
Aku menghabiskan sisa minggu dan Natal bersama David dan keluarganya. Aku mendapat kesempatan untuk bertemu dengan beberapa kerabatnya yang lain serta saudara perempuannya dan anak-anaknya. Adik David, Gisel, dua tahun lebih muda darinya dan putrinya bernama Amora hampie seumuranku. Mereka semua sangat baik kepadaku dan tampaknya semuanya menerimaku dan tapi aku merasa Gisel tidak benar-benar menyetujui hubunganku dengan David. Aku tahu itu ada hubungannya dengan kenyataan kalau David lebih tua lima belas tahun dariku dan dia cukup tua untuk menjadi ibuku, entah bagaimana dia berpikir kalau David agak terlalu tua untukku. Memang dia tidak mengatakannya kepadaku, tapi aku bisa merasakannya. Biasanya semua orang tampak terkejut dengan usiaku yang masih sangat muda. Aku tidak masalah dengan hal usia seperti ini, tapi tidak seperti yang lain yang mungkin akan berpikir aku masih anak di bawah umur dan David menjadi seorang pedofil atau apa pun itu. Kita berdua menyetujui, hanya orang dewasalah yang mampu membuat keputusan sendiri.
Semua orang benar-benar ramah dan baik kepadaku dan aku cukup bersenang-senang dengan keluarga David sebelum kembali ke rumah dan bergabung denganku untuk tahun baru sebelum mereka kembali ke rumah juga.
Kuliahku akan di mulai dan aku tidak bertemu dengan David lebih dari seminggu. Aku sudah merindukannya tapi aku sibuk dengan kuliahku dan dia sibuk dengan pekerjaannya. Dia menyarankan agar aku tinggal bersamanya dan pergi kuliah bersamanya karena letaknya agak dekat dari tempatnya, tapi karena aku menghabiskan liburan bersamanya, aku memutuskan untuk mencoba menikmati hariku dengan keluargaku. Ditambah lagi aku ingin menghabiskan waktu dengan Karin juga, rasanya sudah lama kami tidak bertemu sejak terakhir kali kami keluar bersama.
"Aku tidak tahan," ibu memutar matanya ke arah seseorang di belakangku.
"Siapa?" Aku bertanya tidak langsung berbalik dan melihat sekaligus.
"Wanita ****** yang sombong itu," jawab Karin.
"Siapa?" Tanyaku sebelum berbalik untuk melihat.
"Ya. Lihat, kau bahkan tidak mau melihat siapa yang sedang berbicara, dan mengetahui kalau itu aku," Karin menjawab, "Aku tidak tahan dengan perempuan ****** itu, kuharap ini yang terakhir aku bersama geng manapun dengannya."
__ADS_1
"Aku juga," aku menjawab, "Kau tahu apa yang aku khawatirkan, dia berusaha untuk menggurui kami seperti anak-anak sedangkan dia tidak bisa mengajari dirinya sendiri."
"Kampus senang dengan uangnya, makanya itu satu-satunya alasan mereka menahannya. Dia gagal di setiap semester dan harus mengikuti ujian susulan, tapi orang tuanya bersedia membayar berapa pun dan pihak kampus bersedia untuk disogok seperti itu. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia masih menyebalkan."
"Lagipula, apa urusanmu dengannya?" Aku terkekeh pada komentar sebelumnya tentang Cerry.
"Aku tidak tahu kenapa dia tidak bisa menjaga mulutnya dan berusaha tidak mencampuri urusan orang. Waktu itu pacarku menurunkanku di depn kampus dan aku mendengarnya bergosip soal sugar daddy di kelas. Aku cuma berharap saat itu dia menyebut namaku jadi aku bisa mendapatkan kesempatan untuk menamparnya."
"Jangan memberinya leluasa karena merasa dirinya penting. Lakukan saja apa yang menurutmu benar, abaikan saja dia. Tidakkah kau perhatikan dia masih kekanak-kanakan? Jangan tunduk padanya," Aku memberi tahu Karin, "Jadi, bagaimana kabar pacarmu? "
"Itu baru Karinku yang hebat. Sekarang kalian berdua bisa bahagia."
"Terima kasih. Jadi bagaimana dengan David, kalian berdua sudah menghabiskan waktu bersama sejak kau kembali dari liburan?" Karin bertanya.
"Tidak, kami berdua sangat sibuk tapi aku akan tinggal bersamanya akhir pekan ini."
__ADS_1
----
"Kau bercanda kan?" Aku berkata pada David dengan rasa tidak percaya.
"Tidak. Aku serius, apa itu tidak bagus?" David bertanya, "Hanya dua malam. Naomi, tolong."
"Tidak bukan itu. Masalahnya mengawasi dan tinggal bersama Aleah sama sekali tidak masalah, tapi apakah kau serius mengharapkanku untuk tinggal di sini sendirian dengan Aleah? Gadis itu membenciku David, apakah kau pikir meninggalkanku sendirian dengannya akan menjadi mudah?"
"Naomi jika aku memberikan instruksi tegas padanya kalau kau yang bertanggung jawab maka dari itu dia harus mendengarkan dan menghormatimu, dia tidak akan bersikap seenaknya, karena dia tahu jika kau mengadu padaku saat aku kembali, hukumannya akan bertambah."
"Dan bagaimana membuat situasi menjadi lebih baik? Dia sudah membenciku dan bahkan lebih buruk lagi sejak kita pergi ke Cittra Higland dan kau bahkan menyita ponselnya. Jika aku tinggal bersama mereka dan dia berkelakuan buruk dan kemudian aku mengadu padamu, itu hanya akan menjadi alasan untuk dia bisa tambah membenciku."
"Dan aku akan terus menghukumnya dan menghukumnya sampai dia akhirnya sadar dengan sikapnya sendiri." David menjawab, " Tolong Naomi, kau tahu aku tidak akan memintamu untuk melakukan ini jika aku tidak putus asa. Biasanya aku akan meninggalkan anak-anakku dan menitipnya pada bibi atau kakek-neneknya tapi aku benar-benar lupa tentang hal berbakti jadi aku tidak membahas peraturan ini dengan mereka dan sekarang agak terlalu mendadak dan mereka semua sibuk itulah sebabnya aku bertanya padamu. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu."
"Ya Tuhan, David. Kenapa aku tidak bisa mengatakan tidak padamu?" Aku mengerang, mengusap kedua mataku, "Baiklah, aku akan mengawasinya. Meskipun aku yakin sekali aku akan menyesali ini."
__ADS_1