
"Aku merangkul kealamianku dari waktu ke waktu, seperti sekarang misalnya. Tapi ada kalanya seorang gadis perlu memperbaiki dirinya sendiri. Aku masih muda ibu, aku harus memanfaatkan masa mudaku sebaik-baiknya," kataku padanya.
"Jadi, maksudmu aku sudah tua?" Ibu bertanya.
"Aku tidak mengatakan kalau ibu tua hanya saja, bukannya memang begitu," aku terkekeh, "Oh, ngomong-ngomong, ingat produk favoritku adalah Makeover, aku suka lipstik dari produk mereka."
"Aku tahu aku tidak akan membelikanmu make up apa pun jadi mungkin kamu harus memberi tahu pada Karin dan teman-temanmu yang lain." Ibu berkata kepadaku, "Jika aku membelikan sesuatu untukmu, itu akan menjadi sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang tidak berguna yang bisa kamu dapatkan meskipun itu make up."
"Tidak berguna? Bu serius? Kau tahu, kadang-kadang kau bisa menjadi ..."
"A-apa Naomi? Katakan, aku bisa menjadi apa? Aku ingin mendengarnya," Kata ibu dengan berani.
"Seorang Ibu," aku selesai, "Menurutmu apa lagi yang akan kukatakan? Terkadang kau bisa menjadi ibu seperti itu."
"Yah, itulah tepatnya aku, ibumu" jawab ibu, "Bukan temanmu ..."
"Kamu kadang-kadang bisa berpura-pura sebagai temanku ..." Aku terdiam, tiba-tiba ponselku berdering, "Aku mau menjawab l
panggilan ini."
"Hei," aku menjawab telepon dengan senyum di wajahku.
"Halo cantik bagaimana kabarmu?" Sapa David membuatku tersenyum lebih cerah.
__ADS_1
"Aku baik, aku sangat baik. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik-baik saja, aku baru saja istirahat untuk makan siang. Dan aku memikirkanmu," David berkata kepadaku, "Aku sangat ingin bertemu denganmu lagi dengan segera. Aku hanya ingin melihat wajah cantikmu dan senyum indahmu itu dan mendengarkan tawamu. Aku suka tawa tawamu, pernahkah aku mengatakan hal ini sebelumnya? "
"Tidak, tapi kamu baru saja memberitahuku sekarang," aku terkikik dan melihat Ibu sedang menatapku dengan tatapan aneh.
"Yah, aku sangat suka mendengarnya saat kamu tertawa. Terdengar menyenangkan dan santai," jawab David.
"Apa? Tawaku santai? Aku baru pertama kali mendengar hal itu," aku tertawa.
"Itu dia ... Sejujurnya memang. Aku sangat mencintai pekerjaanku tapi kadang-kadang aku hanya butuh istirahat juga. Aku tidak punya waktu untuk berpergian keluar atau banyak bersantai karena aku bekerja enam hari seminggu tapi dengan mendengarmu tertawa untuk beberapa minggu terakhir entah bagaimana itu membuatku cukup rileks." David berkata kepadaku, "Saat ini, jujur aku sedikit lelah, aku hanya ingin meninggalkan klinik selama sisa hari dan pergi ke pantai atau apalah. "
"Kau tahu, kau selalu bisa melakukan itu jika kau mau, maksudku kau perlu menjalankan bisnismu sendiri itupun jika kau tidak punya banyak pasien ... Sebenarnya hari ini sangat menyenangkan untuk mengunjungi pantai." Aku menjawab tersenyum walaupun dia tidak melihatnya.
"Jika aku pergi sekarang, dalam beberapa menit kedepan apakah kamu akan siap menemaniku di sana?" David bertanya, "Kalau kamu mau menemaniku, ku pikir aku akan menutup klinikku sekarang, aku belum pernah ke pantai selama bertahun-tahun. Hei apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Sepertinya kamu sedang mengemudi?"
'Apa?' Ibu berkata pada dirinya sendiri sebelum memberiku satu lagi tatapan aneh.
Itu adalah salah satu dari pandangan bingung yang sedang berusaha mengatakan 'dengan siapa aku berbicara? Sejak kapan aku tersipu dan cekikikan saat menelpon? Apa yang belum kuketahui?'
Aku benar-benar bisa melihat keingintahuan membakar dirinya.
"Oh, itu bagus. Kamu belum memberitahu ibumu tentang aku padanya, kan?" Tanya David.
__ADS_1
"Tidak juga. Tapi mungkin nanti aku akan memberithunya. Hei David, maaf aku harus menutup telponnya, kami baru saja tiba di luar pasar, aku harus pergi," kataku kepadanya, "Kita akan berbicara lagi nanti, oke?"
"Jangan khawatir. Aku akan meneleponmu nanti, oke? Nikmati sisa harimu dengan indah," jawab David.
"Ya kamu juga," aku tersenyum sebelum menutup telepon.
telepon berakhir...
"Oke, sejak kapan kamu tertawa dengan memerah saat sedang berbicara di telepon?" Ibu bertanya saat dia memarkir mobil di tempat parkir.
Aku tahu itu. Aku tahu itu yang dia pikirkan saat dia menatapku sepanjang aku menelpon tadi.
"Aku tidak terkikik dan tersipu malu," aku menyangkal, aku keluar dari mobil.
"Ya, kau terlihat seperti itu dan kau memutar-mutar rambutmu seolah-olah menggoda seseorang," ibu menjawab, "Jadi? Kapan aku akan bertemu pria misterius yang membuatmu memerah dan bereaksi seperti itu? Dan jangan katakan kalau itu bukan siapa-siapamu,ibu tidak bodoh."
"Siapa bilang itu laki-laki?" Aku bertanya padanya.
"Tunggu, apakah itu perempuan?" Ibu bertanya.
"Mungkin," aku mengangkat bahu.
"Tidak, tidak, aku kenal kamu dan aku tahu kamu bukan lesbian jadi itu pasti cowok," kata ibu kepadaku.
__ADS_1
Seorang pria? ya anak laki-laki? Tidak. Dia pria dewasa, Ibu, hampir seusiamu.
"Kami baru saja mengenal satu sama lain ibu, kmi belum terlalu serius." kataku kepadanya, "Tapi saat kami memutuskan untuk lebih serius maka ibu dan ayah pasti akan bertemu dengannya."