Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Mencoba Menerima


__ADS_3

Aku sedang berada di kamar mandi mencuci pakaianku, dan tiba-tiba Ayah datang dan bersandar di pintu.


"Hei Ayah," sapaku saat aku mulai memisahkan pakaian putih dari pakaian berwarna.


"Hei," aku mendengarnya merespons tapi ayah tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.


"Uhm, apakah ayah menginginkan sesuatu?" Aku bertanya menatapnya.


"Tidak ada," Ayah menggelengkan kepalanya.


"Oke," jawabku.


Hampir lima menit kemudian setelah mencuci, Ayah masih mengintai di pintu dan belum mengatakan apa-apa sampai sekarang dan ini benar-benar aneh.


"Ayah mengawasiku?" Aku bertanya kepadanya, "Memastikan aku mencuci pakaian, bukan?"


"Hah?" Ayah bertanya menatapku bingung.


"Ayah daritadi sudah bersandar di pintu itu selama sekitar lima menit loh. Jadi aku berasumsi kalau ayah hanya memastikan aku mencuci pakaian dengan benar. Jangan khawatir, Ayah, aku mengerti sekarang. Aku sudah belajar mencuci dengan benar sejak aku berumur 12 tahun." Aku tersenyum padanya, "Aku tidak akan mencampur pakaian yang berwarna dengan pakaian putih lagi."


"Tidak bukan itu," Ayah terkekeh,


"Aku tahu itu," aku terkekeh-kekeh sambil menggelengkan kepala, "Aku tahu kalau ini tentang siapa. Pasti tentang si David kan, Ayah?"


"Benar, David," Ayah menjawab, "Katamu dia seorang dokter?"

__ADS_1


"Ya, Ayah, David memiliki klinik dan mengoperasikannya sendiri," kataku kepadanya.


"Bagus. Kurasa aku mungkin pernah pergi ke sekolah bersama," kata Ayah dengan nada menggoda yang membuatku menyipit.


"Ayah ...," kataku dengan nada peringatan.


"Naomi, aku tidak tahan lagi, pria itu seusia ayah, dia itu sudah senior."


"Ayah, usianya baru empat puluh tahun," kataku padanya.


"Tepatnya delapan belas tahun lebih tua darimu. Saat dia mulai kuliah, kau merayakan ulang tahun pertamamu." Ayah berkata kepadaku, "Saat dia selesai kuliah, kau sudah duduk di bangku kelas dua."


"Aku mengerti apa yang Ayah katakan. Aku tahu kalau David lebih tua beberapa tahun dariku."


"Naomi. Orang itu juga bahkan bisa menjadi ayahmu," kata Ayah kepadaku, "Dalam penegakan hukum tempat ayah bekerja, ada nama untuk orang-orang seperti dia."


"Seorang pedofil," jawab Ayah.


"Ayah, seorang pedofil adalah seseorang yang secara seksual memangsa anak-anak di bawah umur dan aku bukan anak kecil. Aku sudah dewasa Ayah," kataku kepadanya.


"Naomi, aku tahu ayah secara finansial tidak mampu dan belum bisa membelikanmu mobil, tapi ayah tidak seburuk itu, ayah benar-benar berjuang."


"Maksud ayah?"


"Maksud ayah, orang-orang seperti dia tahu kalau mereka mampu membeli barang-barang tertentu jadi mereka juga bisa membeli kasih sayangmu dan semuanya dengan barang-barang mahal seperti mobil dan ..."

__ADS_1


"Bukan karena itu sebabnya aku bersama David, Ayah," kataku kepadanya, "dan dia tidak perlu membeli kasih sayangku dengan menawarkan apa pun."


"Apa kamu menyukainya?" Ayah bertanya padaku.


"Ya Ayah, aku suka. Aku sangat suka David," jawabku. "Dan ini bukan tentang hal materi atau apa, aku tidak terlalu peduli tentang hal itu. David pria yang sangat hebat, dia pintar, lucu, baik, menawan. Dia pria yang baik dan aku nyaman berada di dekatnya dan perbedaan usia tidak terlalu penting. Dia tidak membuatku tidak nyaman di sisinya atau mencoba untuk memaksaku ke dalam hal yang tidak aku inginkan. Dia benar-benar empatik dan memberiku semangat dan dia selalu mendengarkanku saat aku berbicara. Dan berpura-pura mendengarkan seperti orang lain, dia tulus mendengarkan dan memberikan nasihat yang hebat. Itulah alasannya mengapa aku menyukainya, mobil dan hadiah-hadiah lainnya hanyalah bonus dari itu semua. "


"Jadi dia memperlakukanmu seperti itu?" Ayah bertanya masih terkejut dengan semua yang baru saja aku katakan padanya.


"Memang sejauh ini dia yang terbaik dan aku tidak tahu apakah dia akan berubah nanti, tapi untuk sekarang dia adalah pria yang ideal dan faktanya dia sudah mapan dan itu membuatku lebih tertarik padanya," kataku kepada ayah "Aku memberinya kesempatan dan aku sangat ingin kalian mencoba menerimanya juga."


"Baiklah, baiklah," desah ayah. "Jika kau yakin dia memperlakukanmu seperti itu, kurasa ayah juga bisa memberinya kesempatan untuk mengenalnya lebih baik. Ibumu sepertinya sudah menerimanya jadi mungkin aku juga bisa."


"Terima kasih, Ayah, aku sangat menghargai itu," aku tersenyum padanya.


"Tapi aku hanya ingin tahu tentang satu hal," kata Ayah.


"Apa itu?" aku bertanya.


"Apa kamu yakin pria ini masih lajang? Maksudku, kebanyakan pria seusianya biasanya sudah menikah, punya istri dan anak-anak di rumah, tapi mereka masih saja pergi keluar dan mencari wanita yang lebih muda untuk ..."


"Ayah! Ayahkan baru saja mengatakan kalau akan memberinya kesempatan dan sekarang ayah meragukannya?" Aku mengerutkan kening.


"Aku bilang aku akan mencoba dan aku tidak meragukannya. Aku hanya ingin tahu Naomi, aku tahu bagaimana beberapa pria bisa seperti itu." Ayah menjawab, "Kau putriku, aku tidak ingin melihatmu terluka. Jadi ayah hanya penasaran dan ingin tahu saja. "


"Dia pernah menikah sekali tapi, istrinya meninggal sekitar empat tahun yang lalu." Aku menjawab, "Dia memutuskan untuk mencoba berkencan sekali lagi, jadi yah lihatlah sekarang, kami berkencan. Bisakah ayah memberinya kesempatan sekarang?"

__ADS_1


"Baiklah," ayah menjawab sambil mengangkat kedua telapak tangannya, "Tapi jika dia menyakitimu, ingatlah bahwa ayahmu ini memiliki senjata."


"Ayah!


__ADS_2