Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Hadiah Pakaian Dalam


__ADS_3

"Hari ini terasa sangat membosankan, kan? " kata Heni salah satu teman kami dari kampus datang duduk bersama kami dan kami semua tertawa.


"Aku juga merasakan hal yang sama," Wanda, teman kami yang lain merasa terkekeh, "Kita berada di pesta kampus yang meriah, tapi kita ada disini duduk di sudut sambil meminum minuman murahan dan menyaksian semua orang menikmati waktu mereka."


"Aku tidak tahu soal itu, tapi kalau aku cukup menikmati diriku sendiri disini, duduk dan mengobrol bersama kalian semua," kataku kepada mereka sambil menyesap minumanku.


"Ya, aku juga." Karin setuju.


"Akhir-akhir ini kau dan Naomi terlihat berbeda belakangan ini Karin," kata Heni.


"Apa maksudmu?" Aku bertanya dengan bingung, "Aku tau, aku selalu membosankan, sementara Karin di sini selalu menikmati pesta dengan bahagia."


"Kau benar." Wanda tertawa ketika aku melemparkan kacang ke arahnya.


"Ya, ada apa dengan kalian berdua? Biasanya kau dengan Karin bersenang-senang menikmati pesta tapi sekarang kau di sini menyendiri bersama bayang-bayangmu dengan kami. Biasanya kau akan menari dengan seorang pria, dan tidak mungkin duduk di sini seperti ini" Heni terkekeh, "Apa kau sekarang sudah menjadi orang yang sok suci?"


"Tidak juga, tapi bukannya memang Naomi sudah dari dulu menjadi orang yang suci," Karin menunjuk ke arahku sambil tertawa.


"Ahh kau ini." Aku main-main mengayunkan tangannya.


"Tapi kau selalu bertingkah seperti itu."


"Aku, yah, aku baru saja memutuskan untuk menjadi orang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab sekarang karena aku juga seorang wanita yang suatu hari nanti akan menikah." Karin tertawa "Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa kulakukan di sini. "


"Apa itu, Coba katakan !?"


Heni dan Wanda berkata dengan penuh semangat.


"Yah, seperti yang sudah kau ketahui sejauh ini, baru-baru ini aku sudah berkencan dengan seorang pria dan aku serius kali ini. Jadi ada perilaku tertentu yang tidak bisa aku tampakkan lagi karena aku yakin dia tidak akan suka dan aku tidak ingin mengambil risiko dan mengacaukan segalanya, jadi aku benar-benar ingin melepaskan kehidupan liarku ini dan menjadi orang yang suci seperti Naomi" Karin terkekeh.


"Oh begitu!"


Beberapa hari kemudian...


"Aku mengalami hal buruk hari ini," kataku pada David melalui telepon saat aku berbaring di tempat tidur.


"Kenapa bisa?" Tanya David.


"Yah, aku ujian hari ini dan aku tidak cukup siap dan selain itu kepalaku terasa sakit dan aku hampir saja tidak bisa berkonsentrasi. Aku yakin aku tidak mendapatkan nilai bagus kali ini," kataku kepadanya "Dan sejenak aku merasa sedih."


"Sayang, apa kau baik-baik saja sekarang? Apa kepalamu masih terasa sakit?" David bertanya padaku.


"Tidak apa-apa, sekarang aku sudah baik-baik saja. Aku sudah meminum dua tablet ibuprofen," jawabku.


"Oh, baik itu bagus. Aku senang kamu merasa lebih baik. Yakinlah bahwa meskipun kamu sedang dalam keadaan tidak baik, kamu sudah melakukan yang terbaik." David mendorong "Jangan stres, teruslah melakukan yang terbaik."


"Aku akan melakukan yang terbaik,"

__ADS_1


"Kamu harus, kamu hanya perlu mencoba merilekskan dirimu, dan jangan pikirkan hal lain karena stres tidak akan ada gunanya," kata David padaku.


"Aku tahu, aku tahu aku hanya kecewa dengan kondisiku hari ini," aku menjawab, "Jadi, apa yang kamu lakukan sekarang?"


"Aku sedang di tempat tidur berbaring, berbicara denganmu, menyalakan TV juga tapi aku tidak menontonnya, aku hanya fokus pada suaramu yang indah," kata David padaku membuatku tersenyum. "Bagaimana denganmu? "


"Sama," kataku, "ini sudah menjadi rutinitasku di malam hari."


"Sebelum aku bertemu denganmu, aku biasanya hanya bekerja lembur lalu pulang," David memberitahuku, "Aku tidak punya banyak kegiatan yang harus kulakukan setelah aku pulang, uhh betapa membosankannya aku."


"Sepertinya kamu perlu teman," aku terkekeh.


"Apa kamu menawarkan diri?" David bertanya, "Omong-omong, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Apa?" Aku bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Apa maksudmu waktu itu, kamu bilang kalau kamu ingin datang ke tempatku pada Jumat malam dan kamu ingin aku memasakkan sesuatu untukmu?" Tanya David mengejutkanku.


"Tempatmu?"


"Ya rumahku, tapi jangan khawatir itu bukan taktik untuk membawamu ke tempatku supaya aku bisa menidurimu atau apa pun itu..."


"Tidak, aku tahu. Hanya saja, aku tidak tahu kamu tinggal dimana," jawabku.


"Hehe maaf, aku tau agak sedikit aneh, kita sudah lama berkencan tapi sampai sekarang kau bahkan belum pernah tau di mana aku tinggal," kata David kepadaku, "Aku pikir akan adil jika kau tahu di mana aku tinggal sama seperti bagaimana aku tahu di mana kau tinggal. Mungkin aku bisa menjemputmu daripada kamu mengemudi sendiri."


"Tidak apa-apa biar aku yang pergi sendiri ke sana, asal kamu share lokasimu," kataku kepadanya, "Lagipula Mobil yang kau beri memiliki navigator GPS, ingat?"


"Kamu juga bilang akan memasakkan makan malam untukku?" Aku berkata kepadanya.


"Ya"


"Seberapa hebatkah dirimu, koki ku?" Aku bertanya terkekeh.


"Baiklah, aku tidak akan membual soal seberapa hebatnya diriku memasak dan yah aku akan memperlakukanmu juga dengan khusus," kata David kepadaku.


"Aku akan sangat menantinya," aku menjawab.


"Aku jamin itu akan terjadi," David terkekeh.


"Baiklah, Chef David. Sampai jumpa di Jumat malam" Aku tersenyum.


Keesokkan harinya..


Di Kampus..


"Hei teman-teman, apakah kalian semua sudah dengar kalau nanti kita akan praktek mengajar tiga minggu lagi ditahun baru yang akan datang?" Carlota, salah satu teman sekelas kami bertanya saat dia mampir ke meja kami di mana Karin, Heni dan aku sedang makan siang di Kantin.

__ADS_1


"Ya, aku sudah mendengarnya," jawab Hilary, "Tunggu dulu, benarkah?"


"Aku tidak tahu, aku mendengarnya sendiri, jadi aku bertanya sama kalian apakah hanya aku yang mendengar kabar ini. " Carlota menjawab.


"Serius? Kenapa kita harus melakukan praktek mengajar lagi, bukankah kita sudah melakukannya sudah 6 kali pada minggu lalu," Karin mengerutkan kening.


"Ya, apa tujuannya melakukan itu lagi?" Aku berkata dengan prihatin.


"Aku akan bertanya pada Dosen," kata Heni berdiri.


"Aku benar-benar ingin tahu apakah itu benar atau tidak, jika memang iya aku punya waktu seminggu sebelum masuk liburan tahun baru untuk mempersiapkan diri secara mental untuk tugas itu sekali lagi," kataku kepada mereka.


"Apa kamu akan menemuinya sekarang?" Carlota bertanya kepada Heni sambil mengumpulkan buku-bukunya dari meja.


"Ya, dia seharusnya sudah ada di kantornya sekarang," Heni memandang arlojinya kemudian dia mengambil buku-bukunya, "Aku ingin membahasnya sebelum kuliah berikutnya. Lagi pula, aku harus tetap membahas tugas terakhir dengannya."


"Oke, tunggu. Aku akan ikut denganmu," Carlota berdiri dan menoleh kepada kami, "Sampai Nanti kawan."


"Sampai jumpa," kata Heni.


"Ya, nanti beri tahu kami apa yang kau tahu," Kataku.


"Oke," dia mengangguk sebelum dia dan Carlota pergi.


"Aku tidak sabar lagi untuk menyelesaikan kuliahku," erang Karin. "Sumpah aku sudah cukup stres menghadapi pelajaran."


"Aku juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi," aku menjawab, "Saat kita sudah terjun ke dunia kerja, anak-anak sekolah menengah akan menjadi akar dari semua stres kita."


"Aku bahkan tidak mau memikirkan itu. Aku mungkin saja berhenti kuliah dari sekarang dan mendapatkan Sugar Daddy yang kaya untuk merawatku," kata Karin sebelum tertawa, "Oh, tunggu, aku sudah punya satu".


"Kau benar-benar gila," aku tertawa menggelengkan kepalaku padanya.


"Ngomong-ngomong soal Sugar Daddy. Aku baru ingat, aku membelikanmu hadiah kecil," Karin menyeringai sebelum menggali ke dalam tasnya, "Maaf, aku hanya memasukkannya ke tasku sehingga sedikit kusut dan hancur."


"Sedikit?" Aku terkekeh mengambil tas belanja kecil yang kusut yang diberikan Karin kepadaku, "Apa yang kau beli dan apa ini?"


"Anggap saja ini hadiah untuk ucapan terima kasih. Kupikir kau akan menyukainya," Kari menyeringai ketika aku membuka tas, "Jangan menariknya keluar, oke."


"Karin, apa yang kau berikan ini padaku. Ya Tuhan. Serius?" Aku terkekeh tak percaya sebelum menatapnya, "Karin, kau membelikanku pakaian dalam? Apa kau tahu betapa memalukannya ini?"


"Tidak, bukan itu. Jadi? Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?" Karin menyeringai, "Kau bilang kau akan pergi ke tempat David untuk makan malam besok, kan? Kupikir ini akan sangat baik untuk kesempatan ini."


"Kesempatan apa? Aku hanya akan makan malam," kataku menatap pakaian dalam dan kembali ke wajah Karin yang sedang berpura-pura bingung.


"Dasarr, jangan pura-pura bodoh. Kau pasti tahu benar apa yang aku maksud." Karin memelototiku sebentar sebelum menjadi bersemangat lagi "Kau akan pergi ke rumah pacarmu untuk makan malam, dan Aku yakin disana hanya ada kalian berdua. Jangan bilang kalau itu hanya makan malam saja. Makan malam tidak pernah benar-benar berakhir hanya dengan makan malam saja."


"Ya Tuhan Karin, kau ini." Aku menggelengkan kepalaku padanya.

__ADS_1


"Aku pikir kau sudah tahu itu. Dan kau tahu aku dengan benar kan Naomi, jadi kenapa kau tidak terima saja hadiahku ini dengan senang hati," jawab Karin. "Aku tahu kau punya pakaian dalam yang seksi, tapi tidak masalah jika sedikit mengenakan lingerie seksi untuk acara ini. Kau tahu kan, ada hal-hal yang lebih dari sekedar makan malam."


"Kau bukan teman yang baik, seharusnya kau peringatkan aku seperti orang tua yang melarang anak perempuan remaja mereka untuk menjauh dari hal itu." Aku memutar mataku padanya sebelum memberinya senyum "Tapi terima kasih Karin, untuk hadiahnya."


__ADS_2