
Perlahan tapi pasti dia masuk kedalam rumah ibunya, dan tiba-tiba
Plak
Satu tamparan keras mendarat dengan di pipi mulus Naira.
Naira menyentuh pipinya yang baru saja di tampar oleh ibunya, dia masih syok apa yang diperbuat hingga ibunya menamparnya.
"A... Apa salahku?" Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Apa salahmu? Apa kau tak merasa membuat kesalahan hah?!" ucap Lina.
"Maksud Mama apa?" ucap Naira masih bingung.
"Apa katamu? Dengar tadi kau berduaan di taman dengan laki-laki? Apa kau tidak malu kamu itu sebentar lagi akan menikah Naira!"
"Apa aku pernah menyetujui perjodohan si*lan itu? Tidak! Aku bahkan menolaknya."
"Setidaknya kamu berguna sedikit menjadi anakku." Ucap Lina dengan nada sinis.
"Lalu selama ini aku di anggap apa? Bukankah dari duku mama tidak pernah menganggap aku? Akh iya sejak kapan Mama menganggap ku?" Ucap Naira dengan tersenyum getir.
"Harusnya aku tidak membesarkan mu hingga sebesar ini! Semakin dewasa kamu hanya menjadi pembangkang saja!" ucap Lina dengan nada bicara yang mulai meninggi.
"Membesarkan? Apa aku tak salah dengar? Apakah ada seorang ibu yang tega menitipkan anaknya pada pamannya, lalu pergi setelah itu pulang dengan kabar bahwa ia telah menikah, lalu ia tidak pernah menanyakan kabar anaknya atau menjenguknya? Apakah itu yang disebut seorang ibu yang menelantarkan anaknya?" Ucap Naira lantang.
__ADS_1
Plak
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Naira.
"Kamu keterlaluan Naira...." ucapan Lina terhenti.
"Keterlaluan? Itu kenyataannya, dan satu lagi aku tidak akan pernah menerima perjodohan yang Mama buat, saya pergi permisi."ucap Naira.
Naira pergi melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sang ibu, hatinya sakit bagaimana bisa ada seorang ibu yang tega berkata seperti itu kepada anaknya sendiri memangnya apa salahnya? Jika dia bisa memilih kemana dia ingin dilahirkan dia tidak akan ingin dilahirkan oleh ibu yang tidak menerimanya.
.
.
.
"Apa aku salah Nai, jika menginginkan kamu kembali padaku? Apa aku egois jika aku menginginkan kamu menjadi milikku? Bukankah egois itu wajar?" Gumam Ardan sampai tak terasa dia tertidur di sofa.
.
.
.
Naira membuka pintu rumah pamannya, rumah yang memberikan dia kasih sayang, cinta dalam keluarga, memberikan kebahagiaan, walaupun dia keponakan tapi paman dan bibinya tidak pernah membandingkan kasih sayang antara dia dan Ardi.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Ucap Naira dengan menahan air matanya.
"Wa'alaikumsalam," Jawab bibi dengan senyum lebarnya lalu merentangkan tangannya, dia tau Naira butuh pelukan, tanpa tunggu lama Naira berhambur memeluk bibinya.
Naira menangis sesenggukan dalam pelukan bibinya yang sudah dia anggap ibu sendiri.
"Apa salah Naira bi? Hiks sampai mama tega bilang gitu ke Naira?"
"Sssttt, jangan nangis mungkin mama Naira lagi gak mood kali." Ucap Siti memberi pengertian.
"Tapi apa perlu dia bilang kaya gitu." ucap Naira masih sesegukan.
Siti membawa Naira untuk duduk di sofa yang ada di hadapannya, Naira terus menangis sampai tak terasa dia tertidur dalam dekapan Siti.
.
.
.
**Halo semua maaf intan udh gak up selama hampir dua bulan🙏, beberapa bulan ini intan sibuk dengan kegiatan sekolah, terus beberapa minggu juga intan drop jadi mohon maaf yah klo intan jarang up.
Jangan lupa like comen dan votenya
salam manis dari intan**
__ADS_1