
Bahkan saat aku sedang bersiap-siap untuk pergi berkencan, aku masih saja sedikit tidak yakin apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat dengan keluar lagi. Aku mungkin terlalu banyak berpikir, memikirkan semua kemungkinan negatif dan semua hal yang bisa terjadi malam ini. Semua kencan yang pernah aku jalani sejauh ini semuanya gagal, bagaimana jika yang satu ini tidak jauh berbeda?
Tapi, saat aku membaca profil orang ini, jujur , sebenarnya aku merasa sangat tertarik. Tertarik dengan cara dia menggambarkan dirinya sendiri, dan juga kualitas yang dia cari dalam diri seorang wanita. Aku sangat berharap bahwa meskipun hal-hal yang akan terjadi tidak berjalan dengan baik bersama orang ini maka, aku tidak bisa lagi menanganinya.
Karin sudah memberiku gaun bertali bunga dengan garis leher yang menjuntai hingga ke bawah lututku. Dia membelinya lewat online - yah tentu saja karena dia salah satu dari mereka yang gemar berbelanja dan saat dia membelinya, sayangnya baju itu tidak cocok untuknya. Proses pengembalian barang yang dibeli secara online terkadang ribet, alih-alih mengembalikannya, dia memutuskan untuk memberikannya kepadaku dan menyerbu lemari ku untuk pakaian apa pun yang aku miliki yang tidak cocok untukku. Karin lebih tinggi 3 inci dariku, sedikit lebih kurus daripada diriku sehingga pakaian apa pun yang sudah kecil di tubuhku akan cocok untuknya. Jadi, saat Karin membawakan gaun itu padaku dan menyarankan kalau itu akan terlihat bagus untuk teman kencanku, aku menggodanya dengan bertanya kepadanya kenapa dia ingin sekali aku mengenakan gaun malam pada teman kencanku - gaun itu benar-benar mengingatkanku pada gaun malam bunga yang ku miliki. Tapi, gaun yang Karin berikan padaku benar-benar nyaman, tidak terlalu provokatif dan tidak terlalu konservatif.
"Kau terlihat sangat cantik," kata Ashley saat dia datang ke kamarku saat aku sudah bersiap-siap.
"Wow, apa itu pujian darimu? Terima kasih," kataku padanya terkejut.
"Apa? Kau bilang begitu seperti aku tidak pernah memberikan pujian itu padamu," kata Ashley padaku.
"Aku tidak pernah mengatakan kau tidak mampu. Hanya saja aku mengatakan itu karena kedengarannya sangat aneh, karena kau selama ini jarang bersikap baik," jawabku.
__ADS_1
"Itu tidak benar, aku hanya memberikan pujian," kata Ashley padaku, "Yah paling tidak begitu ... Oh yah apa kau hanya memakai itu tanpa switer atau sesuatu?"
"Tidak, terima kasih sudah mengingatkanku. Bisakah kau mengambil jaket merah itu dari lemariku," kataku padanya saat aku meletakkan ponsel dan lipstik yang baru saja aku gunakan.
"Kupikir, kau pernah bilang kan, kalau jangan pernah menyentuh lemarimu," kata Ashley sambil berjalan ke sana.
"Ok sekarang aku menyuruhmu, dan ingat aku juga mengatakan ini bukan tanpa seizinku? Sekarang aku memberimu izin untuk melakukannya," kataku padanya.
"Itu sana, di depanmu!"
"Apa ini? Ini bukan warna merah," kata Ashley sambil membawa jaket itu padaku.
"Merah dengan maroon sama saja. Terima kasih." Aku mengambil jaket dari tangannya, lalu mengenakannya, "Jadi, bagaimana penampilanku sekarang?"
__ADS_1
"Apa kau memancingku untuk memberimu pujian lagi?" Ashley terkekeh.
"Ya mungkin, aku agak suka pujian yang kau ucapkan itu," kataku padanya.
"Yah seperti yang kukatakan sebelumnya, kau terlihat cantik dan rambutmu juga terlihat bagus. Kau akan memembuat pria itu terpesona padamu."
"Kuharap tidak," aku tertawa.
"Kau tahu, aku benar-bebar tidak bermaksud, maksudku dengan penampilanmu ini. Mungkin aku harus mengatakan kau akan membuat orang itu terkagum-kagum." Ashley tersenyum, "Semoga beruntung"
"Terima kasih," aku menjawab, "Aku pergi sekarang. Sampai ketemu nanti."
Itu untuk pertama kalinya aku dan Ashley melakukan hal seperti ini. Biasanya aku tidak tahan dengannya dan kami akan berdebat, tapi karena pembicaraan kami beberapa hari yang lalu ia kelihatannya mengalami kemajuan.
__ADS_1