Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#24


__ADS_3

Sampai nya dia di rumah Naira Ardan melihat Naira dengan keadaan yang memprihatinkan, dia menghampiri Naira lalu di dekap nya tubuh mungil itu, tidak ada penolakan dari Naira, tapi lama kelamaan tubuh Naira mulai melemah lalu jatuh pingsan dalam dekapan Ardan.


"Nai... Naira, kamu bangun Nai" ucap Ardan sambil menepuk-nepuk pipi Naira. Lalu dia membopong tubuh Naira untuk masuk kedalam rumah Bibi dan Paman.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum Tante, om" Ardan terus mengetuk pintu rumah Naira,, sampai akhir akhir nya pintu pun terbuka, dan


menampilkan sosok wanita paruh baya.


"Wa'alaikumsalam, astaga Ardan, Naira kenapa nak?" tanya Bibi.


"Tolong bawa masuk ya Ardan, langsung bawa ke kamarnya saja, ayo Bibi tunjukan kamarnya" ucap Bibi dengan nada suara khawatir.


Ardan mengikuti Bi Siti, setelah sampai di depan pintu kamar Naira Bi Siti membukakan pintu, lalu Ardan masuk dan membaringkan tubuh Naira di kasur. Setelah itu Ardan keluar dari kamar Naira dan menghampiri Bi Siti.


"Tante baju Naira basah, tolong tante gantikan bajunya" ucap Ardan.


"Iya Ardan makasih ya, kamu juga ganti baju dulu ya pakai baju Ardi lalu ganti di kamarnya Ardi, pasti kamu kedinginan kan kamu juga basah" ucap Bi Siti sambil tersenyum.


"Iya Tante" ucap Ardan.


"Ayo Bibi antarkan kamu ke kamarnya Ardi" ucap Bi Siti sambil berjalan menuju kamar anak semata wayangnya, yg bersebelahan dengan kamar Naira.


"Ardi nak buka pintunya" ucap Bi Siti dari luar kamar.


Tak lama Ardi membuka pintu lalu Bi siti menyuruhnya untuk meminjamkan bajunya untuk Ardan dan menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya yang basah di kamar Ardi, Ardi pun menuruti perintah ibunya lalu mempersilahkan Ardan untuk masuk kedalam kamarnya.


Setelah Ardan berganti pakaian dia keluar dari kamar Ardi, bersamaan dengan keluarnya Bibi dari kamar Naira karena kamar Ardi dan Naira bersebelahan.


"Sebaiknya kamu makan dulu sebelum pulang" ucap Bibi sambil tersenyum.


"Ng... nggak usah Tan nanti Ardan ngerepotin, Ardan langsung pulang aja, nanti kalo ada apa apa sama Naira Tante langsung kabarin Ardan ya" jawab Ardan dengan tersenyum ramah.


"Ya sudah kalo itu mau mu dan nanti akan Tante kasih kabar kamu kalo terjadi sesuatu kepada Naira, dan satu lagi Tante hanya ingin memberi saran sebaiknya jika ada masalah di selesaikan dengan cara baik baik" ucap Bibi.


"Iya Tante makasih ya"


"Ya sudah kamu bawa mobilkan?" tanya Bibi.

__ADS_1


"Tadi bawa cuman Ardan tinggal di jalan" ucap Ardan sambil tersenyum kikuk.


"Ya udah kamu gak usah pulang nginep aja besok pagi Ardi antar kamu pulang" ucap Bibi.


"Ng... nggak usah Tante, nanti Ardan minta supir Ardan aja buat jemput" ucap Ardan sambil tersenyum.


"Ya sudah sebaiknya kamu makan dulu ya" ucap Bibi.


"Iya Tante" ucap Ardan.


Bibi pun beranjak pergi dan Ardan pun mengikutinya dari belakang.


"Nah Ardan kamu makan dulu ya, Bibi mau kompres Naira dulu" ucap Bibi, Ardan pun mengangguk tanda dia paham.


"Tante kayanya supir ardan udah jemput lain kali aja ya Ardan nyicipin masakannya" ucap Ardan sambil tersenyum kikuk karena merasa tidak enak.


"Ya sudah tidak apa-apa" ucap Bibi.


"Ardan pamit Tante, assalamualaikum" ucap Ardan sambal mencium tangan Bi Siti.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya"


Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta, Ardan yang biasanya selalu humoris sakarang dia hanya diam tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ardan masih memikirkan kejadian yang beberapa jam lalu. Dia masih mengingat bagaimana wajah kecewa seorang Naira, dan meneteskan air mata dengan tatapan penuh kekecewaan, tak ada hal yang bisa membuat Ardan begitu sakit kecuali melihat wanitanya menahan sesak di dadanya.


Tanpa sadar cairan bening keluar dari matanya dia merutuki kebodohannya, dia merasa menjadi laki-laki yang paling breng*ek.


"Aku berjanji untuk membahagiakan mu tapi aku juga yang mengingkari janjinya, aku berjanji untuk tidak membuat mu mengeluarkan air mata kecuali menangis haru, tapi aku juga yang mengingkari janji itu, aku hanya memberikan harapan yang semu sama kamu, Nai. Tapi aku mohon jangan meninggalkan aku, kamu boleh membenci aku tapi jangan lupakan kisah cinta kita, kamu boleh pukul aku tapi kamu jangan berhenti untuk mencintaiku, aku gak bisa hidup tanpa kamu, Nai. Seberapa benci pun kamu sama aku nanti aku gak akan pernah berhenti untuk mencintaimu" lirih Ardan dalam hati.


Kini mobil yang di tumpangi oleh Ardan telah sampai di depan rumah milik Ardan.


Ardan pun keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya ke depan pintu, dia mendorong pintu rumahnya, disana sudah ada Bunda dan Ayahnya.


Ardan menatap Bunda dengan berlinang air mata, Ratna yang melihat anaknya berjalan mendekati nya lalu di dekapnya tubuh Ardan.


Ardan menumpahkan semua kesedihannya di dekapan Bunda nya wanita yang paling mengerti Ardan sekaligus wanita yang paling Ardan sayangi. Ardan terus menangis isakan isakan kecil lolos dari bibirnya. Ratna tak sanggup melihat putra sulungnya berada di titik paling bawah seperti ini dia pun ikut menangis.


Adit yang yang melihat anaknya menangis sesenggukan di dalam dekapan istrinya hanya memandangnya penuh dengan rasa iba, tanpa sadar ia pun ikut mengeluarkan cairan bening. Karena mau bagaimana pun di sini Ardan lah yang salah, dia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya memberinya semangat.


"Naira... Bunda" akhirnya satu kalimat lolos dari bibirnya.

__ADS_1


"Sabar sayang, ini mungkin ujian, kamu harus sabar" ucap Ratna.


"Naira gak bakal tinggalkan Ardan kan Bunda? Dia pasti maafin Ardan kan? Bunda tolong Ardan bilang sama Naira kalo Ardan gak lakuin itu" ucap Ardan masih Dengan menangis.


"Ardan gak bisa hidup tanpa dia bunda"


"Ardan mencintai Naira, Ardan lakuin itu karena terpaksa, Ardan juga gak lakuin itu Bunda" tambahan lagi.


"Maksudnya?" kini Adit menimpali ucapan anaknya itu.


"Sebaiknya kita duduk dulu lalu kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi" ucap Ratna.


Ratna membawa Ardan untuk duduk di sofa dan memberi minum.


"Sebenernya Ardan terpaksa macari Stella, karena dia ngancam Ardan bakal bunuh Naira, dan dia juga sering meneror Naira, jadi mau gak mau Ardan pun menyetujuinya, tapi Ardan berani bersumpah kalo Ardan gak pernah kasih perhatian lebih, sampai akhirnya dia minta Ardan buat nikahin dia tapi Ardan gak mau dan entah kenapa keesokan harinya Ardan ada di kamar Stella tanpa memakai sehelai benang pun.


"Bunda inget gak yang waktu Ardan ijin ke Bunda mau ke rumah faris?" Ratna pun mengangguk.


"Di tengah jalan itu aku di hadang sama preman, dan gak tau kenapa tiba tiba penglihatan aku buram dan terjadilah kejadian itu bahkan Ardan sendiri gak tau itu anak Ardan atau bukan" tambahnya lagi.


"Jadi intinya si singkong itu dia jebak kamu gitu?" ucap Adit.


"Singkong?" tanya Ardan dan Ratna kebingungan.


"Iya kan itu nama salah satu makanan ringan" ucap Adit polos.


"Itu Qt*la ayah" ucap Ardan, demi apa pun dia ingin sekali berteriak di saat seperti ini ayahnya masih saja memikirkan nama makanan.


"Ouh ya udah sih salah dikit aja" ucap Adit tanpa rasa bersalah.


.


.


.


maaf baru up jangan lupa **like, comen, vote sama kasih rate bintang lima.


ingat wajib ya kakak yang canti dan ganteng**

__ADS_1


__ADS_2