Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#14


__ADS_3

"Eh tunggu. Ck udah pergi lagi padahal mau minta nomor telepon nya" ucap Ardan berdecak kesal.


Semenjak hari itu Ardan sering ke taman tersebut hanya berharap untuk bisa berjumpa dengan Naira.


Sudah satu Minggu sejak pertemuan itu Ardan belum berjumpa kembali dengan Naira.


Hingga dia tak sengaja melihat Naira yang sedang duduk di bangku taman dengan laptop diatas pangkuannya.


Senyumannya seketika mengembang, dia berjalan menghampiri Naira.


"Boleh ikut duduk?" tanya Ardan.


"Boleh kok silakan aja mas, toh kursinya juga bukan punya nenek moyang aku" ucap Naira tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di atas pangkuannya.


Karena sudah mendapatkan ijin Ardan duduk di sebelah Naira, dan melihat apa yang sedang dia kerjakan.


"Lagi bikin skripsi ya Nai?" ucap Ardan.


"Iya mas" ucap Naira tanpa mengalihkan pandangannya.


"Eh, bentar ko dia tau nama gue" ucap batin Naira merasa heran. Lalu dia mengalihkan pandangannya menghadap laki-laki yang ada di sebelahnya. Ardan tersenyum menghadap Naira.


"Bentar mas ko Masnya tau nama saya?" ucap Naira heran.


"Kamu lupa aku ini Ardan yang waktu itu kamu tabrak" ucap Ardan.


"Ardan.... bentar aku inget inget dulu" ucap Naira mencoba mengingat. Setelah lama berpikir akhirnya Naira mengingatnya.


"Ooh iya aku ingat kamu Ardan yang itu, apa ada yang lecet? Atau ada yang rusak?" tanya Naira.


"Ooh bukan gak ada ko, gak ada yang rusak" ucap Ardan.


"Syukurlah" ucap lirih Naira.


"Boleh aku tanya gak?" tanya Ardan takut-takut.

__ADS_1


"Boleh mau nanya apa?" jawab Naira.


"Kamu udah punya pacar, maksudnya kan dari waktu itu kamu sendiri gak ada yang nemenin terus hari ini kamu juga sendiri,


jadi..." Belum sempat Ardan meneruskan ucapannya sudah terhenti karena ucapan Naira.


"Gak ada ko, siap sih yang mau sama cewek dekil kaya aku" ucap Naira.


"Gila! Dekil dia bilang, bening gini matanya gimana sih punya badan bagus muka cakep dia bilang dekil. Kayanya harus periksa mata nih anak" batin Ardan.


"Ardan kenapa bengong?" ucap Naira.


"Yah... eh enggak aku cuman aneh aja kenapa kamu bilang kamu jelek, padahal bening gini" ucap Ardan. Naira hanya tersenyum.


"Tapi serius gak punya pacar?" tanya Ardan.


"Seriuslah, lagian lebih enak gak punya pacar, gak ada yang harus di khawatirkan" ucap Naira sambil tersenyum.


"Iya juga sih" ucap Ardan sambil Manggut-manggut.


"Buat apa?" tanya Naira.


"Udah mana hp kamu sini" ucap Ardan.


"Buat apa sih?" tanya heran Naira.


"Udah sini aja" ucap Ardan mengambil handphone Naira.


Ardan menulis nonya sendiri lalu menghubunginya, setelah terhubung dengan hpnya dia menyimpan nomor Naira.


"Nah udahkan" ucap Ardan.


"Nih makasih" tambahnya lagi.


"Dasar aneh" ucap Naira, lalu mengambil handphonenya kembali.

__ADS_1


Ardan hanya tersenyum.


"Nanti kalau aku nelpon kamu angkat ya, aku udah save no aku di hp kamu" ucap Ardan.


"Kalo gak mau gimana?" tanya Naira.


"Aku yakin kamu gak bakal nolak buat angkat telepon dari aku" ucap Ardan dengan pdnya.


"Dih pd banget jadi orang" ucap Naira sambil terus melihat layar laptopnya.


"Alhamdulilah akhirnya selesai juga" ucap Naira sambil membereskan barang-barangnya. Setelah selesai Naira beranjak dari tempat duduknya.


"Eh.. tunggu kamu mau kemana?" tanya Ardan. Sambil mencekal tangan Naira.


"Yah mau pulang lah terus mau kemana lagi" ucap Naira sambil berusaha melepaskan cekalannya, tapi percuma Ardan menggenggamnya dengan erat.


"Kamu aku antar pulang" ucap Ardan sambil berjalan kearah mobilnya tanpa melepas genggamannya.


"Sekarang kamu masuk kedalam mobil" ucap Ardan.


"Gak usah aku bisa pulang sendiri" ucap Naira.


"Gak ada penolakan" ucap Ardan sambil mendorong Naira agar masuk kedalam mobilnya.


Setelah itu Ardan menutup pintu mobilnya lalu berlari kecil menuju tempat kemudi.


"Rumah kamu dimana?" tanya Ardan.


"Di jalan xx" ucap Naira.


Setelah itu Ardan menjalankan mobilnya, setelah sampai Naira turun dari mobil Ardan.


Karena buru-buru Ardan langsung pulang.


Singkat cerita Ardan mengutarakan isi hatinya kepada Naira di tempat pertama kali mereka bertemu. Naira pun membalas perasaan Ardan.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2