
Di Kediaman Ardan
Ardan baru saja keluar dari mobil mewahnya. Dia masuk ke dalam rumah mewah milik orang tuanya.
"Assalamualaikum" Ucap salam Ardan.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Bunda Ratna Ibu Ardan.
"Ardan tunggu nak, Bunda mau bicara sama kamu!" Ucapnya.
"Mau bicara apa Bundaku sayang?" Ucapnya menghampiri bundanya dan menyimpan kepalanya di atas pangkuan ibunda tercintanya.
"Apa kau lelah?" Tanya Bunda.
"Tidak, karena rasa lelahnya udah hilang ketika aku bertemu Bunda" Jawab Ardan sambil senyum Pepsodent.
"Bunda dengar yang menjadi sekretaris mu Naira?" Tanya Bunda.
"Iya" Ucap Ardan dengan tatapan sendu.
"Coba saja jika tidak ada insiden itu pasti Naira akan bertemu dengan Ayah dan Bunda" Tambahnya lagi.
"Tidak apa yang penting Ayah dan Bunda sudah melihatnya walau dia tidak mengenali kami" Ucap Bunda menenangkan Ardan.
"Apa dia sudah memaafkan mu?" Tanya Bunda.
"Entahlah, mungkin dia masih membenciku, tapi ketika aku tanya dia benci aku dia jawab nggak, apa sesulit itu ya untuk dia memaafkan ku?" Ucap Ardan.
"Lagian kamu sok ganteng" Ucap Bunda sambil terkekeh.
"Ish Bunda ini aku lagi ngomong serius Bunda jawab becanda" Ucap Ardan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Udah gak usah di monyong monyongin tuh bibir nanti di cium sama curut lagi" Ucap Bunda dengan kekehannya.
"Aish tau ah Bunda mah" Ucap Ardan manja.
"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?" Tanya Adit.
"Kalian tau suara kalian kedengaran sampai ke lantai atas" Tambah Adit.
"Tau nih Bunda, Yah. Orang lagi ngomong serius malah jawab becanda" Ucap Ardan.
"Iya kan emang kamu orang, terus kalo bukan orang apa coba?" Jawab Adit sambil terkekeh.
__ADS_1
"Tau ah gelap" Ucap Ardan mengerucutkan bibirnya.
"Ko gelap disini terang loh Ardan, kamu gak bisa bedain apa mana yang terang sama yang gelap?" Tanya Bunda sambil tertawa kecil.
"Sungguh kalian memang pasangan paling serasi" Ucap Ardan.
"Iya harus dong, ya gak sayang" Ucap Adit.
"Iya kau benar" Ucap Ratna.
"Ya saking serasinya kalian kompak dalam segala hal termasuk menggoda ku" Ucap Ardan dramatis.
"Sudahlah aku ke kamar dulu dari pada nanti menjadi bahan bullying kalian" Tambah Ardan, sambil melangkah pergi.
"Ya ya pergi sana kami juga tidak ingin ada pengganggu" Ucap Adit dengan sedikit berteriak.
"Sudah sudah, aku akan menyiapkan makan malam dulu kau akan tunggu disini apa mau tunggu di meja makan?" Tanya Bunda.
"Aku tunggu disini saja" Ucap Adit.
"Baiklah" Jawab Bunda.
Di Kediaman Naira
Setelah selesai dengan ritual mandinya dan berganti pakaian, Naira merebahkan dirinya di ranjang miliknya.
Kejadian dimana saat dia berkunjung ke rumah Ibunya seketika melintas dalam pikirannya, air matanya mengalir melewati pipi mulusnya.
Naira menangis dalam diam yang terdengar hanya isak tangisnya saja.
***Tok tok tok**
Suara ketukan pintu*.
"Nai, Naira!" Panggil bi Siti dari luar kamar.
Naira menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.
"Iya, sebentar bi" Sahut Naira.
***Klek**
Suara pintu di buka*.
__ADS_1
Bi Siti membuka pintu kamar Naira terlihat keponakannya itu sedang duduk di bibir ranjang, dengan mata yang sembab dan hidung yang merah.
"Apa boleh bibi tanya?" Ucap Bi Siti mengawali pembicaraan.
"Boleh bi" Ucap Naira dengan tersenyum, dan menyimpan kepalanya di pangkuan bibinya.
"Bagaimana apa sudah bertemu dengan mama mu?" Tanya bi Siti sambil tersenyum.
"Iya, aku sudah bertemu dengan mama, bahkan aku makan masakan mama, tadi mama bilang suruh nginap di sana cuman karena aku gak bawa baju jadi cuman sebentar deh" Ucap Naira dengan senyum terpaksanya.
"Apa benar? kamu tau bukan Bibi tidak suka dibohongi" Ucap Bi Siti dengan serius.
"Tapi jika kamu memang tidak mau cerita tidak apa apa, Bibi tidak akan memaksa, karena mungkin Bibi sudah tidak dianggap lagi oleh mu" Ucap Bi Siti dengan tatapan sendu.
"Jangan bilang begitu, Bibi tetap number one" Ucap Naira.
"Lalu apa benar yang kamu ucapkan tadi itu benar?" Tanya Bi Siti.
"Be... benar, Bi" Ucap Naira sambil menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.
"Kamu tau sayang jika kamu seperti ini kamu hanya akan membuat hati Bibi sakit" Ucap Bi Siti.
Seketika air mata Naira mengucur deras membasahi pipinya, isakan tangisnya pun sudah terdengar di pendengaran Bi Siti, membuatnya merasakan kesedihan yang dirasakan oleh keponakannya
"Aku harus bilang apa Bi? Apa yang membuat Mama membenciku Bi? Apa karena kejadian itu? Apa aku salah membela Ayahku? Aku tau Ayah salah Bi tapi...." Naira tak mampu melanjutkan ucapannya. Sungguh untuk membayangkan nya saja sudah pasti akan menyayat hatinya.
"Sttt... sttt..., maafin Bibi ya tidak seharusnya Bibi memaksa kamu" Ucap Bi Siti merasa bersalah.
"Bi Naira juga pengen Bi, ngerasain gimana rasanya di sayangi sama orang tua Naira sendiri Bi, Naira pengen di masakin sama Mama, di bangunin kalo pagi, pengen manja manja, curhat kalo Naira ada masalah, tiduran di pangkuan mama, jangankan untuk kaya gitu bahkan untuk ngobrol sebentar aja Mama gak mau. Apa mungkin bener ya Bi kalo Naira itu gak pantes buat disayang sama Mama" Ucap Naira mengeluarkan uneg-unegnya.
"Naira dengarkan Bibi, apa selama ini Bibi tidak melakukan apa yang Naira sebutkan tadi? Apa Naira tidak pernah bermanja-manja kepada Bibi? Semua Naira rasakan bukan? Naira masih punya Bibi dan Paman" Ucap Bi Siti.
"Tapi Naira juga pengen Bi kaya Kakak sama Adik tapi Mama gak pernah liat Naira, Naira di mata Mama itu udah kaya ke orang lain" Ucap Naira dengan air mata yang sudah membanjir pipi mulusnya.
Paman yang melihat dari luar kamar keponakannya itu meneteskan air mata, terbersit rasa bersalah di benaknya mungkin jika dirinya tidak menyuruh keponakannya itu untuk pergi keponakan kesayangannya tidak mungkin seterpuruk ini.
.
.
.
Makasih buat kaka yang udah mampir, Maaf kalo masih banyak typo, tolong di koreksi aja nanti insyaallah diperbaiki, karena Intan juga masih pemula masih sama sama belajar. Jangan lupa like, comen, vote, dan kasih rate ya 😊😊😊
__ADS_1