Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#15


__ADS_3

Setelah menceritakan semua itu Ardan melihat kearah Naira. Dia melihat ada gurat kekecewaan di mukanya. Dia tahu mungkin rasa kecewa Naira lebih besar dari rasa cintanya, setelah apa yang dia lakukan memang tak pantas untuk mendapatkan maafnya, tetapi dia bersyukur karena Naira masih bisa melihatnya.


"Andai kamu tau Nai, mungkin hubungan kita gak bakal kayak gini, tapi semua harus aku simpan sendiri aku gak mau kamu merasa bersalah, aku hanya berharap kamu bisa kembali kepadaku hanya itu Nai" ucap batin Ardan.


"Nai, nah kan aku udah ingetin, seharusnya sekarang kamu udah ingat kan" ucap Ardan sambil tersenyum.


"Yah, aku ingat, aku ingat semuanya, bahkan untuk melupakannya saja itu sulit karena itu terlalu indah, dan untuk di kenang itu terlalu menyakitkan, tetapi bukankah kita harus belajar dari masa lalu, dan pembelajaran yang aku dapat dari masa lalu adalah Jangan terlalu berharap kepada sesuatu yang belum pasti akan seperti apa kedepannya, karena disaat itu kita hanya akan kecewa terutama oleh omong kosong yang tidak pernah tau kapan kepastian itu akan datang" ucap Naira dengan tatapan kosong.


Ardan hanya diam karena sejujurnya dia merasa tersindir oleh ucapan Naira.


"Sudah sore sebaiknya kita pulang, aku takut terlalu malam nanti sampai di rumah" ucap Naira.


"Baru juga jam setengah lima Nai" protes Ardan.


"Mending sekarang kita keliling taman dulu sambil cerita-cerita" tambah Ardan lagi.


"Tapi..."


"Gak ada penolakan" ucap Ardan. Sambil menarik tangan Naira.


"Huft" Niara hanya pasrah dan menghela napasnya.


Ardan dan Naira terus berjalan sambil ngobrol lebih tepatnya Ardan yang lebih banyak bicara dari pada Naira, Naira hanya menjawab jika Ardan bertanya.


Tak terasa hari sudah mulai gelap, Ardan memutuskan untuk mengantarkan Naira pulang. (Ngantar pulang ya bukan di bawa pulang inget mengantarkan tolong di garis bawahi).


Mereka telah sampai di halaman rumah Bi Siti.Naira turun dari mobil di ikuti oleh Ardan.

__ADS_1


"Makasih ya" ucap Naira.


"Makasih untuk apa?" tanya Ardan.


"Untuk semuanya" ucap Naira.


"Maksudnya?" tanya Ardan masih bingung dengan ucapan Naira.


"Lebih baik kamu pulang ini sudah malam, aku masuk duluan, bye~" ucap Naira sambil tersenyum.


Naira masuk kedalam rumah, sedangkan Ardan hanya diam mematung sambil memandang punggung Naira yang menghilang di balik pintu. Setelah Naira menghilang barulah Ardan masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat.


Di dalam mobil Ardan masih saja memikirkan apa yang dikatakan Naira, tetapi dia tidak ingin ambil pusing dia memilih untuk melupakannya.


Ardan telah sampai di rumahnya, dia berjalan kearah tangga sambil sesekali dia bernyanyi, semua orang yang di lewati oleh Ardan merasa heran dengannya tidak biasanya dia bernyanyi seperti itu.


"Ardan" panggil Bunda.


"Iya Bun" ucap Ardan sambil berjalan kearah sang Bunda, lebih tepatnya sedang berkumpul di ruang tengah.


"Apa kau sehat?" tanya Bunda. Sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Ardan.


"Gak panas ko" gumam Bunda.


"Apa sih Bunda ini" ucap Ardan mengerucutkan bibirnya. Lalu berjalan kearah sofa dan mendudukkan dirinya.


"Kan Bunda cuman nanya, lagian ngapain kamu nyanyi-nyanyi gak jelas kaya gitu" ucap Bunda.

__ADS_1


"Bunda kepo" ucap Ardan.


"Dasar anak kurang ajar di tanya sama ibunya bukannya ngejawab yang bener malah bilang ibunya kepo" ucap Bunda kesal.


"Bunda beneran mau tau?" tanya Ardan sambil tersenyum.


"Ya iyalah, kalo Bunda gak mau tau mana mungkin Bunda nanya" ucap Bunda dengan ketus.


"Tapi Ardan gak mau kasih tau lah" ucap Ardan.


"Kalo gak mau kasih tau kenapa gak bilang dari tadi Ardann" ucap Bubda emosi.


"Udahlah Ardan lagi males debat, Ardan mau kekamar mau bersih-bersih lengket badan Ardan gak enak. Bye Bunda jangan marah-marah nanti cepet tua, cup" ucap Ardan mengecup pipi sang Bunda.


"Astaghfirullah anak siapa itu ya?" ucap Bunda.


"Ya anak Bundalah masa anak Ayah, kan anak Ayah Clara" ucap Ayah sambil tersenyum. Bunda hanya mengerucutkan bibirnya.


"Terserah Ayah aja Bunda mau ke kamar mau tidur" ucap Bunda. Lalu melenggang pergi.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa buat like, comen , sama vote ya


__ADS_2