
"Apa yang bagus kita lakukan akhir pekan ini? Dan tolong jangan katakan padaku kalau kau mau jalan lagi dengan David karena jika kau melakukannya aku akan memusuhimu hahah." kata Karin padaku saat jam kelas terakhir berakhir.
"Bukannya seharusnya memang begitu, aku pergi bersama David," kataku sambil tertawa kecil, "Maaf,"
"Sudah kubilang jangan katakan itu," kata Karin padaku.
"Aku tahu dan aku minta maaf, tapi kami sudah membuat rencana sebelumnya untuk ngedate hari Sabtu. Dia mengambil cuti seharian agar kami bisa pergi berjalan-jalan," aku tersenyum.
"Aku begitu stres, aku butuh seorang teman, aku hanya ingin dalam beberapa hari ini tidak ada satupun seorang cowo yang terlibat, baik itu dalam sebuah pembicaraan," jawab Karin.
"Tunggu, apa kau dan pacarmu bertengkar lagi atau apa?" Aku bertanya padanya saat kami menuju ke mobilku.
"Ya, kami sering bertengkar. Naomi, kadang-kadang dia sering suka memerintahku, ya seakan-akan dia itu ayahku." Karin mengerutkan kening saat kami masuk ke dalam mobil.
"Yah, dia sudah cukup tua untuk menjadi ayahmu ...," godaku.
"Jangan mulai Naomi, ingat David hampir 40 tahun dan dia juga bisa menjadi ayahmu," jawab Karin.
"Ya, tapi ayahku masih delapan tahun lebih tua darinya jadi aku tidak melihatnya seperti itu," kataku sebelum kembali ke percakapan, "Jadi, apa yang kau dan pacarmu pertengkarkan?"
"Dia mulai menjadi orang yang suka mengendalikan diriku dan aku tidak tahan lagi, kau tau kan aku tidak bisa diatur-atur," kata Karin kepadaku, "Dia selalu menentukan apa yang harus aku makan, apa yang harus aku pakai, ke mana aku pergi." Dia menelepon setiap setengah jam untuk memeriksa keadaanku dan mencari tahu di mana aku berada dan itu sedikit membuatku tidak nyaman. Secara pribadi, tindakan itu seperti tindakan laki-laki yang berpotensi suka melakukan pelecehan."
"Mungkin itu bukan hal yang buruk ... dia itu tidak mencoba mengendalikan hidupmu tapi dia hanya memeriksamu dan mengkhawatirkanmu. Dia menunjukkan sikapnya yang seperti itu, semata-mata dia peduli dan ingin tahu kalau kau ini baik-baik saja," kataku padanya.
"Aku berpikir kalau dia merasa tidak aman, dengan perbedaan usia diantara kami, aku pikir dia khawatir karena aku wanita yang jauh lebih muda darinya sehingga dia berpikir kalau aku mungkin hanya mengejar uangnya dan suatu hari hanya akan berpaling darinya, menipu dia dan pergi bersama dengan orang lain. Pada dasarnya apa yang aku yakini dari sikapnya, itu sangat menjengkelkan jadi aku bilang padanya untuk menjauh dariku beberapa waktu dan memberikanku sedikit ruang untuk bebas dan itu mungkin sudah melukai perasaannya."
"Karin, aku tahu kadang-kadang kau bisa seperti itu, tapi dalam kasus seperti ini kamu harus bertemu dengannya. Maksudku ya dia pria yang lebih tua dan kau masih muda, pintar cantik, aku yakin dia tidak pernah mengira dia akan sangat beruntung memiliki seseorang sepertimu dalam hidupnya. Jadi wajar saja kalau sekarang dia takut kehilanganmu, dia takut suatu hari kau mungkin pergi meninggalkannya, tindakannya mungkin sebagai akibat dari itu dan aku tidak bisa menyalahkannya atas ketidaka manannya, karena dia juga manusia." Aku berkata padanya, "Yang harus kau lakukan adalah melihat apakah dia akan berhenti bersikap seperti itu padamu ataukah tidak, yakinkan dia, biarkan dia tahu kalau kau benar-benar menyukainya bukan karena hartanya, jelaskan padanya kalau kau menyukainya karena perasaanmu kepadanya, beri tahu dia kalau sia sangat istimewa dalam hidupmu, dia mungkin akan sadar dan bersikap normal lagi."
"Aku tidak percaya kau bisa memberiku nasehat seperti itu," Karin terkekeh, "Biasanya malah sebaliknya."
"Ya tapi kadang-kadang aku bisa memberikan nasihat yang bagus juga kan," aku tertawa.
"Jadi, apa itu yang kau lakukan juga terhadap David? Meyakinkan dia?" Karin bertanya.
"Ya, aku memastikan dia tahu kalau aku bersamanya karena memang aku menyukainya bukan karena apa yang bisa dia berikan kepadaku. David tahu kalau aku benar-benar menyukainya, aku tidak meninggalkan ruang untuk keraguan karena seperti yang kau katakan kadang-kadang pria yang lebih tua bisa sedikit tidak yakin dan tidak aman saat berkencan dengan wanita yang lebih muda." jawabku "Dia mungkin di cap sebagai seorang Sugar Daddy oleh orang-orang diluar sana kalau orang-orang melihat hubungan kami yang jauh memiliki perbedaan usia, tapi bukan berarti aku ingin dilihat atau di cap sebagai wanita yang materialistis."
"ohh aku tersentuh," kata Karin dengan tangan di dadanya yang berpura-pura tersentuh oleh ocehanku yang membuat kami berdua mulai tertawa.
"Aku pikir mungkin aku seharusnya menelepon pacarku dan meminta maaf padanya."
"Ya kau harus melakukannya," aku setuju, "Dan sementara kau melakukannya, pastikan dia tahu kalau kau membenci seluruh sifatnya yang suka memerintah dan mengendalikanmu. Jika dia benar-benar ingin membuatmu tetap ada disisinya, aku jamin dia akan bertarung dengan dirinya sendiri untuk tidak menunjukkan sikapnya yang seperti itu."
__ADS_1
"Kau tahu aku akan melakukannya," Karin menjawab, "Jadi, cukup membahas tentang aku. Sekarang, kapan kau akan memperkenalkan David pada orang tuamu? Kau itu sudah lebih dari empat bulan saling mengenal dan hubungan kalian sekarang juga sudah resmi dan orang tuamu penasaran untuk bertemu dengan sosok pria misterius itu terutama ibumu. Dia bahkan membelikanmu sebuah mobil untuk ulang tahunmu yang membuat mereka lebih penasaran dan kau masih saja tidak membawanya kerumahmu."
"Apa kau juga sudah memberi tahu orang tuamu tentang pacarmu atau memperkenalkannya ke mereka?" Aku membalikkan pertanyaan itu kepadanya.
"Uh baiklah, belum, tapi itu berbeda denganmu ..." Dia mencoba mengatakan alasannya tapi aku memotongnya.
"Tidak, tidak, tidak, tidak berbeda. Kenapa tidak?"
"Aku tidak tahu, aku belum tahu bagaimana cara melakukannya. Kau lihat orang tuaku memiliki pemikiran yang masih kuno dan aneh." jawabnya. "Aku masih belum tahu apa pendapat mereka tentang berhubungan dengan orang yang berbeda antar ras dan faktanya kalau pacarku bukanlah orang Asia, tapi orang luar yang seusianya dengan ibuku. Aku tahu bagaimana mereka akan berpikir. Tapi pada akhirnya juga aku harus memberitahu mereka mungkin bukan sekarang. Pacarku juga tidak keberatan karena aku masih belum terlalu banyak bertemu dengannya baik dari segi sisi keluarganya kecuali keponakan dan saudara lelakinya. Tapi kau Naomi, orang tuamu lebih ramah dan bertoleran daripada aku, mereka akan menyukai David, tidak mungkin tidak."
"Yah itu benar," aku tersenyum mendengar komentarnya tentang David, "Mungkin aku harus mencoba untuk mengumpulkan keberanianku dan melakukannya besok. Dengan alasan yang sama sepertimu kenapa aku belum memperkenalkan mereka, karena aku tidak ingin mereka melihatku dengan aneh hanya karena David jauh lebih tua dari aku."
"Kau tidak berpikir kalau mereka sudah mencurigainya?" Karin bertanya, "Maksudku, berapa banyak anak muda seusia kita yang masih belum mampu membelikan pasangan mereka - sebuah mobil?"
"Aku sudah memikirkannya tapi orang tuaku juga tidak pernah sedikitpun mengatakan sesuatu atau bertanya padaku, jadi aku juga tidak pernah mengatakan apa-apa," kataku kepadanya, "Kau tahu itu aneh, kita ini sudah dewasa, tapi kita masih saja takut dengan apa yang orang tua kita akan lakukan."
"Itu karena kita masih anak-anak yang baru saja menjadi dewasa," Karin tertawa, "Yang masih takut karena tidur dengan pria yang lebih tua."
"Jika itu satu-satunya alasan aku akan dipukuli, aku tidak akan melakukannya karena David dan aku masih belum mencapai tahap itu," kataku padanya.
"Bicaralah pada dirimu sendiri, aku tidak memiliki kemauan yang kuat untuk bertahan seperti kamu," Karin berkata kepadaku.
"Kau dan pacarmu sudah lama bersama, jadi tidak ada yang salah dengan itu," kataku kepadanya, "Sekarang akhirnya aku akan memperkenalkan David pada orang tuaku, dan kau juga harus melakukannya. "
*Suara ketukan pintu*
"Masuk," kudengar David menjawab dibalik ruang kerjanya.
Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya dan memutuskan untuk mampir ke kantornya dan mengejutkannya. Aku sudah menunggu selama 20 menit tapi masih ada dua pasien yang menunggu untuk diperiksa olehnya. Jadi, segera setelah mereka dirawat, aku meminta perawat/resepsionis untuk pergi menemuinya dan memberitahunya kalau aku datang.
"Hei Dr. David," aku menyapa saat aku membuka pintu dan memasuki ruangannya.
"Bagaimana kabarmu, Naomi. Apa yang kau lakukan di sini? Kupikir kau pasienku yang berikutnya," David tertawa kaget saat dia mendongak dan melihat kalau itu adalah aku.
"Aku pasienmu selanjutnya. Sebenarnya aku pasien terakhirmu untuk saat ini," aku tersenyum saat aku menghampirinya, "Tidak ada orang lain yang sedang menunggu sekarang."
"Hai, Sayang," David menyeringai saat aku memberinya ciuman dan duduk di kursi di seberang mejanya, "Ada apa?"
"Aku baru saja pulang dari kampus dan merasa ingin mampir dan mengejutkanmu," kataku padanya, "Sayang sekali aku belum pernah ke klinikmu sebelumnya. Ngomong-ngomong, klinikmu lumayan sangat bagus."
"Terima kasih," David terkekeh, "Dan ini benar-benar sebuah kejutan, aku senang kamu mampir. Aku benar-benar merindukanmu selama beberapa hari ini."
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu. Aku tidak ingin menunggu sampai hari Sabtu untuk bertemu denganmu," kataku padanya.
"Aku juga," David tersenyum sebelum mengambil salah satu tanganku di tangannya, "Kau jauh dariku dan kemudian datang ke sini."
"Di mana? Aku tidak jauh, aku tepat di seberangmu," aku tertawa kemudian aku berdiri.
"Dan itu seperti seratus mil bagiku. Ayo duduk di sini," jawab David menarikku ke pangkuannya, "Sekarang ini lebih baik."
"Kurasa kau ini bukan seorang dokter yang profesional," aku menggoda sambil meletakkan lenganku di lehernya kemudian aku duduk menyamping di pangkuannya, "Begini caramu memperlakukan setiap pasien?"
"Tidak, aku hanya melakukan ini pada pasienku yang sangat istimewa," David tersenyum sebelum mengklaim bibirku.
Aku menggunakan tanganku yang lain untuk memegangi kepalanya saat bibir kami bergerak bersama. Aku tidak bisa menahan jari-jariku melewati bagian belakang rambutnya saat kami bercumbu, rambutnya begitu lembut dan halus dan terasa luar biasa di antara jari-jariku.
"Kurasa itu sebuah pengobatan terbaik yang aku berikan sepanjang hari," Aku tertawa kecil dan kami saling menarik diri.
"Aku juga berpikir begitu," aku tersenyum sebelum mematuk bibirnya sekali lagi, "Jadi, kamu akan menjemputku besok, kan?"
"Ya, benar," jawab David sambil melingkarkan lengannya di pinggangku.
"Hebat, bagaimana perasaanmu saat bertemu orangtuaku nanti?"
"Besok malam? Tunggu, apakah kau yakin?" Tanya David.
"Ya, aku yakin," aku mengangguk, "Kupikir sudah waktunya, mereka juga sangat ingin tahu siapa dirimu. Apa yang kamu katakan, apakah kamu baik-baik saja dengan itu?"
"Naomi, kamu bertanya padaku apakah aku baik-baik saja dengan bertemu orangtuamu? Apakah kamu baik-baik saja apabila aku bertemu mereka?"
"David, aku tidak akan bertanya padamu apakah aku tidak setuju dengan itu atau tidak."
"Apakah mereka akan mengerutkan kening dan memberiku kesulitan nanti?" Tanya David.
"Kenapa mereka akan begitu?" Aku bertanya bermain dengan rambut di tengkuknya.
"Karena aku sembilan belas tahun jauh lebih tua darimu dan mungkin lebih dekat dengan umur mereka daripada umurmu," jawab David.
"Begitu yah?"
"Jadi, aku mengatakan itu karena kebanyakan orang tua cenderung tidak menyukai pemikiran anak perempuan mereka yang berkencan dengan pria yang lebih tua."
"Yah, mereka harus menghadapinya. Aku sudah dewasa, aku bisa berkencan dengan siapa pun yang aku mau. Asal mereka tidak akan mengeluarkan pisau untukmu," aku terkekeh.
__ADS_1
"Sekarang aku benar-benar merasa sangat percaya diri untuk bertemu mereka," jawab David sinis membuatku tertawa, "Mereka akan memenggal kepalaku, bukan?"
"Jangan konyol, mereka akan menyukaimu. David, semuanya akan baik-baik saja."