
Sejak aku mulai kuliah, aku terus menghitung tahun, bulan, minggu dan hari yang tersisa sampai hari kelulusan. Dan itu semua akhirnya tiba hari ini. Aku secara resmi lulusan dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana pendidikanku. Semua dosen terus mendorong kami untuk terus melanjutkan gelar megister kami, tapi jujur aku sudah cukup dengan kuliah untuk saat itu, aku butuh istirahat dari belajar.
Setelah upacara kelulusan berakhir, kami pergi makan malam bersama keluargaku, keluarga David dan Karin. Kami baru saja keluar bersama, semacam jamuan makan malam alias perayaan. Aku sangat senang akhirnya mencapai gelarku dan kemudian merayakan pencapaian itu dengan orang-orang yang ku cintai.
"Jadi sekarang setelah kita akhirnya lulus, apakah kita akan membicarakan hari besarmu selanjutnya, sekarang?" Karin bertanya dengan penuh semangat.
"Maksudmu pernikahan?"
"Tidak, maksudku pemakamanmu." Karin merespons dengan sinis. "Tentu saja pernikahanmu lah. Kau bilang kau dan David menunggu sampai kita lulus untuk mulai membahas detail pernikahan. Aku sudah tidak sabar untuk mulai ikut campur dalam perencanaanmu."
"Aku suka jika kau terlalu jujur, Karin." Aku menggelengkan kepalaku dengan tawa.
"Iya toh, Lagi pula, kita akan membahas pernikahan kan?"
"Kami belum mau berdiskusi apa pun. Wisuda baru tiga hari yang lalu Karin, David dan aku sudah merencanakan untuk menyewa seorang perancang untuk pernikahan saat kami sudah memutuskan untuk mulai merencanakan sesuatu." Aku memberitahunya. "Aku belum mau membahasnya."
"Kenapa tidak? Kau belum berubah pikiran tentang keinginan untuk menikah dengannya, kan?" Karin bertanya dengan panik.
"Tidak, belum. Aku hanya berpikir kalau mungkin kita bisa menunggu lebih lama sampai aku mendapatkan pekerjaan." Aku berkata padanya. "Aku ingin bisa
berkontribusi dalam pernikahan kami. Aku tidak ingin David melakukan semuanya sendiri. Dia bukan Daddyku lagi. "
"Aku sangat mengerti dari mana asalmu, tapi aku tahu David tidak akan setuju denganmu. Jika kalian siap untuk mulai merencanakan pernikahan, David tidak akan peduli apakah kamu sedang bekerja atau tidak." Kata Karin padaku. "Dia akan memberitahumu kalau tidak masalah baginya apakah kau mau berkontribusi atau tidak, meskipun dia mampu melakukan semuanya."
"Aku tahu dia bisa, tapi dia sudah melakukan banyak hal untukku, Karin. Aku ingin menikah dengannya, tapi aku akan menyukainya jika aku bisa memberikannya kontribusi."
"Terserah kau, deh." Kata Karin padaku. "Tapi jika kau merencanakan pernikahanmu sekarang, tema warna apa yang kamu inginkan?"
"Aku tidak tahu, ada begitu banyak warna bagus yang akan tampak indah bersama." Aku merespons. "Seperti pink dan hijau, biru dan ungu, biru dan kuning."
"Naomi, lebih baik pastikan kau mengajakku saat kau akan bertemu dengan perancang pernikahan itu. Aku tidak sabar untuk mulai membantumu merencanakan pernikahanmu."
"Aku juga tidak sabar.."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, di rumah David.
Aku sedang melihat beberapa foto berbagai jenis gaun pengantin yang dikirim Karin padaku saat David keluar dari kamar mandi. Aroma sabun yang digunakannya mandi harum skali.
"Baumu sangat harum." Kataku tepat sebelum ponselku diambil dari tanganku
"David hei, Kenapa?" Pertanyaanku terputus saat bibir David menciumku.
Aku menciumnya kembali dengan rasa yang sama seperti dia menciumku.
"Kenapa kau tiba-tiba menciumku?" Aku bertanya sedikit terengah-engah, aku mencoba menarik napas saat kami saling menarik diri.
"Aku hanya ingin waktumu beberapa menit." David merespons sebelum menciumku sekali lagi.
Bibirnya akhirnya menjuntai ke leher dan bahuku di mana aku merasa dia meninggalkan ciuman kecil dan mengisap dengan lembut. Aku tersenyum sambil menutup mata dan memberinya lebih banyak akses. David terus mencium pundakku dan mencoba melepaskan tali tipis blusku dari pundakku. Aku tahu persis apa yang dia inginkan dan aku dengan senang hati memberikannya kepadanya; bercinta dengan penuh gairah.
"Bukankah aku sudah memberitahumu kalau aku sangat mencintaimu?" David bertanya mencium kepalaku saat kami saling berpelukan.
"Lebih dari seratus kali." Aku tersenyum ketika aku mencium dadanya.
"Aku tidak akan lupa. Dan supaya kau selalu ingat juga, aku juga mencintaimu."
Ponselku berbunyi lagi saat pesan WhatsApp lainnya masuk.
"Seseorang benar-benar ingin mengganggumu." Kata David mengambil ponselku dari meja samping tempat dia meletakkannya sebelumnya dan menyerahkannya padaku. "Ini sudah yang kelima puluh kali, aku mendengarnya. Apa itu darurat?"
"Tidak, itu cuma Karin." Kataku padanya, aku membuka kunci ponselku dan membuka pesan. "Dia cuma mengirimiku banyak gambar untuk dilihat."
"Gambar seperti apa? Foto kelulusan?" Tanya David.
"Tidak, gambar gaun." Aku merespons.
"Gaun? Gaun macam apa? Oh gaun semacam itu." Kata David setelah melirik salah satu foto yang telah ku buka.
__ADS_1
"Ya, dia mengirimiku gambar gaun pengantin dan gaun pengiring pengantin sepanjang malam."
"Apa kau sudah memilih yang mana kau sukai?" David bertanya padaku.
"Banyak. Semuanya sangat menarik." kataku padanya.
"Kami sepakat kalau kami akan mulai mendiskusikan dan merencanakan detail pernikahan setelah lulus. Apakah kau pikir kita bisa mulai melakukannya sekarang?" Tanya David
"Kamu ingin kita mulai membuat rencananya sekarang?" Aku bertanya padanya.
"Bukan begitu?" David bertanya balik.
"Aku hanya ... tapi ..."
"Tapi? Apa kau berubah pikiran tentang pernikahan kita?" Tanya David prihatin.
"Tidak, tidak. Hanya saja, aku ingin bisa berkontribusi dalam pernikahan dengan cara tertentu." Kataku padanya.
"Apa maksudmu? Bukankah merencanakan dan mendiskusikan detail adalah berkontribusi?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku kontribusi uang." Aku berkata padanya. "Aku ingin menunggu sampai aku mulai bekerja sehingga semua pengeluaran bukan hanya darimu."
"Naomi, Kau baru saja lulus bahkan belum seminggu. Aku tidak ingin menunggu selama itu untuk mulai merencanakan pernikahan kita. Jika kita bisa mulai membuat persiapan yang diperlukan untuk pernikahan dalam dua bulan ke depan maka aku akan menyukainya."
"David apa kau mendengar apa yang aku katakan sebelumnya tentang tidak ingin kau menangani semua pengeluaran itu sendirian?"
"Aku mengerti itu, tapi kupikir kau selalu mengkhawatirkan hal-hal sepele." David merespons. "Kau tahu, aku bisa lebih dari cukup untuk membayar biaya apa pun. Aku tidak mau menunggu setahun lagi sebelum kita menikah. Kita bisa menghubungi perencana pernikahan bahkan besok."
"David," aku membuka mulut untuk memprotes, tapi David menciumku dan membungkamku.
"Semua kontribusi biar aku yang buat keputusan, baik itu tempat, pesta, undangan, gaun dll. Dan terakhir, pastikan kau tidak muncul pada hari pernikahan." David berkata padaku membuatku tertawa.
"Kau benar-benar berpikir aku akan meninggalkanmu berdiri di altar?" Aku tertawa sebelum memberinya ciuman. "Itu hal terakhir yang akan kulakukan padamu, David."
__ADS_1
"Bagus. Karena aku harus memburumu dan membuatmu didakwa karena telah menghancurkan hatiku." Kata David padaku.
"Kau tidak harus khawatir tentang itu sayang. Aku tidak akan pernah menghancurkan hatimu."