
Sebelum ayam jantan berkokok dan mentari pagi menampakkan diri, Aleya sudah bangun dan mandi. Ia kembali mengenakan baju yang semalam ia pakai pun begitu dengan pakaian dalamnya. Walaupun terasa gatal dan tak nyaman namun mau bagaimana lagi, keadaan yang memaksanya.
Aleya kemudian duduk dibibir tempat tidur menunggu Celya bangun sambil berpikir apa yang akan ia lakukan agar rahasia Celya tak terdengar dan diketahui oleh Najib. Aleya merasa bagaikan emang berdiri ditempat yang dikelilingi oleh jurang. Salah sedikit melangkah maka ia akan tergelincir dan terjun bebas.
"Ma, kita dimana ?" Mata Celya terbuka sempurna dan menatap sang mama. Aleya tersenyum lembut dan memeluk putrinya. Pelukan yang setiap pagi selalu ia lakukan sebelum meninggalkan tempat tidur.
"Kita di rumah bosnya mama, sayang." Aleya mengusap lembut rambut hitam legam gadis kecilnya.
"Kok gak pulang ke rumah kita sih, ma ?" Ruoanya Celya masih memiliki pertanyaan lain untuk sang mama. Ciri khas seorang anak yang sedang tumbuh kembang dan tak pernah puas hanya dengan satu pertanyaan.
"Semalam Celya dan mama ketiduran makanya pak bos membawa kita kemari, " Aleya berusaha menjelaskan agar Celya bisa menerima dan tak melanjutkan pertanyaannya.
"Tapi kan om tampan bisa mengantar ke rumah kita," Ternyata Celya masih memiliki pertanyaan berikutnya.
"Nanti kita bahas ya, sebaiknya Celya mandi supaya kita bisa cepat pulang ke rumah," Aleya memilih mengabaikan pertanyaan Celya. Semakin dilayani maka akan muncul lagi pertanyaan berikutnya. Terkadang Aleya kewalahan menjawab pertanyaan yang tak ada habisnya.
Karena ingin cepat pulang, Celya langsung berlari ke dalam kamar mandi. Aleya bergegas mengikuti gadis kecil itu karena sama dengan dirinya yang tak memiliki pakaian ganti.
"Cel, buka bajunya pelan-pelan ya, jangan sampai basah. Celya gak punya baju ganti lho," Aleya mengingatkan putrinya sehingga si gadis kecil tertegun sejenak. Celya sangat pembersih dan kali ini akan melakukan hal yang paling dibencinya yaitu memakai baju yang semalaman ia pakai. Benar-benar jorok.
"Jadi gimana dong ma, masa iya harus pakai baju yang sama ?!" Nada keluhan Celya terdengar sangat memelas membuat Aleya terkekeh.
"Ya gak apa-apa, sampai rumah Celya mandi lagi kemudian ganti baju sepuasnya," Tak ada lagi yang bisa Aleya katakan toh dirinya pun saat ini tak berganti sama sekali.
"Om tampan itu harus bertanggung jawab !" Celya bersungut-sungut lalu menyalakan shower kemudian berdiri dibawah shower. Sementara Aleya menunggu di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Keduanya kini selesai mandi, walaupun seadanya dan tanpa make up ataupun parfum kedua wanita beda generasi itu tetap tampak cantik. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 dan Aleya bersama Celya keluar dari kamar. Ternyata Najib sudah duduk di kursi yang menghadap ke kamar yang ditempati oleh Aleya dan Celya. Saat mendengar pintu kamar terbuka, Najib mengangkat kepalanya dan menatap keduanya.
"Om jangan menatap kami seperti itu. Kami sudah mandi tapi gak punya baju ganti !" Celya lagi-lagi memberikan tatapan tajam pada Najib, orang yang bertanggung jawab dalam hal ini.
"Maaf, semalam keadaan darurat, sarapan dulu yuk, sebelum om mengantar kalian pulang, " Najib menarik pelan tangan mungil Celya menuju meja makan. Entah mengapa ia melukiskan perasaannya saat bersama gadis kecil nan cantik yqng sedang menggenggam erat tangannya. Aleya hanya bisa tersenyum kecut melihat keakraban keduanya.
'Maafkan mama, sayang. Mama hanya takut kehilangan,' Aleya membatin sambil mengikuti mereka dari belakang.
Tiba di meja makan, nasi goreng dan lauknyq sudah tertata rapi. Aleya menatap nanar berbagai menu diatas meja makan tersebut. Strawbery, anggur dan apel pun ambil bagian selain itu telur mata sapi dan beberapa jenis olahraga ayam. Semua menggoda selera akan tetapi telur mata sapi dan dua buah lainnya yang menjadi momok bagi Celya. Gadis kecil itu alergi pada telur dan itupun berlaku pada Najib. Sedangkan alergi pada buah strawbery dan anggur, Aleya tak tahu turunan darimana.
Celya duduk di samping kanan Celya dan mulai menyendokkan nasi goreng dan ayam. Lalu menyendokkan nasi ke piring Najib sebagai bentuk terima kasihnya karena telah diberikan sarapan.
"Terima kasih, ternyata kamu masih ingat alergiku, " Najib tersenyum tipis menatap Aleya.
"Lho, Celya gak suka telur ?" Najib menatap gadis kecil yang kini sedang asyik menikmati ayam gorengnya.
"Bukan gak suka om, tapi Celya takut masuk rumah sakit kalau makan telur." Dengan polosnya Celya menjawab apa adanya tanpa tahu jika perasaan sang mama sedang gusar dan khawatir.
"Pak, tolong jangan ajak Celya bicara saat makan. Sedari kecil ia harus diajarkan sopan santun diantaranya tak boleh bicara saat makan." Tak ingin mengambil resiko, Aleya segera menghentikan pembicaraan yang sangat berbahaya baginya. Dan memang Aleya mengajarkan agar Celya tak bersuara jika sedang makan.
Walaupun penasaran dengan alergi Celya namun Najib menuruti perkataan Aleya. Ketiganya lalu menikmati sarapan dengan tenang. Diam-diam Naiib merekam semua pembicaraannya dalam otaknya yang cerdas, baik dengan yang menyangkut Celya maupun pembicaraannya dengan Aleya. Najib merasakan sebuah keanehan saat berinteraksi dengan gadis kecil nan menggemaskan.
"Hari ini Celya gak usah ke sekolah ya, ikut ke kantor om aja, setelah pulang kantor kita belanja apapun yang Celya inginkan, " Najib mulai melancarkan bujuk rayunya. Ada rasa enggan berpisah dengan anak dari mantannya.
"Tapi kata mama, Celya harus sekolah supaya pintar dan pantas disebut sebagai anak papa." Celya memang anak yang cerdas terdengar dari caranya menolak secara halus ajakan bos mamanya. Bukannya tidak tertarik dengan ajakan pria itu hanya saja ia harus patuh pada sang mama yang memang selalu menomor satuan pendidikan.
__ADS_1
"Sekarang jam 07.20, jarak dari sini ke sekolah lumayan jauh dan bisa dipastikan Celya sudah telat. Ijin aja ya ? Nanti om suruh om Dikha ijinin di sekolah," Najib memperlihatkan jam tangan mahal yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Om gak tahu ya,ijinin aku hingga harus nyuruh orang lain ?!" Mendengar pertanyaan putrinya membuat Aleya menahan tawa membuat Najib mendelik tajam.
"Bukan gitu gadis kecil, om adalah bos dan wajar kalau nyuruh bawahan melakukan sesuatu." Sedikitpun Najib tak merasa kesal mendengar kata-kata Celya, ia justru memberikan penjelasan tentang dirinya dengan santai.
"Wahhhh !!! Keren !!! Boleh gak suatu saat nanti Celya menggantikan om sebagai bos ?!" Mata Celya berbinar menatap Najib. Walaupun ia tak tahu menahan tentang seorang bos namun satu hal yang anak kecil itu sukai adalah bisa menyuruh orang melakukan sesuatu.
Najib terkekeh mendengar ucapan gadis kecil itu akan tetapi tidak demikian halnya dengan Aleya. Sebuah kekhawatiran dan ketakutan menghimpit perasaannya. Ia harus menghentikan pembicaraan yang semakin meresahkannya.
"Pak, sebaiknya kita berangkat, gak enak kalau saya telat ke kantor dan terlihat sembilan dengan anda. Akan banyak gosip yang tak mengenakkan baik nantinya," Aleya memotong percakapan keduanya.
Najib menatap Aleya sejenak lalu menarik napas panjang, ia tak habis pikir dengan wanita beranak satu itu, setiap kali ia dan Celya asyik berbicara selalu saja mengacaukannya.
"Ok, kita berangkat tapi kalian mampir di butik dulu beli baju. Gak pantas baju seperti itu dipakai ke kantor," Najib menatap intens Aleya yang memakai baju yang sedikit menampakkan lekuk tubuhnya.
Aleya segera menarik tangan Celya agar berdiri dari kursinya dan langsung mengajaknya keluar rumah. Aleya terpukau dengan pemandangan rumah tersebut. Semalam ia tak memperhatikan karena gelap. Ternyata rumah tersebut dikelilingi oleh taman bunga yang sangat memanjakan mata. Ingin rasanya Aleya menetap di rumah tersebut namun hal itu tak akan mungkin terjadi.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi,,,
Selamat beraktivitas semoga kita semua sehat dan bahagia bersama keluarga.
Terima kasih atas dukungannya ya,,,
__ADS_1