
"Kau bisa berhenti di sini." Aleah berkata kepadaku saat kami berhenti di sudut sebelum mencapai sekolah.
"Loh, kenapa?" Aku bertanya padanya.
"Hentikan mobilnya, oke!" dia berteriak, "Aku mau keluar di sini."
"Hei, sekolahnya kan ada di atas sana." Aku berkata padanya.
"Tepat sekali. Itulah alasanku kenapa aku ingin diturunkan di sini. Aku tidak ingin ketahuan sama yang lain kalau aku pergi ke sekolah bersamamu."
"Baiklah," kataku menghentikan mobil. "Kenapa kau baru bilang padahal kita sudah sampai sedekat ini untuk menghentikan mobil. Kau seharusnya menghentikanku dan menyuruhmu keluar dan berjalan beberapa menit yang lalu. Atau lebih baik lagi, kenapa kau tidak berjalan langsung dari rumah?"
"Masa bodo." Aleah mengejek sebelum keluar.
Aku memutuskan, kalau Aleah terus-menerus bersikap tidak sopan padaku, maka aku akan membalasnya. Jika dia ingin bertindak seperti anak nakal, maka aku akan memperlakukannya seperti itu. Aku tidak akan melawannya lagi atau mencoba meminta persetujuannya. Aku sudah berusaha keras untuk membangun hubungan baik dengannya tapi kalau dia tidak menginginkannya maka aku tidak bisa memaksanya lagi.
Aku sudah di tugaskan di masing-masing kelas, pertama untuk kelas bahasa Inggris di tingkat 1 dan yang terakhir di tingkat 3. Kedua kelas itu adalah kelas yang akan ku ajar. Syukurlah tidak satu pun dari kelas itu adalah kelas Aleah, jika itu kelasnya, aku akan keluar dari ruangnya sebaik mungkin. Aku hanya tidak mengerti kenapa Aleah sangat membenciku. Mungkin karena ayahnya berkencan lagi, yang menganggapnya menjadi masalah besar. Aku mengerti kalau orang tuanya bercerai atau berpisah dan kemudian David mulai berkencan denganku, itu biasanya alasan anak-anak membenci pasangan orang tua mereka. Mereka sering merasa kalau orang tersebut telah menghancurkan semua peluang orang tua mereka untuk kembali bersama tapi itu tidak terjadi di sini. Tapi kenyataannya, ibunya meninggal dan dia tidak akan kembali, itulah kebenaran. Jadi bukankah David pantas berkencan lagi dan menemukan kebahagiaan?
Aku mengerti, kalau pada saat-saat remaja sepertinya adalah segala sesuatu yang tampak membuatmu gelisah kecuali aku secara pribadi percaya kalau Aleah hanya menjadi tambahan dari itu semua.
__ADS_1
Di kantin sekolah...
"Aku pikir aku salah jurusan." Karin berkata padaku saat kami sedang makan siang.
"Ya? Kenapa kau bilang begitu?" Aku bertanya padanya.
"Murid-murid ini. Aku merasa, aku seakan ingin melawan beberapa dari mereka." Desis Karin.
Aku tidak bisa menahan tawa, aku tahu Karin, serius karena aku kadang-kadang juga merasa seperti itu.
"Apa yang terjadi?"
"Karin, aku tahu apa yang kau maksud, tapi kau harus mencoba untuk tidak membiarkan mereka menginjakmu." Aku berkata padanya. "Aku mendapat perlakuan yang sama tapi tidak begitu banyak di ruang kelas. Aku belum melihat seperti apa kelasku selanjutnya."
"Aku tidak tahu apakah aku bisa menerimanya Naomi. Sungguh sangat menyebalkan, dan aku sangat membenci anak remaja."
"Kau sendiri dulu pernah menjadi anak remaja." Aku terkekeh.
"Aku tahu dan itu sebabnya aku tidak tahan menghadapi mereka sekarang." Karin merespons.
__ADS_1
"Setidaknya kau tidak harus hidup dengan itu." Aku menghela nafas.
"Aleah memberimu kesulitan?" Karin bertanya dengan penuh pengertian.
"Karin , dia membuatku gila. Dia manja, nakal, tidak sopan. Dan belum lagi, dia membenciku." Aku menghela nafas. "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan itu salah, aku sudah mencoba segala cara untuk terhubung dengannya tapi tidak ada gunanya. Alisa, adiknya itu luar biasa, tidak ada keraguan tentang bagaimana perasaannya terhadapku kecuali Aleah, kakaknya. Dia berbeda."
"Satu-satunya alasan yang bisa kuberikan padamu adalah dia masih remaja." Karin merespons. "Aku pikir dia akan berubah, jangan khawatir."
"Tapi kapan? Saat hubunganku dengan David hancur?" Kataku padanya. "Anak-anak itu adalah kehidupan David. Aku tahu dia mencintai mereka lebih dari hidupnya sendiri dan itulah sebabnya aku mencoba membangun hubungan baik dengan anak-anaknya. Meskipun begitu pada awalnya aku tidak tahu dia punya anak, tapi pada akhirnya aku tahu kalau dia punya anak bahkan ada dua dan aku jatuh cinta padanya, jadi aku mengerti kalau aku menginginkan ayahnya, aku juga harus menerima anak-anak juga."
"Aku harus mengakui kalau kamu berada di posisi yang sulit." Karin setuju. "Maksudku, pasti sulit untuk menjaga hubunganmu dengan seorang lelaki yang putrinya tidak bisa menerimamu."
"Beritahu aku tentang itu." Aku menghela nafas. "Begini, saat aku memberi tahu David kalau di sekolah ini aku akan melakukan praktik mengajarku, dia pikir itu akan menjadi ide bagus bagi Aleah untuk pergi ke sekolah bersamaku. Ide terburuk yang pernah ada. Aku merasa seolah-olah anak itu akan meraih kemudi dan membanting kemudi kami menuju tebing atau apalah itu. Dan sebelum kami sampai di sekolah, dia bersikeras menyuruhku berhenti dan membiarkannya keluar dan berjalan sendiri. Dari caranya itu, dia tidak ingin tertangkap basah datang ke sekolah denganku. Dia tidak ingin ada yang tahu kalau aku mengenalnya. "
"Kenapa dia tidak berjalan dari rumahnya saja?"
"Itulah yang aku bilang." Aku berkata kepada Karin.
"Atau lebih baik lagi, bilang saja pada David yang sebenarnya. Katakan padanya kalau anaknya sangat manja dan kau tidak akan mengantarnya ke sekolah lagi atau dia mungkin sudah tahu itu." Jawab Karin.
__ADS_1
"Karin, aku tidak bisa melakukan itu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, David dan Aleah adalah satu paket. Jika aku memutuskan untuk menunjukkan penghinaan padanya, maka hal-hal di antara keduanya akan memburuk. Maksudku hal-hal yang baik antara David dan Aleah akan berakhir. Sekarang, aku lebih suka menjaga hubungan itu dengan baik."