Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Salah Paham


__ADS_3

"Apakah tidak baik jika aku mengatakan kalau Ibu Naomi sangat cantik?" Tanya Jaiden saat aku berdiri di samping mobilku berusaha keluar dari situasi canggung.


Jaiden adalah anak lelaki berusia tujuh belas tahun yang berada di salah satu kelas bahasa Inggris tingkat 3. Dia sebenarnya sangat ramah terhadapku sejak hari pertamaku praktik, tapi hari ini ceritanya sangat berbeda. Sudah sebulan sejak aku di sekolah ini aku baru saja mengetahui Jaiden naksir padaku.


Jam sekolah telah berakhir dan aku menuju ke mobilku tiba-tiba Jaiden berlari ke arahku. Aku kehilangan kata-kata saat dia datang dan mulai mengakui perasaannya kepadaku. Aku sangat canggung, mencoba untuk tidak mengecewakannya tanpa mematahkan hatinya itu.


Mau tak mau aku bertanya-tanya padanya kenapa dia bisa melakukan pengakuan tentang perasaannya. Pertama Pak Frans, salah satu guru di sekolah. Aku menolak dan mengecewakannya beberapa jam sebelumnya dan sekarang Jaiden?


"Itu sangat manis, Jaiden," aku tersenyum simpatik padanya. "Tapi itu sangat tidak pantas, oke. Aku ini gurumu."


"Aku tahu, tapi kau bukan guru asliku kan. Kau hanya guru bantu disini untuk sementara, kan? Jadi aku tidak berpikir itu akan menjadi masalah besar." Kata Jaiden padaku.


Tuhan, tolong aku.


"Jaiden, tidak masalah jika aku guru favoritmu atau bukan. Faktanya tetap saja aku adalah gurumu, aku orang yang profesional dan setelah beberapa bulan, aku mungkin kembali ke sekolah ini sebagai guru tetap." Aku berkata kepadanya. "Dan umurmu tujuh belas tahun, Jaiden, kau bisa naksir dengan teman sebayamu."


"Bagaimana kalau aku tidak bisa. Naomi? Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tanya Jaiden. "Sangat sulit untuk berpura-pura kalau aku tidak memiliki perasaan padamu. Mungkin, mungkin saat kau selesai dengan praktikmu, kita bisa makan siang bersama kapan-kapan?"


"Jaiden, berhenti. Itu tidak pantas dan tidak akan terjadi." Aku berkata padanya. "Kau harus ..."


"Apakah itu karena aku masih anak remaja? Aku bisa menjadi dewasa dan bertanggung jawab untuk usiaku dan selain itu, aku tidak berpikir kau lebih tua dariku. Aku tidak peduli berapa pun umurmu. Aku berpikir kau wanita paling cerdas dan paling cantik yang pernah kulihat dalam hidupku."


"Jaiden, aku tersanjung oleh pujianmu. Terima kasih, tapi kau harus melupakan pemikiranmu yang seperti ini, oke?" Aku memberitahunya dengan lembut. "Aku bisa mengatakan bahwa kau adalah pria yang manis dan tidak diragukan lagi tentang tingkat kedewasaan dan tanggung jawabmu, tapi aku bukan orang yang baik untukmu. Pertama-tama, aku adalah gurumu dan itu sangat tidak pantas. Kau masih muda, kau baru tujuh belas tahun dan aku jauh lebih tua darimu dan itu."


"Kau juga masih muda. Maksudku, kau tidak terlihat tua sama sekali dariku, yah paling perbedaannya sekitar lima atau enam tahun. Setidaknya kau tidak terlihat seperti itu." Kata Jaiden bertekad. "Dan bukankah umur hanya angka?"


"Lihat Jaiden, aku pikir sangat lucu kalau kau naksir padaku, tapi percayalah saat aku bilang ini, itu tidak akan bertahan lama. Sebelum kau menyadarinya, kau akan melirik seorang gadis seumuranmu sendiri yang membuat jantungmu berdebar dua kali lebih cepat. Bertentangan dengan apa yang mungkin kau pikirkan, aku bukan wanita itu. Kita berada di dua tempat berbeda dalam hidup kita dan aku sedang berpacaran dengan seorang pria yang aku sangat cintai." Aku mengatakan kepadanya. "Aku tidak pernah bermimpi kalaubaku akan menemukan seseorang yang aku ingin habiskan sisa hidupku bersamanya, tapi kenyataannya memang begitu. Suatu hari kau juga akan menemukan seseorang yang benar-benar menyukaimu."


"Pria itu pasti pria yang beruntung." Kata Jaiden padaku.


"Ya, benar." Aku tersenyum padanya. "Kau akan menemukan seorang gadis yang istimewa suatu hari juga. Aku pikir kau perlu mulai mencari perempuan yang umurnya seusiamu dan kau akan menemukannya."

__ADS_1


"Kurasa mungkin. Aku hanya belum pernah bisa menemukan gadis seusiaku."


"Itu karena kau mungkin tidak pernah mau melirik gadis-gadis seusiamu. Jangan khawatir, Jaiden, kau akan menemukan seseorang. Dan nasihat untukmu, jangan lagi membuat keputusan atau pengakuan terburu-buru seperti yang kau lakukan hari ini."


"Aku memang memalukan." Jaiden tertawa kecil.


"Tidak." Aku tertawa dengannya.


"Jangan menyangkal hal itu Bu, aku hanya membodohi diriku sendiri." Jaiden tersenyum.


"Mungkin sedikit." Aku terkekeh. "Jangan khawatir tentang itu. Kau akan menemukan gadis yang tepat untukmu, Jaiden."


"Terima kasih, Bu. Semoga akhir pekanmu menyenangkan."


"Kau juga Jaiden." Aku tersenyum padanya sebelum membuka pintu mobil.


Di rumah David.


"Jadi ini ayah, ini Aleah, itu kamu, dan itu aku yang di depan. Akulah yang paling kecil." Alisa memberitahuku saat kami duduk di meja dapur.


"Oh? Ya ampun, kepalaku besar di gambar itu." Aku terkekeh saat melihat sosok berkepala besar yang Alisa tunjukkan adalah aku. "Apa sebesar itukah kepalaku di dunia nyata?"


"Tidak." Alisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Ini hanya gambar."


"Oh, bagus. Aku pikir aku benar-benar memiliki kepala besar." Aku tertawa dan menggelitik Alisa yang membuatnya tertawa.


"Naomi?"


"Ya, sayang?"


"Aku senang kau tinggal bersama kami. Ayahku selalu bahagia karena kau datang untuk tinggal bersama kami. Aku senang kau bisa bersama dengan ayahku." Dia berkata kepadaku.

__ADS_1


"Ya aku juga." Aku mengatakan kepadanya tepat sebelum kami mendengar pintu depan dibuka dan ditutup.


"Sepertinya itu ayahmu."


"Ayah!?" Alisa melompat


bangkit dari meja dan berlari keluar dari dapur.


Aku bangkit dan berjalan keluar begitu aku pergi untuk menyambut David. Aku terkejut melihat Aleah datang bersamanya.


"Hei." Aku menyapa David dan dia mengambil Alisa.


"Hai." David menyapa dengan sungguh-sungguh.


"Apa semuanya baik-baik saja?" Aku bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Ya." David merespons.


"Permisi." Aleah berkata kepadaku saat dia menuju ke atas.


"Baik." Aku bilang. "Aku sudah membuat makan malam dan lau tahu, Alisa membantuku."


"Oh itu bagus." David tersenyum saat memandang Alisa. "Jadi aku punya koki kecil ya? Kenapa kau tidak bersiap-siap untuk makan malam?"


"Baik ayah." Alisa tersenyum saat David menurunkannya.


"Apa kau yakin kau baik-baik saja?" Aku melangkah lebih dekat ke David.


"Aku baik-baik saja, Naomi. Aku baru saja menjalani hari yang panjang."


Pasti ada yang salah dengan David. Makan malam terasa canggung dan aku terus merasa kalau dia sedang kesal denganku atau semacamnya. Pada saat kami berada di lantai atas, ada begitu banyak ketegangan sehingga aku tidak tahan lagi, aku harus menghadapi David karena hal itu.

__ADS_1


"Apakah karena ada sesuatu hal yang aku tidak sengaja lakukan, jadi kau marah padaku?" Aku bertanya.


"Pergilah tidur, Naomi." Tanggapan David, itu benar-benar membuatku jengkel.


__ADS_2