
"Sayang, kau belum tidur?" David bergumam, mengencangkan lengannya di sekitarku.
"Hei, kembalilah tidur," kataku kepadanya.
"Apa kau baik-baik saja?" David bertanya berbalik ke samping dan menyalakan lampu di meja samping tempat tidurnya sebelum berbalik kembali padaku. "Ini sudah jam 12:34, kenapa kau tidak tidur?"
Bagaimana dia tahu aku tidak tidur? Aku sudah berbaring di samping David selama berjam-jam dan aku masih saja belum sedikit pun tidur. Aku terus berpikir tentang sikap Aleah yang kasar dan berperilaku tidak sopan terhadapku, sampai berapa lama aku bisa bertahan dengan David jika dia tetap bersikap seperti itu. Bukan hanya itu, kami akan berangkat ke Citra Highland besok pagi untuk mengunjungi dan menghabiskan waktu seminggu bersama keluarganya dan aku sangat gugup.
Aku sudah membuat Aleah membenciku, bagaimana jika orang tuanya dan yang lain tidak menyetujuiku juga? Semua pemikiran yang berlebihan ini menyebabkanku tidak bisa tidur. Aku hanya tidak tahu bagaimana David tahu bahwa aku tidak tidur
"Aku baik, aku hanya belum bisa tidur, mungkin aku merasa sangat lelah," kataku padanya. "Jangan khawatir, tidurlah."
"Hei, apa yang mengganggumu?" Tanya David prihatin sambil menyangga siku kirinya.
"Apa? Katamu ada yang menggangguku?" Aku terkekeh, "David, aku baik-baik saja. Mungkin semua itu karena aku minum terlalu banyak yang berkafein."
"Tidak, bukan itu. Ada kerutan di dahimu sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu." David berkata kepadaku. "Ayo, beri tahu aku apa yang terjadi."
"Baiklah, baiklah," aku duduk menutup mataku sebelum menghela nafas, "Aku sangat gugup soal besok."
"Tunggu, maksudmu soal kita akan bertemu keluargaku?" Tanya David, duduk
"Ya, maksudku bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Aleah sudah membenciku dan aku tidak tahu kenapa, aku sudah mencoba segalanya tapi tetap saja. Bagaimana jika yang lain membenciku juga? Bagaimana jika mereka menilai kalau aku tidak cocok dengan denganmu atau ... " David membungkuk dan memberiku ciuman singkat di bibir.
"David aku serius, apa ...." David menciumku lagi sebelum aku sempat mulai mengoceh lagi.
"Berhentilah khawatir, jika kau terus menekankan pada dirimu tentang hal-hal sepele, kau akan membuat dirimu merasa tegang." David berkata kepadaku, "kau tidak perlu khawatir, mereka Semua baik dan mereka sudah berusaha meyakinkanku untuk mulai berkencan lagi dari berabad-abad yang lalu mereka akan sangat senang bertemu denganmu. Dan Aleah tidak membencimu, dia hanya belum bisa beradaptasi, jangan khawatir tentang dia. Dia selalu seperti itu, begitulah caranya mengidamkan perhatian. Beri dia waku beberapa hari lagi dan kau akan melihatnya menjatuhkan sikap."
"Aku tidak tau David, aku hanya berpikir dia sangat tidak menyukaiku dan aku khawatir bagaimana jika anggota keluargamu yang lain juga tidak menyukaiku."
"Naomi berhentilah khawatir, ok? Mereka akan mencintaimu, sama seperti aku mencintaimu," jawab David menarikku ke lengannya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, David," kataku untuk pertama kalinya sebelum menciumnya.
Di Kediaman Citra Highland
"Jadi Naomi, apa kegiatanmu?" Tanya Ibu David saat kami semua makan bersama.
"Aku ..."
"Dia masih kuliah, dia juga seperti anak kecil," Aleah berbicara.
"Aleah," kata David dengan nada peringatan.
"Apa? Aku kan cuma mengungkapkan kenyataannya."
"Tidak ada yang bertanya padamu dan kau perlu mengawasi dirimu sendiri. Tetap pertahankan perilaku tidak sopan itu atau kau dan aku akan punya masalah mengerti itu?" David berkata kepadanya, "Naomi orang dewasa dan kau perlu menghormatinya. Kau harus minta maaf sekarang juga."
"Kenapa aku selalu mendapat masalah saat aku mengatakan yang sebenarnya?" Aleah merengek sebagai korban. "Sejak dia masuk-"
"Maafkan aku, kek," Aleah bergumam dengan enggan sebelum memilih makanannya.
Kami tiba sekitar jam 3 sore, di mana David memperkenalkanku kepada orang tuanya. Mereka berdua berusia enam puluhan dan tampak sangat terkejut saat David mempersembahkanku kepada mereka sebagai pacarnya. Aku pikir itu ada hubungannya dengan kenyataannya kalau aku benar-benar lebih muda dari David.
Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mengintrogasi David. Entah bagaimana aku mendapat firasat aneh kalau mereka mungkin tidak memberikan persetujuan 100% untuk hubungan kami dan mencoba untuk mengenalku lebih dalam sebelum mereka mulai menilai. Namun, jika Aleah melanjutkan dengan sikap dinginnya terhadapku, aku ragu mereka tidak ingin mengenalku dengan cukup baik.
"Jadi Naomi, istriku bertanya apa kegiatanmu?" Tanya ayah David.
"Aku seorang guru honor," aku memberi tahu mereka, "Aku sebenarnya juga sedang menempuh pendidikanku di perguruan tinggi, satu tahun lagi aku akan selesai dan bisa menjadi guru yang sudah bersertifikat."
"Hmm. Itu bagus, kau menyukai anak-anak?" Ayah David berkata padaku.
"Ya, Om, tentu," aku tersenyum kecil.
__ADS_1
"Jadi, level berapa?" Ibu David bertanya.
"Maaf?" Aku bertanya tidak yakin apa yang dia tanyakan saat ini.
"Tingkat pendidikan apa yang kamu tempuh untuk mengajar?" Ibu David bertanya.
"Oh, aku mengejar pendidikan bahasa indonesia di tingkat menengah." jawabku.
"Oh, SMA," dia mengangguk.
"Itu berarti kamu siap berurusan dengan sekelompok anak remaja yang nakal seperti cucuku di sini kalau begitu," komentar Ayah David.
"Kurasa begitu, Om. Aku sudah banyak berlatih dengan anak remaja seperti itu, aku punya sepupu berusia enam belas tahun."
"Tadi kamu bilang dimana kampusmu?" Ibu David bertanya.
"Universitas Tunas Harapan."
"Kurasa aku belum pernah mendengar itu sebelumnya," jawabnya.
"Oh. Jadi Naomi, kamu mahasiswa penuh waktu, kan? Kurasa kamu tidak bekerja, jadi bagaimana kamu bisa mengatur waktumu? Dengan bersekolah dan sebagainya? Dan bagaimana dengan hidupmu, kalian tidak tinggal bersama kan?" tanya Ibu David, menangkapku lengah.
"Bu, itu sedikit berlebihan," kata David padanya.
"Apa? Aku hanya ingin tahu. Aku ingin tahu sepenuhnya tentang wanita yang dikencani putraku, apa salahnya denganku Naomi?" Dia bertanya menatapku.
"Aku kira anda berhak untuk penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang saya, Tante," kataku kepadanya, "Yah, aku masih tinggal bersama orangtuaku. Aku anak tunggal, jadi orangtuaku yang membiayai hidupku secara finansial sampai aku lulus dan mampu membiayai hidupku sendiri." Aku berkata pada mereka tanpa memperhitungkan kenyataan kalau David lah yang sudah mendukungku juga.
"Kau anak yang beruntung. Tidak banyak orang tua yang masih mau mendukung anak-anak mereka begitu mereka berusia 18 tahun," kata Ayah David.
"Aku tahu. Karena itulah aku memanfaatkan sebanyak-banyaknya bantuan yang kudapat," aku menjawab sambil memandangi David.
__ADS_1