
Kini mereka sudah di dalam mobil, Ardan sangat senang akhirnya bisa berduan dengan sang kekasih, yahh meski Ardan saja yang merasa senang berbeda dengan Naira yang merasa kesal, bagaimana tidak kesal jika tiba-tiba di seret terus menurus, apa lagi ini adalah hari bahagia sang kakak, ingin rasanya Naira mencakar muka so' polos Ardan.
"Sayang, kau mendengarkan ku tidak sih?" Ucap Ardan yang sedari tadi mengoceh ngalor ngidul tetapi tidak didengarkan.
"Aku ingin kembali ke hotel Ar," Rajuk Naira tanpa memperdulikan ocehan Ardan, sungguh dia sangat ingin menikmati harinya bersama sang Kakak, setidaknya untuk hari ini saja, karena besar kemungkinan akan sulit untuk menemuinya nanti apa lagi Alvin sudah mempunyai istri, walaupun Alvin bukan kakak kandungnya tetapi Alvin yang paling mengerti dirinya jika dibandingkan dengan orang tuanya.
"Enough Nai, kita baru ketemu setelah 2 minggu berpisah,. dan selama itu kita juga jarang komunikasi, i'm miss you so much." Ungkap Ardan.
"Tapi Arrr." Protes Naira prustasi
Cup
__ADS_1
Ardan mengecup bibir Naira, membuat Naira mematung, ini ciuman pertama mereka setelah kembali bersama. Terkejut? Tentu saja,untung di dalam mobil tidak akan banyak orang yang melihat jika di luar sudah dipastikan Naira tidak akan mempunyai muka lagi, jangankan diluar di dalam mobil saja mukanya sudah memerah bak kepiting rebus.
"Aduh kenapa panas coba nih muka, mau senyum malu, pasti udah merahh banget, murahan banget sih muka gue ya ampun baru juga di kecup udah merah aja" Batin Naira
"I'm miss you." Ungkap Ardan lagi, tanpa tahu jika sang kekasih sedang Salting Brutal, memang yah bapak Ardan ini kurang peka untung Naira suka.
"Kita ke apart aku aja, aku mau menghabiskan hari ini hanya untuk kita saja."
"Dan tanpa ada penolakan." Ucapnya dengan wajah yang sangat errr, membuat Naira geram.
Kini kedua insan berbeda jenis kelamin juga beda ibu dan bapak tersebut sudah sampai di apartment sang Bapak Ardan. Dan jangan lupakan sang pemilik apartment sudah namplok seperti cicak kepada Naira. Didalam kamar hanya ada keheningan dengan mereka yang saling berpelukan untuk menyalurkan rasa rindunya
__ADS_1
"Kamu tadi pulang jam berapa?" Tanya Naira membuka pembicaraan setelah beberapa saat hening.
"Sekitar pukul dua." Gumam Ardan tidak jelas dikarenakan suaranya teredam oleh dirinya yang menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Naira.
"Sudah makan kah?" hanya anggukan yang Ardan berikan, sambil sesekali menciumi leher Naira.
"Stop it arr, geli tau." Tidak mendengar protesan sang kekasih. Tetapi bukannya berhenti Ardan terus menciumi leher Naira, hingga naik naik kepuncak gunung.
oke back
Ardan terdiam sejenak lalu menatap lekat Naira, mereka beradu pandang dengan Naira yang juga menatap lekat Ardan, hingga kecupan Ardan didahinya membuat metanya seketika tertutup, lalu kecupannya turun ke pada kedua matanya, hingga turun lagi kepada pipinya, dikecupnya pelan pipi kiri Naira, lalu pipi kanan Naira, juga kecupan kecupan kecil disekitar rahangnya, hingga pada akhirnya kecupan dibibir, bukan, bukan hanya kecupan saja tetapi sudah menjadi ******* basah, hingga tanpa sadar Naira membalasnya dan mengalungkan tangannya pada leher Ardan.
__ADS_1
Ciumannya semakin memanas, Ardan maupun Naira tidak ada yang menghentikan kecupan yang sudah berubah menjadi ciuman panas, keduanya sangat menikmati.