Ardan.
Setelah sampai di ruangan pribadinya, Naira menyuruh Ardan untuk istirahat,
"Ya udh kamu tiduran disana badan kamu masih demam, aku duduk sini."
Ardan merebahkan dirinya di kasur.
"Usap usap nayy."
.
.
.
.
__ADS_1
**Hallo semua maaf intan udh lama nggk up, insyaallah akan rajin up, klo misalnya kondisi aku mendukung 🙏
jangan lupa like komen nya**