
"Udah tuh makan lagi, keburu dingin,"
"Udah akh, makannya gak enak," Naira mengangguk dan membereskan bekas makan Ardan.
"Emmm, kamu mau langsung pulang? Tapi badan kamu masih demam kalo pulang sendiri, aku telpon supir pribadi keluarga kamu yah," Ucap Naira.
"Tapi kamu juga ikut yah," Ucap Ardan dengan memperlihatkan puppy eyes nya agar Naira luluh.
"Aku disini aja, ya," Ucap Naira tersenyum sambil merapikan rambut Ardan. Ardan mengambil tangan Naira lalu disimpannya dipipinya.
"Nggak mau, kamu harus ikut, pokoknya kamu harus ikut Naii," Ardan merengek seperti anak kecil dan memeluk pinggang Naira yang berdiri dihadapannya.
"Aku disini aja yah, masih banyak pekerjaan dikantor," Naira mencoba memberi pengertian.
"Gak boleh kamu ikut aku, kalo kamu disini aku juga disini aja gak mau pulang,"
Naira menghela nafas nya.
"Astaga Ardan kenapa kamu jadi manja kaya gini sih," Ucap batin Naira.
"Emangnya kenapa hmm? Aku harus ikut? Kan disana ada Nyonya yang bisa perhatiin kamu, kalo disini kamu gak ada yang perhatiin, nurut yah kamu pulang,"
"Aku mau pulang sama kamu," Mata Ardan sudah berkaca-kaca.
"Oke kita pulang, tapi aku ngapain dirumah kamu? Mendingkan aku disini aja kerja yh kan?"
"Gak mau kamu ikut aku aja pulang,"
"Iyah aku tanya nanti aku ngapain disana?"
"Yah gak ngapa-ngapain,"
"Nah kalo gak ngapa-ngapain gak ngerjain apa-apa mending aku disini ada kerjaan yah kan?"
"Nanti kamu dirumah aku ada kerjaan kok,"
"Apa?"
__ADS_1
"Temenin aku tidur," Ucap Ardan dengan polosnya.
"Tapi kerjaan disini banyak Ardan,"
"Hiks,,, kamu jahat masa gak mau nemenin aku," Ardan nangis sesenggukan.
"Huftt," Naira menghela napasnya panjang bagaiman bisa CEO yang berwibawa diluar sana sekarang begitu manja kepadanya.
"Oke aku pulang sama kamu sekarang berhenti menangis, aku mau telpon supir kamu dulu," Ardan mengangguk setelah Naira menelpon supir pribadi Ardan dia menyuruh Ardan bersiap-siap, dan dia membereskan berkas berkas yang menumpuk diatas kasur.
"Udah?" Tanya Naira yang dijawab anggukan oleh Ardan.
"Ayo turun, masih pusing gak?" Ardan mengangguk.
Sebenarnya Ardan sudah merasa lebih sehat setelah dia meminum obat dan sedikit beristirahat, tapi Ardan memanfaatkan kesempatan ini untuk bermanja-manja dengan Naira kapan lagi coba di manjain sama Naira pikirnya, (Bisa aja yah ngambil kesempatan nya).
Naira dan Ardan kini telah sampai dikediaman Cakradara.
TOK TOK TOK
"Sebentar," Ucap seseorang dari dalam, lalu tak lama pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Loh, Naira tumben kesini? Mau cari Ardan yah? Emang Ardan gak berangkat ke kantor?" Pertanyaan berentet dari Ratna membuat seseorang berdehem.
"Ekhem," Deheman Ardan membuat Ratna mengalihkan atensinya.
"Loh kamu kenapa pulang awal ? Muka kamu pucat kamu sakit?"
"Bun, Ardan lemes mu istirahat jangan banyak tanya dulu yah,"
"Emmm, Nyonya maaf mengganggu tadi pak Ardan demam, jadi saya bawa pulang tapi sudah minum obat kok," Ucap Naira yang dari tadi hanya memperhatikan dua orang itu.
"Jangan panggil Nyonya panggil Bunda oke," Ucap Ratna sambil menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya. membentuk huruf o.
"Kan bentar lagi jadi mantu bunda," Naira dibuat menganga dengan ibu dari bosnya ini.
Lalu tersenyum canggung.
__ADS_1
"Ya udah ayo masuk, Nai tolong bawa Ardan ke kamar nya yah, bunda mau ke dapur dulu,"
"Iyah Nyo,,,, ekh Bunda maksudnya,"
"Ayo, kamar kamu dimana?" Tanya Naira.
"Dilantai Atas,"
Naira memapah Ardan menuju kamarnya, setalah sampai di depan kamar Naira membuka pintu kamar Ardan dan membantu Ardan merebahkan badannya di kasur king size nya.
Naira melihat dekorasi kamar Ardan yang membuat nya kagum ada lah perpaduan cat dinding berwana hitam dan silver tidak banyak barang yang ada dikamar tersebut hanya sedikit barang, seperti kebanyakan kamar laki laki pada umumnya.
"Kamu gak pegel berdiri terus, mending duduk disini," Ucap Ardan sambil menepuk kasur sebelahnya. Naira duduk disebelah Ardan.
"Kaki kamu naikin,"
"Hah?,"
"Ck, udah nurut aja naikin ke kasur trs selonjoran,"
Naira mengikuti apa yang diminta Ardan lalu Ardan merebahkan kepalanya dipangkuan Naira. Naira mencoba mengangkat kepala Ardan tapi nihil Ardan malah memeluknya semakin erat, lalu Ardan mengambil tangan Naira membawanya keatas kepalanya. Naira yang mengerti apa yang dilakukan Ardan langsung mengusap-usap kepala Ardan.
"Kapan yah Nai, Ardan junior ada diperut kamu," Ucap Ardan sambil membenamkan wajahnya di perut Naira.
"Nikah aja belum udah mikir kesitu," Ucap Naira kesal.
"Geli kamu nya jangan ngedusel dusel gitu,"
"Iyah,"
"Kapan kamu kenalin aku ke orang tua kamu?" Tanya Ardan tiba-tiba.
"Mau ngapain?"
"Yah kan biar kita cepet nikahnya kalo aku gak dikenalin ke orang tua kamu gimana aku mau nikahin kami,"
"Ngaco siapa emang yang mau nikah sama kamu," Ardan tak menjawab ucapan Naira dia lebih memilih memejamkan matanya.
__ADS_1