Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#31


__ADS_3

"Ya udh kamu tiduran disana badan kamu masih demam, aku duduk sini."


Ardan merebahkan dirinya di kasur.


"Usap usap nayy." ucap Ardan, tanpa menjawab Naira mengusap lembut kepala Ardan, tanpa terasa Ardan tidur dengan nyenyak.


Sambil terus mengusap kepala Ardan tangan satu Naira ia gunakan untuk membolak-balik halaman berkas-berkas penting, tanpa terasa tangan satunya malah mengusap bantal, dia tetap fokus pada berkasnya Naira tidak sadar bahwa yang ia elus bukan kepala Ardan tetapi bantal yang Ardan gunakan.


Ardan merasa tidak ada lagi sentuhan lembut dari tangan Naira, lalu membuka sedikit matanya, dan yang Ardan lihat malah Naira mengelus bantal nya, Ardan kesal lalu menarik tangan Naira dengan sedikit kasar yang membuat Naira sedikit terkejut.


"Astaga, kamu ini." Ucap Naira.


"Lagian kamu, suruh ngelus kepala, malah bantal yang kamu elus," Ucapnya dengan sedikit cemberut.


"Huft, ya udah maaf maaf, kamu masih pusing?" Tanya Naira dan di jawab anggukan oleh Ardan.


"Ya udah istirahat dulu aja aku mau beli makan dulu nanti aku kesini lagi," Ucap Naira.


"Delivery aja, aku gak mau jauh dari kamu," Ucap Ardan dengan terkesan alay.


"Apa sih alay tau gak!" Ucap Naira dengan pipi yang sudah merah.


"Gak papa alay sama calon istri ini,"


"Siapa juga yang mau jadi istri situ," Ardan diam tidak menjawab, dan Naira pun fokus kembali pada layar laptop nya.


"Bentar aku kebawah dulu mau ambil makanan yang tadi kita pesen," Ucap Naira


"Jangan lama," Ucap Ardan yang dibalas anggukan oleh Naira.


Naira turun dari lantai atas banyak yang menyapanya dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyum manis, Naira dikenal dengan sekretaris yang ramah dan baik, banyak yang menyukainya tapi hatinya masih dimiliki oleh seseorang.


Setelah mengambil pesanannya dia kembali keruangan Ardan, sebelumnya dia mengambil minum dan piring di pantry, untuk menyajikan makanan nya.


Sampai di ruang Ardan Naira masuk dengan membawa nampan berisi makanan untuk Ardan dan dirinya. Dia bisa melihat Ardan masih tertidur.


"Arr, bangun dulu yu,"

__ADS_1


"Pusing kepala aku Nay," Jawab Ardan dengan sedikit merengek seperti bayi.


"Iya, makannya bangun dulu terus makan," Jawab Naira lembut.


"Tapi pusing Nay, aku mau tidur lagi aja,"


"Bangun dulu, terus makan, setelah makan mau kamu tidur lagi mau kamu jungkir balik atau bahkan salto aku gak bakal larang sekarang makan dulu,"


"Iya, tapi suapin yah," Naira mengangguk, Naira menyuapi Ardan dengan sangat telaten.


"Satu suap lagi, udah,". Ucap Nayra karena Ardan baru beberapa masuk beberapa suap


"Nggak Nay pait gak enak,"


"Satu suap aja yah, setelah itu kamu pulang lebih awal, supaya di rumah kamu dapat istirahat dengan nyaman dan ada yang memperhatikan mu," Ucap Naira, yang merasa khawatir, jika dibilang apakah Naira masih mencintai Ardan? Jawabannya adalah iya, ntah mengapa dia tidak dapat melupakan cinta pertamanya, laki-laki pertama yang dapat membuat jantung Naira berdetak lebih cepat jika di dekatnya.


"kan disini juga ada kamu, kamu juga sama aja jagain aku, itung-itung latihan jadi istri yang baik, sebelum kamu jadi istri aku" Ucap Ardan yang sontak saja membuat rona merah di kedua pipi Naira.


"kok pipi kamu merah sih? Kamu sakit?"


"Dasar gak peka udah tau aku kaya gini gara-gara ucapan dia," batin Naira.


"A...apa sih nggak yah mana ada aku malu, udah nih makan buburnya satu suap lagi, nanti kamu langsung pulang habis makan," ucap Naira tapi tidak di gubris oleh Ardan, Ardan malah mendekat kan dirinya kepada Naira.


"Kamu kalo lagi malu gemes," Bisik Ardan.


"Ardaaaan, kamu lagi sakit aja masih bisa godain aku kaya gitu, ish ngeselin kamu, udah nih makan sendiri aja aku mau keluar,"


Baru beberapa langkah Naira berjalan Ardan sudah mencekal pergelangan tangannya dan menarik nya, membuat dia duduk di pangkuan Ardan, dan Ardan memeluk pinggangnya posesif.


"Arr... jangan kaya gini, aku gak nyaman," Ucap Nayra,(padahal mah dalem hati berbunga-bunga yah gak? siapa sih yang gak mau diperlakukan seperti itu,).


"Kaya gini aja sebentar," Ucap Ardan sambil membenamkan wajahnya pada ceruk leher Naira.


"Nay,"


"Iya,"

__ADS_1


"Kamu cinta gak sama aku,"


"A-ap-apa? Gak kedengaran, Arrr aku mau ke toilet dulu," Gugup Naira.


"Nay, jangan mengalihkan pembicaraan, aku tau kamu bukannya gak dengar, dan aku tau kamu gak mau ketoilet," ujar Ardan.


"Arr, waktu itu aku bilang bukan, aku gak pantas buat kamu, aku terlalu banyak bikin kamu kecewa, hubungan kita kandas juga karena ulah aku, ulah aku yang gak mau dengerin penjelasan kamu, padahal kamu baik mau lindungi aku, tapi dengan gak tau dirinya aku, aku malah...,"


"Udah cukup kamu menyalahkan diri kamu sendiri, kejadian waktu itu kita jadikan pelajaran, disitu kita sama-sama salah, aku yang tertutup dan kamu yang cepat mengambil kesimpulan, oke?"


"Tapi...," belum sempat Naira menyelesaikan ucapannya Ardan sudah lebih dulu membungkam bibir Naira dengan ciuman di pipinya, Naira terkesiap karena Ardan mencium pipinya.


"Aku gak menerima penolakan," Ucapan Ardan membuat Naira tersadar.


"Ardaaaaan, apa yang kamu lakuin tadi?" teriak Naira yang baru sadar apa yang dilakukan Ardan.


"Cium kamu, lagian kamu bawel, jadi aku gak kuat buat gak cium kamu,"


"Ikhhh, tapi jangan cium cium pipi juga," Ucap Naira yang pipinya sudah memerah.


"Terus mau dicium apanya? Bibir? Jangan belum halal," Ucap Ardan yang gencar menggoda Naira.


"Apa sih, kok kamu jadi ngeselin kaya gini sih,"


"Ngeselin apa ngangenin?," Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.


"Kamu kalo terus terusan kaya gini aku keluar yah," Ancam Naira yang sudah malu karena Ardan terus saja menggoda nya, ia yakini pipinya sekarang semerah tomat.


"Udah tuh makan lagi, keburu dingin,"


"Udah akh, makannya gak enak,"


.


.


.

__ADS_1


...assalamualaikum maaf yh intan jarang up malah bisa kehitung yh sebulan sekali intan up, jangan lupa dongg vote nya sama like nya kaka cantik ganteng, biar intan semangat upnya. Kalo semisal typo maaf yh gak intan koreksi lagi soalnya. ...


__ADS_2