Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Berbincang dengan ayah


__ADS_3

Pagi itu, aku hanya berada di rumah, kebetulan hari ini aku tidak memiliki janji untuk keluar dengan siapapun. Karin juga sedang sibuk berkencan dengan pacar barunya.


Saat ayah keluar dari kamarnya, dia menghampiriku..


"Naomi, ayah lupa memberitahumu kalau sepupumu Ashley akan datang dan menginap selama beberapa hari. Dia akan datang hari ini - dia seharusnya sudah di sini, sekarang. Jadi, kalau kau tidak punya rencana untuk keluar hari ini, itu bagus," kata Ayah sambil memperbaiki dasinya dan bersiap-siap untuk bekerja.


"Ayah, serius? Ayah tahu kan aku tidak suka dengan anak itu. Kenapa ayah menyuruhnya datang?" Aku mengerang, "Aku tidak mau berurusan dengan anak labil seperti dia!"


"Naomi, dia tidak seburuk itu," Ayah terkekeh.


"Itu karena Ayah belum tahu banyak tentang dia," kataku padanya, Ashley anak yang nakal, dia memang keponakan Ayah, tapi Ayah tidak mengenalnya sama seperti aku mengenalnya. Dia kasar, tidak sopan, keras kepala, dan memiliki banyak perilaku yang tidak baik. Setiap kali dia ada di hadapan Ayah, dia bertingkah seolah-olah dia orang yang tidak berdosa, tapi sebenarnya anak itu nakal sekali."


"Baiklah, sekarang Naomi, kurasa kau terlalu berlebihan," kata Ayah padaku.

__ADS_1


"Berlebihan? Ayah tidak mengenal Ashley dengan baik. Apa Ayah tahu kalau dia suka tinggal di sini karena Ayah dan Ibu tidak menerapkan aturan ketat padanya seperti paman Mike dan bibi Amel," kataku padanya, "Dan dia datang ke sini juga karena dia suka sama anak tetangga sebelah, aku harap ayah dan ibu tetap berada di sini setiap malam mengawasinya."


"Jangan berpura-pura, bukankah kau juga masih anak remajasepertinya, dan tentu saja secara naluriah pasti kau juga menyukai pria seperti anak yang tinggal di sebelah itu." kata Ayah padaku.


"Ayah aku memang masih remaja tapi bukan berarti aku liar dan nakal seperti dia. Aku tidak ingin berurusan dengan dia."


"Lantas, bagaimana kau bisa menangani anak remaja lainnya saat kau menjadi guru di SMA nanti?" Ayah bertanya kepada ku, "Kau pasti akan berurusan dengan ratusa anak remaja sepertinya setiap hari."


"Yah, mungkin aku harus mempertimbangkan kembali dan mengubah hidupku," candaku.


"Sudah terlambat untuk itu." Ayah tersenyum, "Omong-omong, Ayah sudah mengirimkan uang semestermu tahun ini ke dalam rekeningmu. Besok aku akan memberimu uang jajan lagi, karena Pamanmu berutang padaku jadi dia memberi sejumlah uang yang dia titil melalui Ashley."


"Ayah, terima kasih, tapi kau tidak perlu memberikanku uang jajan lagi. Sudah kubilang tidak apa-apa," kataku padanya.

__ADS_1


Aku merasa sedih karena dia sudah melakukan semuanya untukku sendirian dan juga sudah memberikanku uang jajan setiap saat. Ini salah satu contoh, di mana aku harus berpikir tentang idenya Karin untuk menemukan seorang lelaki yang bersedia membantuku secara finansial.


"Anakku, kau sudah kehilangan pekerjaan dan kau masih muda, kau pasti masih memiliki sedikit kebutuhan dan keinginan."


"Ayah, aku sudah bilang aku baik-baik saja. Lagipula aku tidak punya banyak hal yang aku butuhkan. Jangan khawatirkan tentang itu, kau sudah melakukan banyak hal," kataku kepadanya.


"Nak, kau masih menjadi tanggung jawabku. Seharusnya aku mendukungmu selama aku bisa dan kau membutuhkan itu." kata Ayah kepadaku, "Saat ayah nanti sudah semakin tua, maka disitulah giliranmu berperan untuk membantu dan mengurus orang tuamu."


"Ayah benar sekali," aku terkekeh, "Dan jika aku berhasil, Ayah dan ibu akan menjadi prioritas utamaku ... Yah, itu sampai aku punya keluarga sendiri dan pergi dari sini."


"Naomi itu kejam sekali," Ayah tertawa, "ayah sangat terluka jika kau benar-benar mau pergi."


"Ayah, aku hanya bercanda, akan ku pastikan Ayah dan Ibu mendapatkan perawatan terbaik," kataku padanya, "Ayah tidak akan kekurangan apa pun."

__ADS_1


__ADS_2