
Naira baru saja sampai di kantor. Ia berjalan menuju keruangannya.
Setelah sampai di ruangan Naira mulai membuka komputer yang ada dihadapannya, ia melihat jadwal untuk hari esok dan dokumen dokumen lainnya.
Tidak terasa waktu kini menunjukkan pukul lima sore waktunya untuk para karyawan pulang.
Naira membereskan semua barang-barangnya yang ada di atas meja. Setelah itu ia keluar dari ruangannya menuju ruangan Presdir.
Tok tok
suara pintu di ketuk.
"Masuk." Suara seseorang yang ada di dalam ruangan.
***Krek**
Suara pintu di buka.
Seketika Ardan mendongakkan wajahnya dan senyumnya mengembang ketika dia melihat siapa yang membuka pintu ruangannya.
"Maaf Tuan, saya mengganggu, saya hanya ingin menyampaikan ini sudah jam pulang kerja, jadi saya pamit untuk pulang jika anda tidak ada keperluan lain lagi saya permisi." Ucap Naira.
"Bagaimana jika kamu aku antar pulang itung-itung sebagai ucapan terimakasih aku kepadamu karena sudah bersedia menjadi sekretaris ku." Ucap Ardan.
"Maaf Tuan, apa kata karyawan lain jika mereka melihat CEO baru mereka mengantarkan sekertarisnya pulang secara pribadi, dan untuk bersedia atau tidaknya saya menjadi sekretaris anda, saya tidak bisa menolak karena ini adalah tuntutan dari profesi saya, sekali lagi maaf Tuan, jika anda tidak ada keperluan lain lagi saya permisi." Ucap Naira, sambil melangkah pergi.
"Tunggu Nai." Ucap Ardan menghentikan pergerakan kaki Naira.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Naira sambil membalikkan badannya menghadap kearah atasannya sekaligus mantan kekasihnya itu.
"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucap Ardan.
"Iya?" Ucap Naira.
"Apa kau membenciku?" Tanya Ardan.
"Tidak" Jawab Naira sekenanya.
"Lalu kenapa kau menghindar dari ku?" Tanya nya lagi.
"saya tidak menghindar, saya hanya bersikap profesional." Ucap Naira walau di hatinya masih merasakan sakit jika mengenang kembali kebersamaanya bersama Ardan.
"Apa bisa kita seper..." Belum sempat Ardan menyelesaikan ucapannya Naira sudah menyelanya.
"Akh maaf Tuan, sepertinya saya sudah terlambat, saya duluan, permisi" Ucap Naira.
"Nai Naira tunggu Nai." Ucap Ardan berteriak kepada Naira yang sudah menghilang di balik pintu.
__ADS_1
.
.
.
Naira kini sudah berada di depan rumah megah dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi.
"Assalamualaikum." Ucap Naira.
"wa'alaikumsalam". Ucap satpam yang baru keluar.
"Ekh non Naira, apa kabar non, silakan masuk" Tambah satpam itu.
"Alhamdulilah baik pak, iya terimakasih pak" Ucap Naira ramah dan menunjukkan senyum manisnya.
"Mama ada pak?" Tanya Naira
"Nyonya ada non." Ucap Pak Jukri penjaga rumah ibunya itu.
"Baiklah pak, saya masuk dulu ya pak, permisi." Ucap Naira.
"Iya non silakan." Jawab Pak Jukri.
Naira kini berada di pintu utama rumah ibunya.
***Tok tok tok**
suara ketukan pintu*
"Iya sebentar." Ucap orang di didalam sana.
***Krek**
suara pintu di buka*
"Assalamualaikum, bi." Ucap Naira ramah.
"Wa'alaikumsalam, non Naira, ya ampun non makin cantik aja." Ucap bi Nur.
"Makasih bi, bibi juga makin cantik, mama adakan bi?" Tanya Naira.
"Ada non, Nyonya ada di ruang keluarga." Ucap bi Nur.
"Baiklah saya permisi ya bi." Ucap Naira.
"Iya non silakan." Ucap bi Nur.
__ADS_1
Naira melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, setelah sampai di ruang keluarga Naira melihat Ibunya dan Ayah tirinya sedang berkumpul dengan kaka laki lakinya.
"Assalamualaikum." Ucap Naira.
Seketika semua mata tertuju padanya.
"wa'alaikumsalam." Ucap Ibunya sedikit ketus.
"Untuk apa kau kesini?" lanjutnya lagi.
Bagai di tusuk seribu jarum sakit, sakit itulah yang Naira rasakan.
"a...ak...aku...ha...nya... merindukan Mama, ja...di...aku mengunjungi Mama" Ucap Naira dengan nada suara bergetar karena menahan air matanya yang kapan saja akan jatuh.
"Kau sudahkan melihat ibumu jadi sekarang kau boleh pergi" Ucap Ayah tiri Naira.
"Ba...baik...om, terimakasih atas waktunya, aku permisi, Assalamualaikum" Ucap Naira.
Naira keluar dari rumah megah milik keluarga baru ibunya dengan derai air mata dan isak tangis.
🖤🖤🖤🖤🖤
Naira kini telah sampai di rumah pamannya. Dia menghapus sisa air matanya, lalu memasang senyum manis seperti biasa.
"Assalamualaikum" Ucapnya dengan senyum manisnya walau hatinya masih merasakan sakit tali dia tutupi agar tidak membuat Bibinya khawatir.
"Wa'alaikumsalam, Nai kau sudah pulang? Apa kau baik baik saja?" Tanya Bibinya khawatir.
"Iya bibi aku baik-baik saja." Ucap Naira dengan senyum manisnya.
"Kau tidak pandai berbohong nak, bibi tau pasti ibu mu mengatakan hal yang menyakitkan." Ucap Bi siti dalam hati.
"Bi sepertinya aku tak enak badan aku ke kamar dulu ya. " Ucap Naira tak tahan untuk menahan air matanya di depan Bibinya.
"Apa kau sudah makan? Jika belum sebaiknya kau makan dulu baru setelah itu kau pergi istirahat." Ucap Bi Siti.
"Tidak usah bi aku sudah makan tadi di rumah mama, aku ke kamar dulu ya." Ucap Naira.
"Iya."" Ucap bi Siti.
"Kau tau nak jika kau bersikap seperti ini, kau akan membuat bibi merasa sedih, mungkin jika bukan kesalahan ayahmu kau takan terkucilkan seperti ini." Batin Bi Siti.
.
.
.
__ADS_1
Makasih buat kaka yang udah mampir, Maaf kalo masih banyak typo, tolong di koreksi aja nanti insyaallah diperbaiki, karena Intan juga masih pemula masih sama sama belajar. Jangan lupa like, comen, vote, dan kasih rate ya 😊😊😊