Married With Sugar Daddy

Married With Sugar Daddy
Ajakan


__ADS_3

"Ya, kami mendapatkan liburan awal tahun ini, ujian akan selesai seminggu lebih awal dan kemudian kita akan bebas, yeyyy. Aku sangat senang," kataku pada David saat kami mengobrol di video call.


"Kedengarannya kamu punya banyak rencana untuk liburan kali ini," David tersenyum kepadaku melalui layar ponsel.


"Tidak juga sih, tapi aku benar-benar gembira bisa mendapatkan istirahat beberapa minggu dari kampus dan bisa meredakan stresku. Tapi bukan berarti itu satu-satunya hal, aku bisa melihatmu selalu. Yah itupun juga kalau kamu tidak sibuk di hari biasa."


"Aku sebenarnya berencana untuk mengambil cuti beberapa hari juga. Aku biasanya memang bekerja selama liburan tapi tahun ini aku pasti mengambil cuti beberapa hari." David berkata kepadaku, "Aku bekerja dengan diriku sendiri. Bosnya juga adalah aku sendiri, jadi aku tidak perlu khawatir tentang itu, tapi aku tahu kalau hal itu akan membuat pasienku sedikit tidak nyaman."


"Ya bisa di bilang begitu, kau cukup memasang info di papan informasi sehingga mereka bisa tau sampai berapa hari klinik akan tutup," kataku kepadanya.


"Yah itulah yang akan kulakukan," jawab David "Aku bahkan sudah print. "


"Bagus. Jadi, apa rencanamu untuk liburan?" Tanyaku, aku berbaring di tempat tidurku menatapnya melalui layar.


"Aku sangat ingin bicara denganmu tentang itu. Kau tahu aku berencana ingin pergi ke puncak selama beberapa hari karena sebagian besar keluargaku tinggal disana," David memberitahuku, "Aku ingin bertanya padamu, bagaimana kalau kamu ikut denganku? "


"Uhm. Mengunjungi keluargamu?" Aku bertanya dengan tidak yakin.


"Ya, aku ingin kamu bertemu dengan orang tuaku dan keluargaku yang lain," David berkata kepadaku, "Kupikir sudah waktunya mereka bertemu dengan pacar baruku. Bagaimana perasaanmu tentang itu? Maukah kamu ikut denganku?"


"Apa kau yakin? Maksudku, apa kau pikir mereka akan menerimaku?"


"Kenapa tidak? Kamu luar biasa dan pintar, mereka akan menyukaimu. Dan faktanya bahwa aku akhirnya berkencan lagi, mereka akan senang bertemu denganmu," jawab David.

__ADS_1


"Pernahkah kau membahas tentang diriku dengan mereka sebelumnya?" Aku bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Aku tidak pernah memberi tahu mereka secara detail, tapi aku hanya bilang kalau aku ingin mereka bertemu seseorang yang istimewa, jadi jika kamu ikut denganku, aku akan memberi tahu mereka." David tersenyum, "Tolong, ikut saja. Hanya dua hari saja. Aku ingin kamu bertemu dengan mereka."


"Uhm. Oke, baiklah," aku mengangguk.


"Thanks, aku benar-benar ingin mereka bertemu denganmu dan aku ingin memperkenalkanmu dengan orang yang istimewa juga. Mereka akan menyukaimu Naomi, jangan khawatir."


"Kuharap begitu, meskipun aku harus mengakui bahwa aku agak gugup jika bertemu mereka juga," kataku padanya.


"Kamu ingat betapa gugupnya aku saat bertemu orang tuamu?" David terkekeh, "Aku hampir tidak pernah muncul malam itu karena takut apa yang kupikirkan akan menjadi reaksi mereka. Tapi ternyata tidak seburuk yang kupikir. Meskipun aku pikir ayahmu ingin membunuhku."


"Tapi mereka berdua memberimu kesempatan dan ibu benar-benar menyukaimu. Ayahku juga merasa baik-baik saja, dia berusaha menjadi temanmu sekarang kan? Jadi, kau tidak perlu khawatir, tapi aku tidak tahu apa keluargamu seperti keluargaku, tidak hanya bertemu orang tuamu, tapi juga seluruh keluargamu jadi aku benar-benar gugup."


"Oke, kalau kau bilang begitu" jawabku menyentuh telingaku.


"Yang baru saja kukatakan itu benar, jadi buktikan sendiri," jawab David mengawasiku, "Apa yang kamu lakukan?"


"Aku mencari anting-antingku, sepertinya lepas dari telingaku," kataku sambil mengangkat bantal di tempat tidur dengan satu tangan sambil memegang ponselku dengan tangan yang lain.


"Kamu baru sadar? Kupikir kamu sadar daritadi, kalau kamu hanya memakai satu anting-anting," kata David padaku.


"Kau sudah memperhatikan itu sebelumnya? Kenapa kau tidak bilang daritadi?" Aku bertanya bangun dari tempat tidur untuk melihatnya lebih hati-hati. "Aku tidak tahu kapan anting itu terjatuh."

__ADS_1


"Aku tadi barusaja mau bilang," jawab David, "itu di bawahmu."


"Aku menemukannya," kataku saat anting itu jatuh dari bawah selimut yang baru saja aku angkat.


"Aku tidak ingin menyinggung perasaanmu atau apa pun, tapi aku sangat tidak mengerti kenapa kebanyakan wanita cenderung menusuk tubuh mereka padahal jika tidak memakai perhiasanmu mereka tampak cantik."


"Aku hanya punya satu tindik di masing-masing telingaku, ibuku menusuknya saat aku masih bayi. Aku pribadi suka anting-anting karena merupakan aksesoris yang lucu, tapi aku tidak tidak tahu kalau pendapat orang lain," kataku padanya, "Jangan tersinggung juga, tapi kau terdengar seperti ayahku."


"Apa?" Tanya David dengan nada mengejek.


"Aku tidak bermaksud, tapi kalian berdua benar-benar persis," aku menertawakan reaksi dramatis David.


"Yah, kau bisa memanggilku ayah," jawab David dengan seringai membuatku terkesiap.


"Ya Tuhan, David," aku tertawa.


"Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu lagi," David tersenyum, "Bagaimana perasaanmu menghabiskan akhir pekan ini bersamaku?"


"Sepanjang akhir pekan?"


"Ya, kamu bisa datang pada hari Jumat malam, dan aku akan menghabiskan seluruh waktuku baik di hari Sabtu dan Minggu bersamamu. Bagaimana?" David bertanya padaku.


"Kedengarannya seperti kencan."

__ADS_1


__ADS_2