Mantanku Presdirku

Mantanku Presdirku
#21


__ADS_3

Setelah kepergian Ardan Naira menghembuskan nafasnya lega.


Sesuai dengan yang di bicarakan oleh Naira tadi pagi bahwa Ardan ada jadwal meeting dengan perusahaan A pukul 09:00, kini Naira dan Ardan telah sampai di perusahaan A.


Meeting dengan perusahaan A memakan waktu hingga jam 12 siang, Ardan dan Naira memilih untuk makan bersama di salah satu cafe yang dekat dengan tempat mereka meeting.


Ardan melambaikan tangannya kearah seorang pelayan, Setelah pelayan itu berdiri di sebelah mejanya pelayan itu memberikan buku menu kepada Ardan.


"Kamu mau pesan apa Nai?," tanya Ardan.


"Aku salad aja," ucap Naira sambil tersenyum.


"Cuman itu aja? Mau nambah gak?," tanya Ardan.


"Nggak itu aja cukup," ucap Naira.


"Baiklah, Mba saladnya satu, steak satu, minumnya jus alpukat dua," ucap Ardan sambil menyerahkan buku menu.


"Ardan," panggil Naira.


"Iya,"


"Emm... Boleh nggak aku ngomong sesuatu sama kamu," tanya Naira ragu.


"Boleh, emang mau ngomong apa?" tanya Ardan dengan serius.


"Huft" Naira mengambil nafasnya dalam- dalam.


"Aku mau bilang kalau aku di jodihin" ucap Naira sambil menunduk.

__ADS_1


Belum sempat Ardan menjawab pelayanan datang membawa makanan yang mereka pesan.


"Silahkan" ucap pelayan itu.


"Terimakasih" jawab Naira dengan senyuman.


Hening


Hening


Mereka memilih diam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan lagi, Ardan memilih untuk memakan makanan nya terlebih dahulu. Setelah menghabiskan makanannya Ardan memulai pembicaraan nya yang sempat tertunda tadi.


"Maksud perkataan kamu tadi apa Nai?," tanya Ardan.


"Maksudnya aku, aku di jodihin Ardan," ucap Naira sambil menunduk.


"Pacar?," tanya Naira bingung.


"Iya yang waktu itu aku kerumahnya kamu" ucap Ardan dengan bibir mengerucut.


"Ouh, itu kakak aku, Ardan, kamu kira itu beneran pacaran?" ucap Naira sambil tertawa kecil.


"Kakak? kamu gak bohong mna Nai?" tanya Ardan tak percaya.


"Iya aku berani sumpah" ucap Naira sambil tersenyum.


"Terus masalah perjodohan kamu gimana?" tanya Ardan lagi.


"Aku di jodihin sama temen mamah aku" ucap Naira tertunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca .

__ADS_1


"Terus kamu terima?" tanya Ardan penuh selidik.


"Aku gak bisa nolak, aku cuman mau bilang sesuatu tapi aku mau ngomongin yang mau aku bicarakan di taman tempat pertama kali kita bertemu" ucap Naira dengan nada memohon.


"Baiklah" ucap Ardan.


Setelah Ardan membayar, mereka keluar dari restoran dan masuk kedalam mobil, di dalam mobil tidak ada yang bersuara satu pun, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mereka telah sampai di taman. Ardan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu lalu ia keluar bersama dengan Naira.


Naira dan Ardan duduk di bangku favorit mereka. Naira mulai membuka suara.


"Kamu tau di sini, di tempat ini untuk pertama kalinya aku merasa bahagia dan di tempat ini juga aku merasa sakit, aku mengalami luka yang amat menyakitkan tapi tak berbekas, ibarat kaca yang sudah hancur, dan itu benar hati aku hancur sehancur hancurnya" Naira berkata sambil melihat ke depan dengan tatapan kosong tanpa ia sadari sebening kristal jatuh dari pelupuk matanya.


Ardan hanya diam membisu tak tau harus berkata apa, karena dia tau dia bersalah, dan tanpa tau malunya dia meminta perempuan yang telah ia sakiti untuk kembali lagi.


"Dulu aku sering berkeluh kesah kesini tanpa ada yang tau penderitaan aku kecuali rembulan, aku cuman percaya sama bulan untuk saat ini dan seterusnya karena dia tidak mungkin berkhianat atau pun mengingkari janjinya" tambah Naira, dia masih terdiam.


"Dan setelah kamu pergi....


.


.


.


Lanjut besok


Jangan lupa like komen vote sama kasih rate. (Ingat wajib) salam sayang dari intan 😄

__ADS_1


__ADS_2