
Mereka terdiam, sampai akhirnya suara Ardan memecahkan keheningan diantara mereka.
"Maaf, gak seharusnya aku...," ucapan Ardan terhenti karena Naira langsung memeluknya.
"Nggak, kamu gak salah, aku yang salah seharusnya aku dengerin kamu dulu, gak seharusnya aku berasumsi sendiri, aku udah tau semuanya, jangan salahkan diri kamu sendiri, aku yang salah," ucap Naira yang mulai menangis.
"Sssttt, udh ok, aku seneng kalo kamu udah tau, tapi kamu tau darimana?" tanya Ardan. Lalu Naira menceritakan semuanya.
"Kamu udah tau dari lama tapi ketika kita bertemu kembali kamu seakan gak kenal aku Nai, kenapa?"
"Maaf aku cuman sadar diri, gak seharusnya kita bersama setelah apa yang aku lakukan sama kamu, harusnya aku percaya sama kamu bukan malah..." ucapan Naira terhenti, karena Ardan.
"Sssttt,,, Ok, kamu gk salah disini kita sama-sama salah aku yang menduakan kamu, memang pantas aku mendapatkan nya," ucap Ardan.
"Makasih, tapi maaf kita gak bakal mungkin untuk bersama lagi," ucap Naira tertunduk lesu.
"Kenapa? Apa karena kamu sudah mencintai orang lain?" ucap Ardan, Naira hanya diam tanpa menjawab.
"Jawab aku Nai!" sentak Ardan, Naira yang kaget dengan sentakan Ardan, baru kali ini dia mendapatkan sentakan dari mantan kekasihnya itu.
"Demi tuhan Ardan aku masih mencintai kamu, tapi aku juga tidak bisa menolak perjodohan itu," ucap Naira dengan berderai air mata.
"Lalu kenapa kamu masih menerima perjodohan itu, jika kamu saja tidak mencintai laki-laki yang akan jadi suamimu?"
"Atau jangan-jangan kamu hanya membual, agar aku tenang dan kamu hanya memberi aku harapan palsu, iya kan Nai?" tanya Ardan dengan tatapan tajamnya.
"Aku benar-benar harus bilang apa lagi Ardan agar kamu percaya, aku saat ini, dulu dan selamanya hanya mencintai kamu, tapi aku juga gak bisa menolak perjodohan itu" ucap Naira.
" Kenapa? Itu berarti kamu sama aja nyakitin dua hati sekaligus," ucapan Ardan membuat tubuh Naira menegang, tapi bagaimanapun dia tidak mungkin untuk menolak perjodohan itu, dia harus membayar hutang budi kepada ibunya sendiri.
"Aku gak bisa jelasin, maaf" ucap Naira.
__ADS_1
"Dan maaf aku gak bisa balik ke kantor lagi, aku butuh waktu untuk sendiri, tapi yang harus kamu selalu ingat adalah aku mencintai kamu kini, dulu, dan selamanya" ucap Naira sambil tersenyum lalu beranjak pergi.
Setelah kepergian Naira, Ardan tertunduk sambil terus mengenang kebersamaannya dengan Naira di taman ini tempat paling favorit untuk mereka.
"****Apa ini jawaban yang aku tunggu selama bertahun-tahun, jawaban yang amat menyakitkan****?"Dia tersenyum getir.
"Nggak Nai kamu gak boleh nikah sama orang lain selain aku, kamu di takdir kan hanya untuk aku, gimana pun caranya aku bakal dapetin kamu, itu pasti," ucap Ardan dalam hatinya.
Ardan beranjak pergi dari tempat itu, dia tidak langsung kembali ke kantornya, dia lebih memilih untuk pulang ke apartemennya, ia setelah dia menjadi CEO beberapa bulan lalu dia membeli apartemen walaupun jarang di tinggali tetapi apartemennya selalu bersih karena s'lalu ada maid yang membersihkannya.
.
.
.
.
"Maaf Ardan, maaf aku mencintai kamu tapi tidak mungkin untuk kita bersama." Ucap Naira dalam hati sambil terus menitikkan air mata.
Naira sampai di depan rumah ibunya, sebelumnya ibunya sudah menyuruhnya untuk datang ke rumahnya.
Dia memperbaiki penampilannya yang terlihat acak-acakan, mata sembab, hidung merah, jangan lupakan make up yang luntur karena air mata, walau pun ber-make up natural tapi masih saja terlihat acak-acakan. Ia menghirup dalam-dalam udara yang ada sebelum dia masuk ke dalam rumah, menyemangati dirinya sendiri.
"Assalamualaikum." Ucap salam Naira kepada pak jukri satpam rumah ibunya.
"Wa'alakumussalam, ekh non Naira baru kesini lagi non? Kenapa jarang kesini sih?" ucap Pak Jukri.
"Iya pak di kantor banyak kerjaan jadi jarang kerumah mamah." Ucap Naira.
"Mamah ada kan Pak?" Tanya nya.
__ADS_1
"Ada Non baru sampe."
"Kalau gitu Naira masuk ya, permisi Pak." Ucap sopan Naira sambil tersenyum.
"Iya silahkan non."
Naira mulai melangkahkan kakinya menuju ke rumah yang beberapa bulan lalu dia injak, dan memberikan ribuan luka.
"Bismillahirrahmanirrahim." ucapnya dalam hati entah kenapa dia merasa akan ada hal yang tidak mengenakan hatinya.
Perlahan tapi pasti dia masuk kedalam rumah ibunya, dan tiba-tiba...
.
.
.
Hallo semua 🙌 maaf ya aku baru up lagi, gimana ceritanya? makin gaje ya maaf banget kalo ceritanya gak sesuai dengan ekspektasi kalian soalnya aku lagi sibuk dengan setumpuk tugas, jadi upnya lama, sebenarnya intan lagi gak mau buat up di karenakan gak ada referensi dan gak mood karena intan baca komentar kalian yang minta up akhirnya intan up jadi seadanya aja ya, gpp kan, buat para pembaca intan yang setia makasih udh selalu menunggu intan untuk up .
Jangan lupa
vote
Like👍
comen
dan kasih rate bintang lima ya
di tunggu like comennya 10 comen insyaallah besok up lagi.
__ADS_1
salam manis buat para pembaca intan🤗