
Alvin berjalan menghampiri Naira dan mendapatkan seorang laki-laki tampan berada di depan pintu rumah Bibinya.
Alvin tersenyum kearah mereka, Naira yang menyadari Kaka Tirinya berjalan menghampiri mereka seketika di buat gelagapan. Dia tau Kaka Tirinya itu pasti akan berpikir yang tidak tidak.
Begitupun dengan Ardan yang melihat laki-laki berada di depannya tersenyum kepadanya bukannya membalas dengan senyuman dia malah menatap tajam laki-laki yang ada di hadapannya.
Alvin menghampiri Naira.
"Siapa Nai?" Tanya Alvin.
"Kenalkan Ka, ini Pak Ardan dia atasan aku di kantor" ucap Naira.
Ucapan Naira tadi membuat Ardan emosi bagaimana tidak dia sudah bilang kalau Naira adalah calon istrinya dan sekarang Naira malah bilang kalau dia adalah atasannya.
"Apa dia bilang atasan? Dia gak dengar tadi aku bilang apa, kamu itu calon istri aku Nai!" ucap batin Ardan.
Alvin yang melihat wajah Ardan yang merah karena ucapan adiknya itu seketika dia tersenyum jahil dia berpikir untuk menjahili laki-laki yang ada dihadapannya.
"Salam kenal Pak Ardan, kenalkan saya Alvin calon suaminya Naira" ucap Alvin.
"Ada apa ya Pak Ardan datang sepagi ini kerumah calon istri saya?" tambah Alvin dengan senyuman.
Ardan yang mendengar kata "calon istri" dari mulut Alvin membuatnya tambah emosi, tangannya sudah mengepal hingga buku-buku kukunya sudah kelihatan.
Begitupun dengan Naira yang di buat bingung dengan kata kata kakaknya. Naira melihat kearah kakanya dengan tatapan penuh tanya.
Alvin yang juga sedang menatap Naira seakan tahu apa yang dipikirkan oleh adiknya itu hanya mengedipkan sebelah matanya.
"Saya datang kemari karena ingin menjenguk bawahan saya" ucap Ardan dengan menatap tajam Alvin.
"Ouh begitu ya, sepertinya anda perhatian sekali ya kepada calon istri saya" jawab Alvin.
"Aduh sayang ternyata sudah siang, sayang sekali padahal aku ingin sekali berlama-lama denganmu tapi karena tuntutan dari pekerjaan jadi aku harus segera ke kantor, nanti aku datang kemari lagi dan jaga diri kamu ya" ucap Alvin sambil mencium kening Naira, dan memeluknya.
Ardan yang melihat itu merasa geram dan menatap tajam dua orang dihadapannya.
Alvin tersenyum penuh kemenangan karena telah membuat laki-laki di depannya emosi.
Alvin memeluk Naira dan membisikkan sesuatu yang membuat Naira tercengang, dan melotot.
__ADS_1
"Nai, apa kau merasa dia menyukaimu? Kaka rasa dia menyukaimu jadi kaka akan menjahili calon adik ipar ku" bisik Alvin.
"Baiklah sayang aku pamit jaga dirimu ya, bye~" Tambah Alvin.
"Ya hati-hati" ucap Naira dengan tersenyum manis.
Naira melihat kearah Ardan, Ardan yang sedang emosi berusaha untuk tersenyum.
"Ada keperluan apa ya Pak Ardan hingga repot-repot datang ke rumah saya secara pribadi?" tanya Naira, dengan senyuman nya.
"Bukankah aku sudahlah bilang aku ingin menjenguk calon istriku" ucap Ardan tersenyum manis.
"Calon istri? Tapi di sini hanya ada saya Pak. Apa mungkin calon istri bapak ada di daerah sini ya?" ucap Naira.
"Calon istriku ada dihadapan ku" ucap Ardan.
"Hah?" ucap Naira bingung.
"Bukankah tidak sopan jika ada tamu tidak dipersilahkan untuk masuk" ucap Ardan mengalihkan pembicaraan.
"Ahh... iya saya, silakan masuk, Pak!" ucap Naira.
Ardan masuk kedalam rumah Naira. Walau rumah itu sederhana tapi terawat dengan baik. Ardan mendudukkan dirinya di kursi yang berada di ruang tamu. Dan Naira pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Saya sudah minum obat" ucap Naira.
"Nai, bisakah jika kita di luar kantor tidak usah berbicara seformal itu" ucap Ardan.
"Tidak bisa" ucap Naira.
"Baiklah, tidak apa-apa" ucap Ardan berusaha untuk bersabar.
"Jika tidak ada kepentingan lain anda boleh pergi, karena saya ingin beristirahat" ucap Naira.
"Gak aku gak akan pergi aku bakal temenin kamu untuk istirahat" ucap Ardan.
"Tapi saya tidak enak jika hanya berdua dengan anda, nanti disangkanya ngapa-ngapain lagi sama tetangga" ucap Naira mencoba untuk memberi pengertian.
"Aku gak bakal ngapa-ngapain, aku janji" ucap Ardan kekeh.
__ADS_1
"Ardan emang kamu gak ngantor? Baru juga sehari jadi CEO masa udah mau bolos aja" ucap Naira kesal.
Ardan tersenyum senang akhirnya Naira tidak berbicara formal lagi.
"Ya gak apa-apa yang penting hari ini aku temenin kamu toh aku juga udah ijin sama ayah" ucap Ardan enteng.
"Tapi Ardan..." Belum sempat Naira melanjutkan ucapannya jari telunjuk Aradn sudah menempel di bibirnya.
"Ssttt... Cukup oke, aku janji gak bakal ngulangin hal ini tapi hari ini aja aku temenin kamu, please" ucap Ardan dengan nada memohonnya.
"Oke hari ini aja, aku pegang ucapan kamu" ucap Naira.
"Oke, aku janji" ucap Ardan.
"Tapi mending kamu pulang" titah Naira.
"Lah emang kenapa?" tanya Ardan polos.
"Kamu mau kita disangkanya ngapa-ngapain, aku sih gak mau" ucap Naira.
"Kan kita gak ngapa-ngapain kenapa harus takut" jawab Ardan.
"Ardan tolong kamu keluar karena Paman dan Bibi sedang tidak ada di rumah aku takut tetangga pada mikir yang nggak-nggak" ucap Naira memberikan pengertian.
"Oke, tapi aku tetep temenin kamu cuman bedanya aku nunggu kamu di mobil" ucap Ardan mengalah.
"Iya" ucap Naira tersenyum. Ardan membalas senyuman Naira.
"Tapi sebelum aku keluar aku mau nanya dulu" ucap Ardan.
"Mau nanya apa?" jawab Naira.
"Apa kamu akan menikah?" tanya Ardan serius.
"Iyalah masa aku mau jadi perawan tua" ucap Naira dengan tersenyum kecil.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Ardan.
"Ntahlah" ucap Naira.
__ADS_1
Ardan tersenyum senang. Dan berlalu pergi.
"Yes, masih ada kesempatan sebelum janur kuning melengkung" ucap Ardan.