Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#9


__ADS_3

Pagi hari Ardan keluar menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, dia berjalan menuju meja makan dan mengambil selembar roti yang sudah ada di piring.


"Kaka itukan roti aku, ko kaka makan sih" Ucap Clara Gadis berumur empat belas tahun itu.


"Udah sih dek tinggal minta bikinin lagi ke Bunda kaka buru buru" Ucap Ardan sambil meneguk segelas susunya.


"Hmm" Ucap Clara.


"Ardan kalau minum itu sambil duduk jangan sambil berdiri kaya gitu" Oceh Bunda yang bari saja datang bersama dengan Ayah.


"Buru-buru Bunda" Ucap Ardan dengan mulut yang penuh terisi roti.


"Inikan masih pagi, emang kamu mau ke kantor jam segini?" Tanya heran Ayah.


"Iya, Ardan mau jemput calon menantu Ayah, nanti keburu di ambil orang" Ucap Ardan.


"Siapa? Naira?" Tanya Bunda.


"Iyalah Bunda siapa lagi coba" Ucap Ardan.


"Ya udah ya aku pamit" Ucap Ardan.


"Ehhh Ardan tunggu dulu, Ayah mau ngomong soal Naira..." Ucap Ayah menggantungkan karena Ardan sudah pergi.


"Emang kenapa Naira?" Tanya Bunda.


"Ayah itu mau bilang kalau Naira hari ini gak masuk" Ucap Ayah sambil duduk di kursi.


"Loh ko gak masuk, emangnya kenapa Naira gak masuk? Apa jangan-jangan gara gara ada Ardan?" Ucap Bunda menerka nerka.


"Bukan Bundaa, Naira gak masuk itu gak ada hubungannya sama Ardan, dia itu gak masuk karena sakit" Ucap Ayah menjelaskan.

__ADS_1


"Ooh kirain Bunda gara gara ada Ardan" Ucap Bunda cengengesan.


"Yasudah ayo kita makan" Tambah Bunda lagi.


.


.


.


.


DI KEDIAMAN NAIRA


Terlihat Paman baru saja masuk kedalam kamar keponakannya itu, terlihat Bibi yang tertidur sambil duduk dan kedua tangannya dijadikan bantalan.


Paman melihat kearah Naira, yang sedang tertidur dengan kain kompresan berada di diatas dahinya.


"Kamu pasti lapar, maaf aku terlambat bangun" Ucap Bibi.


"Iya tidak apa-apa" Ucap Paman dengan tersenyum tulus.


Bibi beranjak dari duduknya dan mengambil kain yang berada di dahi Naira, dan mengecek suhu tubuh Naira.


"Alhamdulilah demamnya sudah turun" Ucap Bibi.


"Ya sudah sebaiknya kita keluar, takut mengganggu istirahatnya" Ucap Paman yang di angguki oleh Bibi.


Paman dan Bibi keluar dari kamar Naira menuju ke arah dapur.


"Apa semalaman dia demam" Tanya Paman.

__ADS_1


"Iya dia memanggil nama Ayahnya, mungkin dia merindukan ayahnya" Ucap Bibi.


"Iya bagaimana pun juga dia dekat dengan ayahnya, sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu ayahnya" Ucap Paman.


"Nah sudah siap" Ucap Bibi.


"Kamu dan Ardi duluan saja makannya aku mau melihat Naira dahulu" Ucap Bibi.


"Iya sebaiknya kau lihatlah dulu, takutnya dia sudah bangun dan lapar" Ucap Paman.


Bibi mengambilkan makanan untuk Naira dan di simpan di atas nampan menuju kearah kamar Naira.


***Ceklek**


Suara pintu di buka*.


Terlihat Naira sedang bersandar di kepala ranjang, Bibi masuk menghampiri Naira dengan membawa makanan diatas nampan.


"Apa kau sudah lebih baik?" Tanya Bibi.


"Iya sudah Bi, hanya sedikit pusing aja" Ucap Naira.


"Ya sudah kamu gak usah pergi kerja dulu" Ucap Bibi.


"Iya Bi, Naira udah ijin ko" Ucap Naira.


"Ya sudah kamu makan dulu habis itu kamu istirahat" Ucap Bibi.


"Siap Bos" Ucap Naira.


Bibi terkekeh geli melihat tingkah Naira.

__ADS_1


__ADS_2