Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#26


__ADS_3

"Itu Qt*la ayah" ucap Ardan, demi apa pun dia ingin sekali berteriak di saat seperti ini ayahnya masih saja memikirkan nama makanan.


"Ouh ya udah sih salah dikit aja" ucap Adit tanpa rasa bersalah.


**Drettt


Drettt


Drettt**


"Handphone siapa tuh?" tanya Adit.


"Itu pasti handphone kamu Ardan" tambahnya lagi.


"Bukan Handphone aku dari tadi mati ayah, itu pasti handphone ayah" ucap Ardan memberikan pengertian.


"Bukan Handphone ayah gak geter geter coba deh itu pasti handphone kamu" ucap Adit kekeh.


Karena kesal dengan ayahnya yang kekeh, Ardan dengan kasar mengeluarkan handphonenya.


"Tuh kan apa kata Ardan, Handphone Ardan itu gak ada yang telpon" ucap kesal Ardan. Sungguh Ardan di buat kesal oleh Adit, ayahnya sendiri, bagaimana bisa di saat seperti ini Adit masih bisa mengajaknya untuk adu mulut.


"Ouh iya yah berarti handphone siapa dong?" tanya Adit dengan cengirannya.


"Itu handphone kamu kali sayang" ucap Adit pada Ratna.


"Aku gak bawa handphone mas, handphone aku, aku simpan di kamar dan gak mungkin kalo kedengaran sampai sini" ucap Ratna memberi pengertian.


"Coba kamu lihat dulu handphone kamu"


"Ta...."


"Lihat dulu baru kamu protes" ucap Ratna dengan penuh penekanan, Adit yang melihat istrinya itu sudah mode singa langsung menurutinya.


Dia mengeluarkan handphonenya, dan benar saja ada yang menelponnya berkali-kali. Dia menatap istrinya yang juga sedang menatapnya sambil menatap tajam dirinya, Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan cengiran. Lalu beranjak pergi.


Setelah kepergian Adit, Ardan kembali memeluk ibunya, dia menumpahkan seluruh keluh kesahnya kepada ibunya.


"Kenapa bunda, kenapa harus Ardan yang merasakannya?" ucapnya dengan tersedu-sedu.


"Ardan dengar ucapan Bunda kalo kita berani mencintai kita juga harus berani merasakan sakit hati karena pada dasarnya kita tidak bisa memiliki semua yang kita inginkan termasuk hati seseorang, jadi biarkan Naira menenangkan dirinya terlebih dahulu baru kamu jelaskan semuanya dengan baik baik" ucap Ratna memberi nasihat.


Ardan hanya mengangguk dalam dekapan bundanya. Tak lama setelah itu Adit datang menghampiri mereka dengan wajah gusar.


Ratna yang melihat suaminya datang dengan wajah gusar niat hati ingin menanyakan, sebelum dia menang Adit sudah angkatan bicara.


"Ardan ikut ke ruangan kerja ayah sekarang, dan Bunda nanti ayah kasih tau bunda setelah ayah berbicara dengan Ardan" ucap Adit. Lalu dia berjalan mendahului Ardan menuju ruangan kerjanya.


Ardan menuruti perintah Adit, membuntuti ayahnya menuju ruang kerja milik Adit.


Cklek


Suara pintu di buka.


Ardan melihat Adit duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang di tumpu untuk menutupi wajahnya.


"Ada apa ayah?" ucap Ardan.


"Duduklah dulu"


Ardan pun menuruti perintah ayahnya dia duduk di hadapan ayahnya.


"Jadi gini nak, perusahaan yang ada di London kita mengalami kerugian besar, ayah curiga ada yang korupsi jadi untuk sementara waktu kamu di sana untuk menyelesaikan masalah ini, kamu hanya harus menjadi pegawai biasa dan tidak membocorkan identitas asli kamu karena mereka hanya tau nama kamu saja tidak dengan wajah kamu" ucap Adit panjang lebar.


"Sekalian kamu lanjutkan studi S2 kamu di sana" ucap Adit.


"Tapi Ayah..."

__ADS_1


"Ayah mohon Ardan" ucap Adit terlihat sudah kalut.


"Hmm ya udah, tapi masalah Naira bagaimana?" ucap Ardan masih mengkhawatirkan kekasihnya itu, ralat mantan kekasihnya.


"Kamu tenang aja Naira akan bekerja sebagai sekretaris ayah nanti dan jika kamu bisa menyelesaikan tugas kamu ayah janji bakal bantu kalian buat dekat" ucap Adit.


"Hmm ya udah, jadi kapan aku akan berangkat?"


"Besok siang" ucap Adit.


" Ya sudah Ardan ijin ke kamar, Ardan ingin istirahat"


"Iya kamu istirahatlah" ucap Adit karena dia tau anaknya itu pasti merasa lelah apa lagi dengan pertengkaran yang beberapa jam lalu terjadi.


.


.


.


.


.


Sedangkan di kediama Naira, gadis itu baru saja membuka matanya, dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam lensa matanya.


Dia mengerjap beberapa kali, dia merasa bingung kenapa dia berada di kamarnya, bukankah harusnya dia bersama Ardan. Lalu ingatan yang terjadi di taman itu langsung menyerbu pikirannya, air mata lolos begitu saja membanjiri pipi mulusnya.


"Itu pasti mimpikan? Yang tadi itu benar-benar tidak terjadi kan?" ucap Naira dalam hati.


Tapi dia ingat itu bukan mimpi itu kenyataan.


"Kenapa Ardan kenapa kamu kasih luka yang tidak berbekas tapi bisa s'laku aku ingat, kenapa kamu toreh luka yang begitu dalam" guman Naira. Karena lelah dia menangis tanpa sadar dia pun tertidur dengan masih terdengar isakan isakan kecil dari mulutnya.


Malam telah berganti pagi, pagi telah berganti siang dan Naira hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, Siti dan Reno di buat bingung dengan keponakan kesayangannya itu tidak biasanya dia begitu.


**Tok


Tok


Tok**


"Nai di depan ada teman kamu katanya dia ingin berbicara dengan mu" ucap Siti.


"Bi, tolong bilangin aja kalo Naira lagi gak mau di ganggu" ucap Naira.


"Ya sudah" ucap Siti.


Bi Siti beranjak dari depan pintu kamar Naira lalu menghampiri dua pemuda dan tiga perempuan yang di antara mereka sudah di kenalinya.


"Maaf Ayu, Lila, kata Naira dia sedang tidak ingin di ganggu" ucap Bi Siti dengan raut wajah yang sudah putus asa.


"Tante boleh kita melihat keadaan Naira ini penting, boleh ya Tante" ucap Ayu.


"Iya silahkan tapi Tante tidak dapat berjanji bahwa Naira akan membukakan pintu" ucap Siti.


"Baiklah kami akan berusaha" ucap Ayu meyakinkan dan di angguki oleh yang lain.


"Mari Tante antar kalian ke kamar Naira" ucap Siti lalu beranjak pergi menuju kamar Naira di ikut oleh lima pemuda pemudi itu.


Setelah sampai di depan pintu kamar Naira, Bi Siti meninggalkan mereka, karena dia tahu mungkin mereka butuh waktu untuk berbicara.


**Tok


Tok


Tok**

__ADS_1


"Nai buka pintunya ini penting" ucap Ayu dengan sedikit berteriak.


"Nai jangan kaya anak kecil tau gak semua masalah bisa di selesaikan dengan baik-baik toh loe juga belum tau kan Ardan bersalah atau nggak" ucap Ayu menggebu-gebu, sebelumnya Ayu dan Lila sudah mengetahui masalah Ardan dan Naira dari Rizky dan Faris, jangan tanya dari mana kedua pemuda itu mendapatkan informasi karena sebelumnya dua pemuda itu mengikuti Ardan dan Naira, mereka sebelumnya tau bahwa Ardan memiliki hubungan dengan Stella.


Dan setelah Ardan pergi mereka menghampiri Stella yang masih menatap punggung Ardan dan memberikannya pengertian dan pencerahan ya walau segila gilanya mereka, mereka masih menyayangi temannya, mereka tidak ingin Ardan dan Naira berpisah.


"Nai,,, buka pintunya ini penting ini masalah Ardan" ucap Lila yang sudah tidak sabaran.


C****eklek


Suara pintu di buka.


Naira membuka pintunya lalu melihat satu persatu orang di hadapannya dan ada satu orang yang tidak ingin sama sekali Naira temui.


"Untuk apa kamu kesini? Apa belum cukupkan apa yang kamu lakukan kemarin?" ucap Naira dengan nada tinggi.


"Maaf, tapi aku kesini untuk menjelaskan semuanya kepada mu" ucap Stella, ya perempuan itu Stella. Dan dua pemuda itu adalah Rizky dan Faris.


"Menjelaskan katamu? Setelah apa yang kamu lakukan hah?" ucap Naira dengan nada mengejek.


"Dengar dulu, jadi sebenarnya Ardan berselingkuh denganku adalah karena dia menyayangimu, dia rela berkorban kebahagiannya hanya untukmu dia rela kamu tinggalkan hanya ingin hidung kamu tenang" ucap Stella.


"Maksudnya?" tanya Naira yang masih bingung.


"Jadi anak yang aku kandung bukan anak Ardan, aku memang sedang mengandung tapi ini bukan anak Ardan, aku berani jamin, dan aku memang pernah menjebaknya untuk dia menikahi ku tapi aku sadar sekarang bahwa aku bukan mencintaimu tapi aku hanya obsesi semata, sekali lagi aku minta maaf" ucap Stella dengan berdurai air mata.


Naira diam mematung mendengar penjelasan Stella ada rasa bahagia dalam dirinya dan ada sedikit rasa bersalah kepada Ardan.


"Maaf Ardan harusnya aku mempercayai mu harusnya aku mendengarkan penjelasan mu terlebih dahulu bukan kehasut oleh omongan orang lain" ucap batin Naira.


"Dan emmm,,, Naira emm,,, itu Ardan" ucap Faris merasa ragu mengatakannya.


"Iya kenapa dengan Ardan?" ucap Naira yang mulai tersadar.


"Emm,,, itu hari ini Ardan akan pergi ke London untuk meneruskan studi S2 nya" ucap Faris.


"Apa? Pukul berapa keberangkatannya?" ucap Naira yang sudah mulai panik dan air mata yg sudah penuh di pelupuk matanya.


" Pukul dua siang"


"Kenapa kalian tidak memberi tahu dari tadi ini hanya tinggal kurang dari satu jam lagi" ucap Naira yang sudah tidak dapat membendung air matanya.


"Sekarang kita harus ke bandara,,, ayo cepat kenapa malah pada diem aja" ucap Naira yang sudah kesal karena mereka hanya diam saja.


"Emm baik iya ayo" ucap Rizky yang sadar.


Mereka keluar dari rumah Naira menuju mobil Naira masuk kedalam mobil Ayu dan Lila, Sedangkan Rizky, Faris, dan Stella dia membawa mobil masing masing.


Mereka sampai di bandara hanya tinggal dua menit keberangkatan Ardan.


Naira dengan cepat keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam bandara, dia melihat satu persatu wajah yang ada di bandara tak ada salah satu dari mereka seseorang yang Naira cari.


"Ardan aku mohon jangan tinggalkan aku" gumamnya pelan sambil terus berjalan, dan bertepatan dia akan melanjutkan langkahnya di situ pula salah satu pesawat mulai terbang meninggalkan bandara tersebut.


"Kamu tinggalin aku Ar, Kamu tinggalin aku, Harusnya kemarin aku dengerin penjelasan kamu bukannya malah pergi, dan kamu ngelakuin apa yang aku katakan kemarin malam kamu benar-benar tinggalin aku" ucapnya lirih.


"Nai gimana? Ketemu?" Tanya Ayu. Naira hanya menggeleng lalu berhambur memeluk tubuh sahabatnya.


"Dia pergi ninggalin gue, dia tinggalin gw, apa dengan cara ini Tuhan hukum gw karena gak percaya sama Ardan, tapi ini sakit Yu ini sakit gue gak kuat buat menanggung sakit ini, orang yang paking gue cinta sekarang pergi, dia tinggalin gue jauh Yu" Naira menangis dalam dekapan Ayu.


"Udah sekarang loe tenang ok" ucap Ayu menenangkan.


Setelah dirasa Naira tenang mereka kembali ke kediaman Mading sebelumnya Ayu dan Lila mengantarkan terlebih dahulu Naira, lalu mereka pulang kekediaman mereka berdua.


Setelah hari itu Naira bertekad untuk tidak terlalu memikirkan Ardan lagi karena dia sadar masih ada orang orang yang menyayanginya, dia tidak ingin berlarut larut dalam bersedih.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2