Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#18


__ADS_3

Naira masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu, dia tertunduk lesu dengan masih berderai air mata.


"Kenapa mamah bilang seperti itu? apa aku bukan anak mamah? Kenapa... kenapa mamah tega? Hiks... apa salah Naira mah? sehingga mamah begitu membenci Naira? Hiks... " ucap lirih Naira dengan menangis pilu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu.


"Nai, ini bibi. Tolong buka pintunya" ucap Bibi


"Maaf bi, Naira pengen sendiri" ucap Naira dari dalam kamarnya.


"Kamu belum makan Nai, Bibi ambilkan ya" ucap Bi Siti dari luar kamar.


"Tidak usah BI, Naira nanti ambil sendiri. Naira pengen nenangin pikiran Naira dulu" ucap Naira.


"Ya sudah" ucap Bi Siti pasrah.


Keadaan di luar kamar


Setelah kepergian Niara dan Bi Siti, Paman Reno menenangkan Lina yang masih emosi.


"Sudahlah ka tenangkan dirimu dulu" ucap Paman.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tenang aku sudah berjanji kepada temanku akan menjodohkan Naira dengan anaknya, dan anak sialan itu malah tidak mau" ucap Lina.


"Tapi, Kaka tidak bisa memaksakan kehendak kakak" ucap Paman dengan nada bicara naik satu oktaf.


"Kenapa? Kenapa tidak boleh, dia anakku" ucap Lina dengan ngotot.


"Memang anak mu. Tapi kau tidak mendengarkan apa yang tadi Naira bilang Naira gak pernah mendapatkan kasih sayang tulus dari Kaka" ucap Paman.


Lina diam seribu bahasa. Dia tidak bisa menjawab lagi.


"Apa kau tau setelah dia pulang dari rumah mu dia menangis hingga sakit, bahkan Alvin saja yang tidak mempunyai ikatan darah dengan dia datang kemari. Kau bukannya tau Alvin siapa? Dia hanya Kaka tiri Naira. Sedangkan kau, ibu kandungnya. menanyakan kabarnya satu bulan sekali saja tidak, jangankan satu bulan sekali bahkan setahun sekali saja tidak" ucap Paman yang sudah tidak bisa mengontrol emosi nya.


Lina hanya diam, tanpa mau menjawab, karena memang benar, apa yang dikatakan oleh Paman Reno.


"Kenapa kau diam? Apa masih menginginkan Naira menerima perjodohan" tanya Paman dengan sedikit menyindir.


Lina yang sudah malu karena semua yang di ucapkan oleh Paman Reno memang kebenarannya. Memilih untuk pulang, dari pada dia harus di permalukan lagi.


Kediaman Ardan


Ardan yang baru sampai di depan rumahnya, segera memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah yang di tekuk. Ratna yang melihat wajah putra sulungnya yang di tekuk dia terkikik geli. Bagimana tidak alis yang berkerut , pipi yang di gembungkan dan bibir yang sudah Bimoli (Bibir monyong lima Senti).


"Kenapa dengan bibir kamu Ardan? Apa di sengat lebah?" tanya Ratna dengan menahan tawanya.

__ADS_1


"Mamah itu kebiasaan deh, suka banget goda anaknya" ucap Ardan kesal.


"Emang kenapa sih?" tanya Ratna.


"Jadi gini Ardan itu udah berusaha deketin Naira, tapi Nairanya itu kaya ngehindar dari Ardan, Naira suka banget pergi kalo Ardan mau ngomong" ucap Ardan mengeluarkan keluh kesahnya.


"Terus?" ucap Ratna.


"Tadi aja Ardan tawarin buat pulang bareng Naira gak mau" ucap Ardan.


"Mungkin dia ada urusan" Ratna memberi pengertian.


"Masa sih, dia kan gak pernah kemana-mana" ucap Ardan.


"Ya mana Bunda tau, Bunda kan bukan orang tuanya" ucap Ratna geram dengan anaknya.


"Ya kan nanti jadi menantu Bunda otomatis jadi anak Bunda lah" ucap Ardan dengan muka polosnya.


"Eleh ngejar Naira dari kemarin aja gak dapet-dapet, gayanya mau jadi suaminya. Ambil dulu tuh hatinya" ucap Ratna.


Maaf ya Intan baru up, karena sekarang udah mulai daring lagi Intan gak bisa janji bakal sering up soalnya banyak banget tugas dari sekolah ini aja Intan kebetulan lagi senggang๐Ÿ™


(Author nya jadi curcol ๐Ÿ˜‚)

__ADS_1


Wajib like, comen, vote, jangan lupa kasih rate bintang lima!


Ingat wajib ya kakak yang cantik ๐Ÿ˜


__ADS_2