
Aku tahu, saat aku setuju untuk tinggal di rumah David dan mengasuh anak-anaknya aku mungkin akan menyesalinya, aku tidak tahu keadaan akan seburuk ini. Segalanya berjalan lancar saat aku bersama Alisa, kami menonton kartun bersama di kamarnya sampai dia tertidur. Aleah membawa temannya Diandra untuk nongkrong di kamarnya dan aku bersyukur dia tidak akan berperilaku buruk dan tidak menghormatiku. Jika dia ada teman, akan ada yang menghiburnya. Aku tertidur dengan Alisa dikamar dan saat aku terbangun aku mendengar suara musik. Benar sekali, ternyata Aleah sibuk menghibur diri dengan temannya, tapi aku tidak pernah mengira akan sejauh ini. Aku hampir tidak percaya kalau anak itu mengadakan pesta yang gila!
"Ya Tuhan, Aleah," kataku, mengepalkan gigiku, aku mencoba mencarinya.
Seluruh ruang tamu dan dapur tampak seperti kapal pecah. Ada anak muda di mana-mana! Rumah itu dipenuhi sekitar 30 anak ada yang makan pizza dan minum-minum. Ya ampun. Bahkan mereka tidak berpesta seperti layaknya anak-anak seusianya. Jika David tahu tentang ini, dia akan tambah menghukumnya. Semua anak-anak itu berusia sekitar 13-15 tahun dan belum lagi ada anak laki-laki di sini juga. Aku melihat ponselku menunjukkan pukul 9:00 malam, aku tidak tahu apakah aku kampungan atau bagaimana, tapi saat aku seusia mereka, aku sudah tidak diizinkan keluar dari jam 7:00 malam, jadi bagaimana mungkin anak-anak ini bisa melewati jam sembilan? Di mana orang tua mereka? Bagaimana mereka bisa mengizinkannya keluar? Kecuali anaknya menyelinap keluar runah atau memiliki orang tua yang memang tidak peduli tentang keberadaan mereka.
Saat aku mendorong orang ke samping untuk mencari Aleah, sebagian besar anak-anak ini tampak terkejut melihatku di sini, mereka jelas tidak tahu kalau ada orang dewasa di sini. Saat aku menanyakan Aleah, mereka semua mengangkat bahu dan mengatakan kalau mereka tidak tahu. Akhirnya aku menemukan Diandra yang dia undang untuk duduk santai bersama seorang anak lelaki di sofa. Dia ketakutan saat melihatku.
"Di mana Aleah?"
"Aku- aku tidak tahu, dia ..." Dia tergagap.
"Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri," kataku melangkah mendekatinya dan melihat sekeliling lagi.
__ADS_1
Aku akhirnya melihat Aleah di dapur bersandar di sudut dengan seorang anak lelaki yang lemah berbisik di telinganya dan dia tersipu dan cekikikan. Apa yang terjadi?
"Permisi," kataku pada anak itu saat aku sampai di hadapan mereka, "Aleah, kau dan aku harua bicara sekarang!"
"Aku sibuk, tidakkah kau melihat ..." Aleah mencoba memprotes sikapku yang biasa.
"Tidak! sekarang!" kataku meraih lengannya dan menariknya pergi.
"Ow, apa-apaan ini !?" Aleah menarik lengannya dariku, "Jangan sentuh aku!"
"Apa pedulimu? Di rumahku aku bisa melakukan apa yang aku mau, mengadakan pesta jika aku mau dan mengundang siapa pun yang aku mau!"
"Baiklah," kataku, aku menyerbu ke ruang tamu dan mematikan musik yang menyebabkan semua orang berhenti dan mulai melihat ke arahku, "Pesta sudah selesai, semua orang bisa pulang sekarang!"
__ADS_1
"Apa !? Tidak! Kau tidak bisa melakukan itu, ini bukan rumahmu!" Aleah berteriak padaku.
"Oh, ya? Yah, tapi ini sudah tanggung jawabku menjagamu," kataku, kembali ke kerumunan. "Aku ingin semua orang mengambil barang-barang mereka dan keluar sekarang atau aku akan memanggil polisi."
Semua orang mulai bergegas keluar-masuk, Aleah terus meneriakiku, tapi aku tidak peduli.
"Kau tidak berhak! Ini adalah rumahku, aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan! Kau tidak tinggal di sini, kau bahkan belum menikah dengan ayahku atau apa pun, tapi kau sudah seakan memiliki kendali! Mereka adalah temanku! Persetan! aku membencimu."
"Aleah, aku tidak peduli apa yang kau bilang sekarang. Ayahmu memercayaiku untuk mengawasi kalian. Dia meninggalkanku untuk mengawasi kalian berdua dan kau ingin bertindak seperti anak nakal dan mengadakan pesta seperri ini? Kau tahu kalau dia tidak akan suka dengan ini, tapi kau tetap melakukannya, untuk apa? Untuk balas dendam padaku? " Aku berkata padanya, "Kau tahu jika aku memanggilnya sekarang dan memberitahunya, kau akan dihukum lebih lama, jadi kenapa aku harus menurutimu !?"
"Ugh !!! Aku tidak percaya kau akan melakukan ini! Kau bukan ibuku! Ini bukan rumahmu, ini milikku! Aku membencimu *******!"
"Ya terus panggil aku dengan kata-kata aneh dan kutuk aku sebanyak yang kau mau. Kau tahu Aleah, aku tidak peduli. Jika kau membenciku atau tidak itu tidak ada bedanya, karena aku tidak peduli lagi. David dan aku saling mencintai dan kau lebih baik terbiasa dengan itu. Aku memang tidak tinggal di sini, tapi karena ayahmu menyuruhku untuk mengawasimu, itulah yang akan aku lakukan. Aku akan memastikan ini tidak terjadi lagi." kataku padanya. "Dan jangan berpikir kalau David tidak akan mencari tahu tentang hal ini. Sekarang aku sarankan kau membersihkan tempat ini, kalian berdua." Aku melihat temannya yang berdiri di samping mendengarkan kami dengan tatapan bersalah. "Dan bersiaplah untuk dihukum dan tidak apa-apa, jika kau terus membenciku. Jika kau bersikap menjadi kasar, manja dan picik dan memanggilku dengan sebutan ****** itu tidak masalah. Suka tidaknya kau terhadapku tidak akan merubah keputusan untuk aku tetap bersama ayahmu dan aku tidak akan lagi peduli dengan apa yang kau pikirkan."
__ADS_1
Aku bisa melihat kalau aku mampu mengejutkan kedua gadis itu dengan kata-kataku. Baguslah, mungkin itu yang musti aku lakukan; mengeluarkan sisi judesku. Jika aku seperti ini, itu akan lebih baik karena dengan cara seperti inilah aku dan sepupuku Alexa sampai sekarang berhubungan baik. Mungkin ini adalah sisi yang akan memenangkan Aleah.
"Selamat malam, gadis-gadis," aku menunjukkan senyum menyebalkan pada mereka dan mengangkat ponaelku, "Sudah larut malam. Waktunya berbicara dengan ayahmu. Oh, omong-omong, selamat bersih-bersih."