Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#13


__ADS_3

"Bapak tau kalo teh itu panas?" ucap Naira dengan senyum yang dipaksakan, untuk menahan amarahnya.


"Nggak kan aku belum minum" ucap Ardan dengan polosnya.


"Mau coba gak di sirem sama teh panas yang airnya mendidih? Kalo mau saya dengan senang hati akan menyiramkannya" ucap Naira yang geram dengan Ardan.


"Tapi sayangnya aku gak mau tuh" ucap Ardan dengan tersenyum.


"Padahal saya lagi ingin nindas orang loh, Pak" ucap Naira.


Belum sempat Ardan menjawabnya sudah di potong oleh ucapan Bibi yang baru saja datang.


"Kalian kapan perginya jika terus menerus berdebat untuk hal yang tidak penting" ucap Bibi.


"Tapi Bi... Naira sedang sibuk" ucap Naira.


"Memang kau sibuk apa? Setau Bibi kau hari ini tidak ada janji kan?" ucap Bibi.


"A- ad- ada ko Bi" ucap Naira gugup.


Ardan yang melihat itu terkekeh geli.


"Sama siapa?" tanya Bibi.


"A- ada ko sama itu...ehh.. itu... loh... bi... sama..." ucap Naira makin gugup.


Ardan tersenyum kecil melihat kelakuan Naira dia tahu kalau Naira itu gak pandai berbohong.


"Udah gak usah banyak alasan, Bibi tahu kalau kamu lagi coba buat berbohong kan?" ucap Bibi.


"Ta-tapi Bi..." rengek Naira.


"Udah gak usah banyak drama, mending sekarang kamu ganti baju, habis itu kalian pergi!" ucap Bibi dengan penuh tekanan.


"Akhh... males lah Bi..." rengek Naira lagi.


"Naii !!" ucap Bibi dengan tatapan mautnya.


"Huft, iya ini juga mau ganti baju" ucap Naira dengan menghela napasnya.


Ardan tersenyum senang.


"Makasih ya Tan, udah bujukin Naira supaya mau jalan sama Ardan" ucap Ardan dengan tersenyum tulus.


"Iya sama-sama" ucap Bibi.


"Ya sudah Tante mau kebelakang dulu ya" ucap Bibi dengan tersenyum.


Setelah beberapa saat, Naira keluar dari dalam kamarnya.


"Ayo mau berangkat gak?" tanya Naira dengan sedikit ketus.

__ADS_1


"Kamu gak pake make up?" tanya Ardan.


"Lama, kalo gak mau ya udah" ucap Naira. Dan berjalan menuju kamarnya.


"Eh... iya tunggu tunggu, iya gak apa-apa kok kamu tetep cantik walaupun gak pake make up" ucap Ardan.


"Ya udah ayo" ucap Naira.


"Iya ayo" ucap Ardan dengan tersenyum.


"Sabar... Ardan sabar. Untung aku sayang sama kamu Nai coba kalo gak sayang udah aku maki-maki kamu" ucap batin Ardan.


"Kenapa? Mau marah?" ucap Naira sambil memicingkan matanya.


"Nggak ko, mana bisa aku marah sama kamu" ucap Ardan.


Kini mereka telah sampai didepan mobil Ardan.


"Mau ngapain kamu?" tanya Naira.


"Mau bukain pintu mobil buat kamu" ucap Ardan polos.


"Gak usah aku bisa sendiri" ucap Naira.


"Awas!" ucap Naira dengan judesnya.


"Iya ini juga mau minggir" ucap Ardan berusaha sabar.


Ardan yanh bingung harus kemana diapun bertanya kepada Naira.


"Kita mau kemana, Nai?" tanya Ardan.


"Lah kan kamu yang ngajakin aku, aku kira kamu ngajak aku jalan itu udah ada tujuan, gimana sih" ucap Naira kesal.


Ardan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal diiringi dengan cengiran kudanya.


"Ya udah gimana kalo kita ke taman aja, sekarang kan weekend jadi pasti ramai tuh" ucap Ardan.


"Kalo gak kita pulang lagi ajalah" ucap Naira yang masih kesal dengan Ardan.


"Jangan dong Nai, masa udah mau nyampe balik lagi" ucap Ardan melas.


"Aku males kalau gak ada tujuan kita mau kemana" ucap Naira.


"Kan aku bilang kalo kita bakal ke taman" ucap Ardan.


"Ya udahlah dari pada balik lagi nanti kena omel lagi sama Bibi mending ikut aja deh" ucap batin Naira.


"Nai.. gimana?" ucap Ardan yang sedari tadi menunggu jawaban Naira.


"Ya udah deh" ucap Naira.

__ADS_1


Ardan tersenyum senang. Dan melajukan mobilnya ke arah taman. Sesampainya di taman Ardan dan Naira turun. Mereka berjalan berdampingan.


"Kamu inget gak Nai, dulu itu pertama kali kita bertemu itu di taman ini" ucap Ardan.


"Gak" ucap Naira cuek.


"Terus kita jadian juga disini" ucap Ardan gak mau menyerah.


"Emang kita pernah yah sedekat itu?" ucap Naira.


"Kamu lupa? Masa kamu gak ingat?" tanya Ardan.


"Aku gak mau inget-inget masa lalu" ucap Naira ketus.


"Ya udah kalo kamu gak mau inget-inget masa lalu biar aku ingetin" ucap Ardan kekeh.


Dan menceritakan semuanya, dari awal mereka bertemu sampai mereka jadian.


flashback on


Naira sedang berjalan-jalan dan sibuk dengan handphonenya sehingga tidak melihat jalan. Dan tidak sengaja dia menabrak seseorang.


"Aduh" rintih Naira merasa sakit.


"Kamu gak papa?" tanya seseorang.


"Ehh... iya aku gak papa" ucap Naira. Sambil mendongakkan kepalanya, sehingga dia dengan jelas bisa melihat seseorang yang dia tabrak dan ternyata laki-laki.


"Maaf ya, aku gak liat kamu" ucap laki-laki itu. Sambil membantu Naira bangun.


"Harusnya aku yang minta maaf, aku terlalu fokus sama hp jadi gak liat sekitar" ucap Naira dengan tersenyum manis.


Laki-laki itu melihat senyum manis yang keluar dari bibir Naira terpesona dengan senyum manisnya hanya satu kata yang mampu dia ucapkan.


"Cantik" itulah kata yang mampu dia ucapkan.


"Ka.. hello... Kaka" ucap Naira membuyarkan lamunan laki-laki itu


"Eh..iya kenapa?" ucap laki-laki tersebut


"Kaka gak papa?" ucap Naira.


"Iya aku gak papa, oh iya jangan panggil aku Kaka, kenalin aku Ardan" ucap Ardan denga mengulurkan tangannya.


"Ah.. iya Ardan, aku Naira" ucap membalas uluran tangan Ardan.


"Ya udah kalo gitu aku duluan sampai jumpa" ucap Naira dengan senyum manisnya. Lalu beranjak pergi.


"Eh tunggu. Ck udah pergi lagi padahal mau minta nomor telepon nya" ucap Ardan berdecak kesal.


Part ini segini dulu ya nanti EPS selanjutnya masih Flashback jadi jangan bingung dan maaf karena Intan gak bisa up banyak dan sekali lagi Ini Intan minta maaf kalo masih banyak typo atau alurnya gak jelas atau ceritanya garing di mohon untuk mengerti karena disini Intan juga masih pemula masih sama-sama belajar. Makasih buat Kaka yang udah mampir tapi jangan lupa buat like, comen, vote, sama rate bintang ya kaka😊😊.

__ADS_1


__ADS_2