
Naomi POV
"David, santai aja kali, makaroni dan keju itu sudah lebih dari cukup. Berhentilah stres." Aku terkekeh menyaksikan dia ribut soal membuat makan malam.
"Tidak, itu tidak baik, Naomi, aku berjanji akan memasakkan makan malam spesial untukmu. Aku tidak memintamu ke sini hanya untuk memberimu makanan yangsederhana," David ribut sebelum masuk ke dapur dan menuju ke lemari es sambil mengeluarkan semua berbagai jenis keju dan bahan lainnya, "Karena aku tidak bisa membuat sesuatu yang lebih istimewa, paling tidak yang dapat ku lakukan adalah membuat makaroni dan keju buatan sendiri. Sekali lagi aku minta maaf karena kehilangan waktu dan ... "
"David, aku serius. Berhentilah stres sekarang, aku tidak peduli kalau kau mengundangku untuk makan kerupuk dan air putih." Aku berjalan menghampirinya dan memegang tangannya mencoba untuk menenangkannya dan menghentikan keributannya.
"Benarkah? Aku punya banyak kerupuk di lemari," kata David membuatku tertawa terbahak-bahak, "Dan air putih yang segar."
"Akhirnya, kau kembali normal," aku tersenyum padanya, "Jika kau terus berlari dan ribut-ribut seperti itu, aku yakin aku akan melihat kepalamu berputar terus di atas kepalaku."
Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya malam ini. Dia biasanya sangat tenang tapi malam ini dia benar-benar berbeda. Aku kira dia pasti sangat ingin membuatku terkesan dan berpikir dia telah kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Aku pribadi tidak peduli jika dia memutuskan untuk menggoreng telur untuk makan malam, asal bisa makan malam bersamanya kenapa tidak?
"Aku ingin memberitahumu sesuatu," kata David memelukku lebih dekat dengannya, "Aku mau jujur padamu."
"Apa?" Aku tersenyum meletakkan tanganku di dadanya.
"Baumu wangi sekali." kata David padaku.
"Terima kasih," kataku tertawa lagi.
"Sungguh, wangimu cukup enak untuk dimakan haha tapi bukan itu yang ingin aku katakan padamu. Aku sedikit gugup malam ini," kata David padaku.
"Kau? Kenapa?" Aku bertanya menatapnya kaget.
"Sebenarnya, kau adalah wanita pertama yang pernah aku undang atau kubawa pulang sejak istriku Calista meninggal" David berkata, "Selama ini, aku tidak pernah berkencan dengan orang lain atau membawa wanita lain ke rumah karena itu aku merasa seperti tidak menghargai kenangan kami tapi, aku sudah bertemu denganmu dan aku sangat menyukaimu Naomi. Aku ingin pindah kelain hati, jadi mu mungkin sekarang sudah waktunya, dan aku mengundangmu datang malam ini untuk makan tapi aku merasa kalau aku sudah mengacaukan segalanya dengan terlambat dan tidak bisa membuatkan makan malam untukmu. Aku benar-benar ingin kamu memberiku kesempatan dan ... "
__ADS_1
Aku menggerakkan jari tanganku dan meletakkannya di bibirnya kemudian menciumnya untuk membuatnya diam. Aku mengerti semua yang dia katakan, aku tidak ingin dia mengkhawatirkan apa pun, jadi menciumnya adalah satu-satunya cara untuk membuatnya diam dan membuatnya sadar kalau aku tidak akan pergi ke mana pun.
"Itu yang ingin kau katakan padaku? David, aku mengerti dengan semua yang kau katakan. Aku minta maaf tentang istrimu, aku juga sangat senang karena kau sudah memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk bersamaku." Aku menciumnya sekali lagi, "Aku juga sangat menyukaimu, David, aku sangat menyukaimu. Aku memberimu kesempatan, kau tidak usah membuatku terkesan, aku di sini dan aku tidak akan pergi kemana-mana, aku beruntung memilikimu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Jadi seperti yang ku katakan sebelumnya, Aku sangat senang dengan makanan apapun yang kamu buat, oke. Yang terpenting, aku bisa bersamamu disini. "
"Bagaimana aku bisa seberuntung itu mendapatkan seorang kekasih sepertimu?" David tersenyum sebelum mengklaim bibirku.
Aku bersandar di konter, Karen David menekanku saat bibir kami bergerak bersama. Lenganku melingkari lehernya, mendekapnya lebih dekat pada diriku, sementara tangannya berada di pinggangku.
Semakin rendah, tangan David turun ke pantatku dan sekarang berkeliaran dan menjelajahi tubuhku. Aku menggerakkan jari-jariku ke rambutnya dan tangannya sekarang telah memegang
pantatku. Kami benar-benar bercumbu, tapi tiba-tiba suasananya terbelah akibat suara air mendidih membuat kami terkaget.
"David?"
"Hm?"
"Aku sudah bilang kan, kalau aku tidak peduli kalau kau mengundangku untuk makan kerupuk dan air putih, tapi aku rasa, aku tidak siap untuk air yang mendidih itu," aku terkekeh menunjuk ke arah panci di atas kompor.
"Ya"
"Harus kau akui bahwa Makaroni dan keju tidak seburuk saat kau membuatnya," kataku pada David saat kami selesai makan.
"Baiklah, aku akui, tapi tetap saja aku pikir makanan buatan rumah akan lebih baik," David bersikeras.
"Mungkin kau bisa memasakkan ini untukku lain kali," kataku padanya saat aku meletakkan piring di wastafel.
Tiba-tiba ada kilatan cahaya terang dari arah luar jendela dapur dan kemudian ada suara keras yang membuatku melompat ketakutan.
__ADS_1
"Oh sial, hujan sebentar lagi akan turun," kataku saat hujan mulai turun dan kilatan di ikuti serta oleh guntur yang membuatku menutup mata dengan erat dan menutupi telingaku.
"Kamu takut dengan guntur?" David bertanya padaku.
"Tidak, Hanya saja suaranya yang sangat keras membuatku kaget dan... Ya Tuhan, itu membuatku kaget." Aku tersentak menutup telingaku dan menutup mata lagi.
"Hahaha." David tertawa geli.
"Menakutkan skali," kataku sambil memeluk diriku sendiri, "Wow, sepertinya sebentar lagi hujan deras."
"Kemarilah," David tersenyum menarikku ke arahnya dan memelukku sebelum kami berjalan kembali ke ruang tamunya.
"Aku benar-benar tidak tahu hujan akan turun malam ini," kataku saat aku mengeluarkan ponselku untuk melihat jam berapa saat itu, "Wow, ini sudah jam 22:36 malam. Aku bahkan tidak sadar dengan waktu."
"Kau tahu, kamu tidak bisa pulang malam ini, aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan cuaca seperti ini, apalagi kamu sendirian. Lagipula ini sudah larut malam." kata David padaku, "Kamu harus menghabiskan malammu bersamaku, hahaha."
"Apa?"
"Aku janji tidak akan melakukan hal aneh," David berkata kepadaku, "Kau bisa memilih kamar sendiri jika kau mau. "
"Tidak, tidak, bukan itu yang aku khawatirkan," aku terkekeh, "Masalahnya aku tidak punya pakaian untuk tidur."
"Aku bisa meminjamkanmu baju, aku punya ratusan baju. Kamu bisa memilihnya sesuai dengan pilihanmu." David tersenyum.
"Oke, terima kasih," aku terkekeh.
"Tapi semuanya ada di atas, di kamarku," David menunjuk.
__ADS_1
"Oke, apakah kau akan mengambilnyakannya untukku atau ..."
"Kau ikut denganku, aku akan mengantarmu ke kamarku," David tersenyum memegang tanganku.