Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Menikmati Akhir Pekan di Rumahnya


__ADS_3

"David, jangan bilang kau belum pernah berbelanja sebelumnya," kataku kepadanya ketika kami mendorong troli ke bagian makanan ringan.


"Aku pernah, tapi jarang karena aku punya pembantu, dialah yang sering pergi berbelanja dan mengatur semuanya," David berkata sambil mengambil beberapa bahan makanan, "Kadang aku berbelanja bersama Calista."


"Oh, jadi kau belum pernah berbelanja, sejak saat itu?" Tanyaku saat kami berjalan berdampingan mendorong troli.


"Yah, ini pertama kalinya aku pergi setelah empat tahun terakhir ini," David tersenyum.


"Oh, baiklah kalau begitu selamat datang kembali hehe" Aku berkata kepadanya, "Seperti apa dia, maksudku Calista?"


"Dia cantik, cerdas, pada Awalnya dia agak sedikit pemalu dan itulah yang membuatku tertarik padanya." kata David padaku, "Kami bertemu di Kampus, dia di bagian fakultas ilmu keperawatan sedangkan aku di fakultas kedokteran, kami bertemu lewat seorang teman yang kebetulan sama dengan kami."


"Apa dia cinta pertamamu?," kataku padanya.


"Dia.." David tersenyum.


"Kenapa? Kau juga bahkan tidak pernah memberitahuku bagaimana dia bisa meninggal dunia," kataku padanya.


"Dia, sudah lupakan saja, anggap saja situasi itu tidak menguntungkan," kata David dengan ekspresi sedih di wajahnya. Aku menyesal membahas hal ini padanya.


"David, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengorek kembali masa lalumu. " kataku menyentuh lengannya.


"Tidak apa-apa. Sudah empat tahun berlalu dan sekarang aku seharusnya bisa membicarakan masa depan tapi tetap saja... Aku akan memberitahumu suatu hari tentang ini, tapi tidak sekarang," kata David padaku.


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu membicarakannya jika kau tidak mau atau kau tidak siap untuk itu." Aku memberinya sedikit senyum dengan meyakinkan "Aku sangat mengerti itu."

__ADS_1


"Thanks," David menarikku mendekat dan memberiku ciuman yang tulus.


David dan aku kemudian mengambil beberapa makanan ringan dan juga bahan makanan sebelum kembali ke tempatnya. Karena hari ini Jumat malam dan aku menginap untuk berakhir pekan, aku mendapat tumpangan ke kampus hari ini dengan Karin dan sepulang kuliah dia mengantarkanku ke tempat kerja David di mana aku bisa meletakkan tas ku di mobilnya dan menunggu sampai dia selesai bekerja.


Dalam perjalanan menuju rumahnya aku menyarankan agar membeli beberapa keripik untuk nanti malam kita makan sambil menonton film yang sudah kami rencanakan bukan cuma itu saja, aku memesan Pizza. Tentu saja David mencoba memarahiku tentang kebiasaan makanku yang tidak sehat, tapi aku selalu berhasil membuatnya menuruti kemauanku.


"Aku ingin menyegarkan diriku di kamar mandi utama di luar sana, kamu bisa menggunakan yang ini," kata David sambil melonggarkan dasinya.


"Atau kita bisa berbagi," gumamku.


"Apa?" Tanya David.


"Tidak ada, aku hanya mengatakan baiklah." Aku tersenyum padanya sebelum pergi ke arah tasku dan memilih pakaian untuk dipakai setelah mandi.


"Kita makan di sini?" Aku bertanya kaget saat melihat David membawa semua yang kami butuhkan ke atas.


"Ya, aku merasa agak malas malam ini jadi aku pikir lebih baik kita menonton film di sini dan makan di sini juga. Dengan begitu aku tidak perlu khawatir naik tangga saat aku mau tidur." Kata David duduk di tempat tidurnya.


"Ide yang bagus," aku tersenyum sebelum suduk di sampingnya.


"Apa yang ingin kamu tonton?" David bertanya saat dia memegang remote untuk menggulir opsi Netflix di layar datar besar di dinding depan tempat tidurnya.


"Aku mau nonton apa saja selama itu bukan film yang membosankan. Kau bisa memilih film semacam komedi atau sesuatu yang romantis. "


David memilih film bergenre komedi romantis dan yang mengejutkanku biasanya cowok paling tidak suka menonton film romantis, biasanya cowo lebih suka film Action atau film horor. Film yang kami tonton sekarang sangat lucu dan bagus dan kami berdua menikmatinya. Kami sudah menghabiskan semua pizza, David juga tetap makan meskipun dia mengklaim bahwa itu tidak sehat.

__ADS_1


"Maaf," David tertawa saat dia mendorong jagung pop terakhir ke mulutnya yang menyebabkan dia tersedak dan mulai batuk.


"Rasakan, itu akibatnya jika kau terlalu rakus," aku tertawa sambil menepuk punggungnya dengan lembut, "Kau baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa" David terus batuk.


"Aku akan mengambilkan air untukmu," aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil salah satu gelas yang kami gunakan sebelumnya.


"Ya," David mengangguk masih berusaha mengendalikan batuknya.


"Ini dia," Aku menyerahkan gelas air kepadanya.


"Sepertinya keripik itu salah masuk, ke tenggorokanku," David terkekeh begitu dia minum air dan mengendalikan batuknya.


"Tenggorokanmu yang salah," Aku tertawa lagi, "Aku tidak tahu apa kau memiliki tenggorokan yang benar dan salah, tapi kau ini adalah dokter jadi kau mungkin tahu lebih banyak daripada aku."


"Kau tahu maksudku," David tertawa juga.


"Apa kau baik-baik saja sekarang?" Aku mendekat padanya dan menyentuh pipinya. Wajahnya agak merah karena batuk-batuk.


"Ya, aku baik-baik saja sekarang," David menyeringai, "Terima kasih"


"Yaayy," aku tertawa bersandar padanya, "Aku senang kau baik-baik saja sekarang."


Aku meletakkan tanganku di dadanya dan mulai menggerakkan bibir kami lalu mulai berciuman dengan penuh gairah, David mencium leherku dan mengangkat atasanku. Terakhir kali aku berada di sini dalam posisi seperti ini, semuanya tidak pernah berjalan lebih baik. Tapi malam ini berdasarkan prediksiku sesuatu akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2