
"Ayah, tidak bisakah aku makan di kamarku saja?" Aleah bertanya pada David saat kami duduk di meja makan untuk makan malam.
Aku menghabiskan akhir pekanku bersama David sekali lagi dengan anak-anaknya disini. Kami saat ini sedang makan malam bersama, Kau tahu seperti keluarga. David memintaku untuk menghabiskan akhir pekanku bersamanya sekali lagi, setelah bertemu dengan anak-anak itu minggu lalu, kurasa ini adalah cara David untuk mencoba membuat kami lebih akrab tapi sialnya itu tidak berhasil.
"Tidak, kita akan makan bersama disini," kata David padanya.
"Ayah, aku masih belum lapar," rengek Aleah.
"Tadi kau bilang sangat lapar dan ingin memakan sesuatu tapi sekarang kenapa rasa laparmu tiba-tiba menghilang?" David mengangkat alis.
"Itu sebelum ... tidak apa-apa, aku hanya akan duduk di sini," dia memutar matanya sebelum mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim sms. "Sepertinya aku tidak punya pilihan selain duduk di sini meskipun aku tidak mau."
Aku sama sekali tidak melewatkan tatapan kecil yang dia tunjukkan sebelum mengetik diponselnya. Aku menatapnya kemudian pada David dan memperhatikan kalau dia benar-benar mengawasiku. Aku hanya duduk di sana bermain-main dengan makanan di piringku. Kekasaran Aleah sudah cukup untuk membuatku kehilangan selera makan. Aku pikir itu akan berbeda untuk yang kedua kalinya saat kami bertemu, tapi ini yang terburuk. Aku sudah mencoba berbicara dengan Aleah sejak aku tiba di sini, tapi dia dengan jelas bilang padaku kalau dia tidak ingin aku bicara dengannya dan kemudian berjalan pergi. Aku memutuskan kalau aku tidak akan mencoba lagi, aku tahu masih terlalu dini untuk mulai menilai atau membuat keputusan tentang dia, tapi dia sangat nakal dan tidak sopan. Dia tidak ingin aku bicara dengannya maka aku tidak akan melakukannya, aku hanya akan memusatkan perhatianku pada gadis kecil manis yang sepertinya sudah mencintaiku. David tidak menyadari betapa tidak sopannya putrinya kepadaku, saat David menoleh dia bersikap biasa saja tapi saat David melangkah keluar atau tidak melihatnya, anak itu melototiku.
Dengan makan malam bersama, itulah cara David untuk mencoba membuat kami terikat, tapi itu sangat mustahil, itu butuh waktu lebih banyak dari sekadar sarapan dan pertemuan makan malam agar cara itu berhasil.
__ADS_1
"Aleah, bisakah kau meletakkan hpmu selama beberapa menit. Kita sedang makan, ingat apa yang aku katakan tidak ada ponsel di atas meja makan," kata David padanya.
"Tapi Ayah, aku hanya mengirim pesan ke Amanda. Lagi pula aku tidak makan," alasannya.
"Aleah itu intinya. Waktu makan adalah waktu keluarga, kau harus istirahat sejenak dari ponsel dan teman-temanmu dan berinteraksilah dengan anggota keluarga," kata David padanya.
"Dia bukan keluarga kita," Aleah memelototiku sebelum melihat kembali ke ayahnya, "jika waktu makan adalah waktu keluarga dan aku harus istirahat sejenak dari berkomunikasi dengan teman-temanku, kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya hal yang sama berlaku untukmu dan temanmu? Dia bukan keluarga kalau begitu."
"Aleah, jangan kasar," David mengomel serius, "minta maaf sekarang!!"
"Karena bertingkah seperti anak yang tidak sopan dan bersikap kasar kepada Naomi," David berkata kepadanya, "Naomi ada di sini karena aku mengundangnya, aku ingin dia ada di sini."
"Ayah! Ini tidak adil! Kenapa aku harus minta maaf padanya !? Aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!"
"Aleah, perhatikan nada bicaramu saat kamu berbicara dengan ayah. Berhentilah bertingkah seperti anak nakal dan minta maaf," kata David padanya.
__ADS_1
"Maaf," Aleah bergumam sebelum membanting ponselnya sedikit keras di atas meja dan membungkuk di kursi.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sampai-sampai tiba-tiba seperti ini atau kamu sedang ada masalah?" kata David padanya.
Aku merasa sangat tidak nyaman sekarang. Ini seperti pertama kalinya dalam beberapa saat aku kehilangan kata-kata dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana atau apa yang harus aku katakan. Aku merasa seolah-olah semuanya sudah mulai berantakan di sini. Aku tahu Aleah sangat membenciku karena alasan yang tidak kuketahui.
"Aku menghafal sebuah lagu baru hari ini di sekolah," Alisa berbicara, entah bagaimana, meredakan ketegangan yang mulai tumbuh.
"Ya? Tentang apa?" Aku tersenyum padanya.
"Ini tentang lima ikat balon, kau ingin mendengarnya?" Dia bertanya sambil tersenyum.
"Ini menarik," David tersenyum, akhirnya keluar dari keseriusannya.
"Tentu, silakan sayang."
__ADS_1