
"Aku pikir kita sama sama berjuang tapi apa? Diem diem kamu terima perjodohan itu!! Inikan alasan kamu nggak mau ikut ke New York? Gara gara pernikahan sialan ini kan?" ucap Ardan menggebu gebu.
"Aku nggak ikut kamu karna aku siapin pernikahan..." Belum sempat Naira menyelesaikan ucapannya Ardan sudah memotongnya kembali.
"Pernikahan sama si Bambang itu?" Ucap Ardan dengan emosi yang tertahan.
"Suttt, diem dulu deh, kebiasaan kamu tuh suka motong omongan orang, orang tuh didengarkan dulu mau bicara apa jangan asal motong aja," Celoteh Naira kesal.
"Aku itu gak ikut kamu gara-gara mempersiapkan acara nikahan kak Alvin, kakak tiri aku." Lanjutnya lagi dengan nada yang terdengar sangat kesal, coba bagaimana tidak kesal bapak satu ini belum selesai berbicara sudah di potong saja ucapannya.
Ardan terdiam, jadi selama ini dia salah faham?Ohh astaga harga dirinya, mau dia taruh dimana? Mana sudah marah-marah, nyeret Naira, mengacaukan resepsi orang lain, Good Ardan kau sudah membuat harga dirimu hancur dihadapan calon kakak iparmu sendiri, dan jangan lupakan sikap mu yang sangat ketus setiap bertemu dengannya.
"Damn," Gumam Ardan, merasa bodoh dengan dirinya sendiri, sedangkan Naira sudah mendelik kesal.
"A.. Aku minta maaf, aku tidak tahu jika yang menikah adalah kakakmu, dan juga aku tidak tahu bahwa dia kakakmu." Ucap Ardan gugup, bagaimana tidak gugup jika ibu negara sudah mengeluarkan serangan laser, bisa gawat masa baru bertemu setelah perjalanan bisnis harus berantem gara gara masalah seperti ini?
__ADS_1
"Makannya, tanya dulu jangan langsung ambil kesimpulan, lagian dari siapa sih kanu tahu aku disini?" Ucap Naira masih dengan nada yang sarkas.
"Sabar nai, dia calon laki lo, haha calon laki? Tidak apa-apa sepertinya yah jika aku menyebutnya calon, aduhhh jadi baper sendiri." Gumam Naira dalam hatinya,. dan tanpa sadar jadi tersenyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" Tanya Ardan bingung ada apa dengan Naira baru beberapa menit yang lalu masih marah marah sekarang sudah bisa senyum senyum sendiri kan ngeri ngeri sedep.
"Gak apa-apa, so kamu ngapain masih disini, mana pake baju kaya gini?" Ucap Naira kesal kembali, emang yah gak ada yang seperti kaum betina sebentar sebentar marah marah nanti sebentar ketawa lagi, untung Ardan sabar.
"Aku cuman mau samperin kamu, kangen tau Nai." Ucapnya sambil menarik lembut Naira dan juga memeluknya sangat erat, sungguh rasanya ardan sangat merindukan Naira.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat menikahimu." Ucap Ardan tiba-tiba.
"Why?" Tanya Naira masih dalam pelukan Ardan.
"Aku takut kamu pergi dari aku." Jawab Ardan kemudian, sungguh dia sangat sangat ketakutan jika menyangkut Naira, dia takut kehilangan Naira kembali.
__ADS_1
"Gak akan ada yang pergi Ar, aku akan tetap stay with you, because I'm your, and you is mine." Ucap Naira dengan sedikit merenggangkan pelukannya, dan menatap manik Ardan.
"Yes i'm believe you " Ucap Ardan dengan tersenyum sangat manis.
"Pegel gak sih dari tadi kita berdiri disini?" Celetuk Naira, jujur saja dia sangat pegal.
"Kamu merusak momen romantis kita sayang." Ucap Ardan geram, coba bayangkan ketika sedang menikmati pelukan hangat juga saling mengungkapkan apa yang dirasakan, lalu tiba-tiba celetukan yang mengatakan bahwa Naira pegal, sungguh ajaib istrinya ini, ohhh istri astaga jika memikirkan Naira menjadi istrinya membuat Ardan senang bukan kepalang hingga membuat wajah dan telinganya memerah.
.
.
.
.
__ADS_1
holla aku kembali, mohon maaf yang sebesarnya karena update lama banget, dan besar kemungkinan readers aku udah pada hilang juga sudah banyak yang lupa alur cerita, gak papa but untuk readers setia intan terimakasih selalu menunggu aku update hingga hampir satu tahun aku hilang, sekali lagi terimakasih yahhh, mungkin akan ada part selanjutnya mohon di tunggu yah, kemungkinan besar juga intan akan rajin update, paling lambat seminggu sekali, sekali lagi terimakasih, dan gak pernah lupa untuk memonta like vote dan komennya readers intan sayang.