Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Kencan Sukses


__ADS_3

Malam ini aku meminjam mobil ayahku, mengendarainya menuju sebuah restoran. Aku berdoa sepanjang jalan, berdoa kalau pria yang akan aku temui memang benar-benar sesuai dengan kenyataan.


Sesampainya aku di lokasi, aku kemudian memarkirkan mobilku tepat di seberang restoran tempat kami akan bertemu.


Aku menengok keluar dari arah jendela mobil, memperhatikan apakah pria itu sudah datang atau belum dan memastikan apakah pria itu sesuai dengan yang ada di profilnya.


Rencananya hari ini kami bertemu di Fireflies jam 18.30 dan aku tiba di sini sekitar 18.15 jadi, aku masih punya waktu beberapa menit untuk mempersiapkan diri dan mentalku untuk bertemu dengannya.


Tepat 18.26 aku melihatnya berjalan menuju pintu masuk restoran itu. Mobilnya ia parkir agak jauh dari ku dengan jalur yang berlawanan. Aku hanya melihat wajahnya dengan sekilas sebelum dia berbalik arah dan masuk kedalam restoran.


Hal yang kutandai, dia orangnya tepat waktu.


Aku merapikan diri sebelum keluar dari mobil dan menuju restoran. Dan dengan segera, aku dengan cepat masuk ke dalam restoran agar membuatnya terkesan kalau aku juga orangnya tepat waktu.

__ADS_1


Setelah itu, salah satu pelayan restoran itu mengantarku menuju ke meja di mana pria itu berada.


Pria itu bernama David dan aku bersyukur orangnya memang benar-benar real dan tidak seperti yang aku pikirkan.


Dia kemudian menyapaku dengan ramah dan kemudian dia menarik kursi ku agar aku bisa duduk. Aku tidak tahu kalau orang-orang masih melakukan hal itu, aku benar-benar berpikir bahwa meskipun David seorang pria yang lebih tua - ia masih memiliki nilai-nilai kesopanan yang ia tanamkan didalam dirinya.


"Jadi, nama aslimu adalah Nao?" David bertanya padaku sembari menunggu makanan kami untuk disajikan. Kami sudah memesan makanan beberapa menit yang lalu.


"Ya, tapi sebenarnya Naomi," kataku padanya.


"Tidak juga," aku terkekeh teringat bagaimana nama panggilan itu muncul, "Sebenarnya Sahabatku, Karin, dialah yang membuat akun itu, jadi dialah yang membuat nama panggilan itu."


"Kau tahu, aku bertanya-tanya setelah bertemu denganmu, tapi sekarang aku mengerti," kata David, membingungkanku.

__ADS_1


"Apa maksudmu sebenarnya?" Aku bertanya padanya tepat saat pelayan kembali membawa makanan kami.


Kami berdua mengucapkan terima kasih ketika pelayan meletakkan dua piring steak dan bebek confit dengan kentang di depan kami.


"Maksudku, sekarang setelah aku bertemu denganmu secara pribadi aku tidak bisa tidak bertanya-tanya, yah kau cantik, pintar, wanita muda yang cerdas seperti yang kau jelaskan di situs kencan itu." Kata David padaku, "Terutama, seseorang dengan nama seperti itu, Kau tidak benar-benar tampak seperti tipe yang membutuhkan kencan online. Sekarang aku mengerti kalau kau melakukannya karena temanmu. Teman bisa sedikit berpengaruh bukan? "


"Ya, tentu. Dia bertekad untuk menyuruhku masuk ke situs itu. Meskipun aku sudah bilang padanya kalau aku tidak tertarik," kataku padanya, "Bagaimana denganmu? Kenapa kau ada di situs kencan seperti itu? Aku tidak melihat mu sebagai tipe pria yang membutuhkan internet untuk melakukan kencan seperti ini."


"Benarkah? Apa kau mengatakan kalau aku menarik, tampan dan masih muda yah haha" David bercanda.


"Sebenarnya kau sangat tampan ..."


Tunggu apa!? Omg, apa aku benar-benar mengatakan hal itu dengan pede. Oh sial.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Aku minta maaf aku tidak bermaksud. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku biasanya tidak seberani ini, aku ..."


"Tidak, tidak apa-apa. Kenapa kau meminta maaf?" David terkekeh, "Santai saja. Kau baru saja dengan jujur memberiku pujian ​​yang mungkin akan menyebabkan kepalaku menjadi besar sekarang, tapi terima kasih. Jangan minta maaf padaku, jujur ​aku​ menghargai keberanianmu yang tiba-tiba seperti itu, membuatku merasa hebat tentang diriku. Tidakkah kau melihat, kau baru saja meningkatkan rasa ego dan kepercayaan diriku. Dan sebagai catatan kau juga bahkan jauh lebih cantik."


__ADS_2