Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Sejak aku lulus, aku jadi punya banyak waktu luang. Alih-alih hanya tinggal di rumah tanpa melakukan apa pun, aku mencoba mencari hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu kosongku.


Hari ini aku menghabiskan waktu untuk membantu ibu di kebun. Dia membeli banyak biji bunga sehingga aku bisa membantu menanamnya. Setelah selesai, aku memutuskan untuk menjemput Aleah dan Alisa dari sekolah. Beberapa bulan setelah pembicaraanku yang tulus dengan Aleah, aku melihat beberapa perubahan. Dia benar-benar mencoba untuk tetap rukun denganku dan melihat apakah kita bisa memberikan teman itu kesempatan. Aku memang masih bukan orang favoritnya, tapi setidaknya dia tidak memberiku neraka seperti sebelumnya. Aku suka dia jauh lebih baik sekarang daripada sebelumnya.


"Aleah, aku ingin bertanya sesuatu padamu." Aku berkata kepadanya saat aku menjemputnya dari sekolah.


"Apa itu?" Dia bertanya padaku.


"Yah, ayahmu dan aku sudah memutuskan untuk menyewa seorang perancang pernikahan dan mulai membuat pengaturan untuk pernikahan." Aku memberitahunya.


"Oke? Jadi?"


"Jadi, kita punya janji temu dengannya hari Jumat pukul lima dan dalam membuat pengaturan, dia mungkin ingin mengetahui hal-hal tertentu seperti berapa banyak pengiring pengantin dan pengiring pria akan hadir." Aku merespons. "Aku bertanya-tanya apakah kau mau menjadi pengiring pengantinku?"


"Kau bercanda kan?" Aleah merespons.


"Kenapa aku harus bercanda?"


"Seorang pengiring pengantin? Uhm ... aku tidak tahu." Aleah ragu-ragu.


"Kau bilang akan mencobanya bukan?," kataku padanya.


"Baiklah aku akan mencobanya Naomi. Sudah berapa banyak pengiring pengantin yang sudah kau persiapkan?"


"Yah, temanku Karin akan menjadi pelayan kehormatan. Temanku yang lain Joy akan menjadi pengiring pengantin begitupun sepupuku Ashley dan aku berharap kau akan setuju untuk menjadi yang keempat."


"Bagaimana dengan Alisa?" Aleah bertanya.


"Dia akan menjadi gadis pembawa bunga," kataku padanya. "Ayahmu menginginkannya. "


"Warna apa yang akan kau gunakan?" Aleah bertanya.


"Aku belum tahu. Saat kita bertemu dengan perancangnya dia akan menunjukkan beberapa tema kepada kita, jadi kita bisa memilih warnanya." Aku memberitahunya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan melakukannya, untuk ayah."


"Kau akan membuatnya senang." Aku berkata menyembunyikan senyum kepuasan.


"Tapi aku tidak mau mendapatkan gaun yang berwarna oranye." Aleah merespons.


"Siapa juga yang mau memilih oranye sebagai bagian dari tema untuk pernikahan."


Aku tidak tahu kalau mengatur pernikahan bisa menjadi pekerjaan yang keras bahkan saat kau sudah memiliki perancang. Ada daftar undangan, memilih gaya kartu undangan, memilih tempat, memilih skema warna, dekorasi, pemasangan, makanan, kue, hiburan dll. Banyak sekali. David hanya bisa datang ke satu pertemuan dengan perancang karena dia harus bekerja, jadi sebagian besar waktu aku harus membawa Karin dan ibu bersamaku untuk membantuku memilih. David bilang kalau dia benar-benar tidak akan keberatan dengan apa pun yang aku pilih.


Hari ini adalah hari dimana untuk mencoba gaun pengantin, gaun pengiring pengantin dan gaun Aliah juga. David akan mengatur kapan untuk pengiring pria dan setelan jasnya sendiri. Waktunya hampir habis dan sebelum kita menyadarinya, hari pernikahan akan tiba. Warna yang dipilih untuk pernikahan adalah pink dan hijau. Kami sudah mencapai kesepakatan bahwa kami akan mengubahnya sedikit, gaun pengiring pengantin akan berwarna merah muda sementara pelayan gaun kehormatan akan hijau serta gadis pembawa bunga.


"Jadi mau yang bagaimana, panjang atau pendek?" Para wanita di toko pengantin bertanya ketika dia membawa kami melalui beberapa gaun.


Para wanita di toko pengantin membantuku mencoba beberapa gaun. Namun, aku belum bisa memutuskan yang mana aku sukai. Ibu mencoba memberikan masukan juga, tapi aku masih ragu-ragu.

__ADS_1


Mereka akhirnya memutuskan memilih gaun yang akan mereka kenakan sebagai pengiring pengantin. Mereka memilih gaun panjang tanpa strap. Sedangkan aku belum bisa mengambil keputusan tentang gaun yang paling aku sukai.


"Aku setuju mengenakan ini. Aku yakin kau bisa menemukan gaun yang cocok untukmu sendiri." Kata Ashley sambil menunjuk ke gaunnya.


"Dengar yang ku katakan, kau mungkin bisa memutuskan mana yang menurutmu bagus. Kalau kami paling sulit karena kami harus menemukan gaun yang disukai sebagian besar dari kita. Ada empat dari kita dan itu sulit saat kami semua memiliki pendapat masing-masing. Yang satu mau ini dan yang lainnya tidak. Tapi, kami akhirnya bisa mengambil keputusan dan memilih pakaian kami. meskipun masih harus memilih mau gaun yang pendek atau panjang. " Kata Ashley.


"Aku mau gaun yang panjang dan tidak memiliki tali" Aleah setuju.


"Persis." Alexa merespons. "Dan di sisi lain, kau tidak perlu khawatir apa pendapat orang lain, apa mereka akan suka melihatnya atau tidak."


"Tapi aku khawatir memilih gaun yang sempurna untuk pernikahanku. Ini akan menjadi hari besarku Alshley, aku harus terlihat hebat. Itulah sebabnya keputusanku sangat sulit."


"Tidak masalah apa yang kau kenakan Naomi, ayah akan berpikir kalau kau tetap terlihat hebat dalam segala hal bahkan jika kau memakai karung goni." Kata Aleah yang membuatku sedikit tersenyum.


Aku menganggap itu sebagai pujian.


"Tapi aku tidak mau mengenakan karung goni untuknya. Aku ingin terlihat seperti ratunya berjalan di lorong."


"Yah, kau tidak akan menemukan gaun yang membuatmu terlihat seperti seorang ratu, jika kau berdiri di sana dan hanya berbicara." Kata Karin padaku. "Bisakah kita melihat gaun lainnya? "


"Tentu." Laila, salah satu wanita di toko pengantin merespons dan mencoba mencari lebih banyak gaun.


"Kau terlihat sangat cantik, Naomi" Alisa memuji begitu aku keluar dari ruang ganti dengan gaun yang lain. "Kau terlihat seperti seorang putri."


"Aww, terima kasih sayang." Aku tersenyum padanya dan pergi melihat diriku di cermin.


"Bagaimana menurut kalian?" Tanyaku, aku berbalik dan menunggu pendapat orang lain.


"Aku tidak suka itu. Kupikir kau harus mencoba yang lain."


Alshley dan Aleah yang pertama merespons.


"Apa kau menyukainya?" Ibu bertanya padaku.


"Aku pikir itu baik." Kataku sambil berbalik ke arah cermin.


"Aku setuju dengan Aleah" Kata Karin padaku. "Kau harus mencoba yang lain."


"Berapa banyak gaun yang sudah aku kupakai?" Aku menghela nafas dan kembali ke ruang ganti.


Setelah mencoba sekitar empat gaun lagi, aku akhirnya memutuskan untuk memilih gaun. Jika aku tidak memilih satu saja, kita akan berada di sini sepanjang hari dan aku benar-benar merasa sangat lelah dan lapar.


"Aku pikir ini dia." Aku berkata kepada mereka saat aku keluar dari ruang ganti.


"Apakah kau yakin?" Ibu dan Joy bertanya bersamaan.


"Ya, aku yakin," aku mengangguk dan mengagumi diriku di cermin. "Aku sudah lelah mencoba gaun yang lain dan sepertinya gaun ini sangat cocok denganku, tidak perlu diubah. Dan harganya juga terjangkau."


"Aku suka jika ada atasan rendanya." Aleah mengangkat bahu. "Tapi terserah deh karena kaulah yang akan memakainya."

__ADS_1


"Aku harus mengambil keputusan dan memilih gaun yang sudah ada atau aku akan pingsan."


"Jadi, apakah kita sudah selesai di sini?" Alahley bertanya padaku.


"Setelah kita menyelesaikan pembayaran dan pengirimannya maka ya kita sudah selesai di sini. "


"Luar biasa. Aku merasa agak bosan." Dia menjawab sebelum pergi ke depan.


"Apa kau yakin kalau ini adalah gaun yang kau mau?" Ibu bertanya padaku, dia datang ke ruang ganti bersamaku untuk membantuku berganti. "Kau tidak harus puas dengan pakaian apa pun hanya karena kamu merasa tertekan untuk memilih satu."


"Tidak apa-apa, Bu. Aku benar-benar menyukainya." Aku mengatakannya dengan jujur.


"Yah, aku senang kau menemukan gaun itu." Ibu merespons.


"Aku juga."


Setelah kami meninggalkan toko baju pengantin, kami memutuskan untuk pergi makan siang karena kami kelaparan. Joy pergi lebih awal karena dia punya rencana dengan Dwayne.


Alisa orang pertama yang menyarankan makan seafood saat aku bertanya padanya apa yang dia inginkan untuk makan siang, jadi itulah yang kami pilih. Aku perhatikan Ashley dan Aleah tampaknya akrab meskipun mereka baru bertemu pagi ini. Aku senang mereka rukun. Aku sangat senang kalau kebencian Aleah tampaknya telah mendingin ke arahku atau dia tidak akan pernah ke sini hari ini. Aku masih berharap bahwa suatu hari nanti kita bisa benar-benar lebih dekat, tapi sementara itu aku akan menerima apa yang aku dapatkan darinya sekarang.


"Kau sudah kenyang ?" Karin bertanya, dia memperhatikanku yang sudah berhenti makan.


"Tidak. Perutku sebenarnya terasa sedikit tidak enak." Aku merespons. "Mungkin, memakan seafoon terlalu banyak dan adalah ide yang buruk. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru."


"Yah, kurasa itu tidak layak jika itu membuatmu merasa sakit." Kata Ibu padaku.


"Aku akan baik-baik saja. Aku hanya ... Permisi sebentar." Aku berkata saat aku bangkit dari kursi.


"Naomi, kau baik-baik saja?" Tanya Alisa saat aku berdiri.


"Ya, aku akan segera kembali, oke." Aku tersenyum padanya. "Aku hanya pergi ke kamar kecil."


"Apakah kau yakin kau baik-baik saja?" Karin bertanya, dia masuk ke kamar kecil beberapa saat setelah itu. "Kau terlihat agak pucat."


"Ya, aku merasa tidak enak." Aku mengatakannya dengan jujur ​​dan kemudian berkumur. Aku baru saja selesai muntah.


"Seharusnya kau memesan makann biasa. Memakan seafood dengan kombinasi mungkin sangat buruk."


"Kupikir itu lebih dari sekadar seafood. " Aku berkata kepadanya. "Aku sudah seminggu merasa seperti ini."


"Kau tidak berpikir, apakah kau berpikir bahwa kau kemungkinan hamil?" Karin bertanya padaku.


"Apa? Tidak, kurasa tidak. Haidku baru saja berakhir beberapa hari yang lalu. Lagipula aku masih minum pil." Aku berkata padanya.


"Yah, ada kemungkinan kau merasa mual karena pil itu?" Karin bertanya. "Coba Ingat, apa ada hal yang lain yang kau lakukan sehingga membuatmu sakit?"


"Aku tidak tahu, tapi pasti ada yang salah." Aku menghela nafas saat membuang tissue kertas yang biasa kugunakan untuk mengeringkan tangan.


"Kurasa sudah waktunya kau bicara dengan David tentang itu." Kata Karin padaku.

__ADS_1


"Aku tidak mau terlalu menyusahkan David."


"Naomi, kapan kau mau sadar kalau David bukan hanya tunanganmu. Dia juga seorang dokter dan jika kau merasa tidak enak badan, kau perlu bicara dengannya tentang itu juga."


__ADS_2