
Benar dugaan Keiko, tak berselang lama akhirnya Aleya menyusul putrinya. Wanita muda itu setengah berlari memasuki pintu utama rumah orang tua angkatnya. Sepintas ia melihat sebuah mobil asing terparkir rapi dan seorang pria asing tengah bercakap-cakap dengan security. Aleya hanya mengerutkan alis sejenak lalu mengedikkan bahunya. Bukan urusannya siapapun yang berkunjung ke rumah tersebut.
"Assalamualaikum," Sudah menjadi kebiasaan Aleya sebelum masuk ke dalam rumah terlebih dahulu memberi salam.
"Waalaikumsalam," Kompak Akihiro dan kakek Emir. Suara dua pria tak menarik perhatian Aleya karena sudah menebak jika papa angkatnya sedang menerima tamu.
Aleya terus berjalan menghampiri sang papa dan mencium punggung tangannya. Dan suara tamu sang papa yang menyebut namanya sangat mengejutkannya.
"Apa kabar Nazaleya ?!" Dalam dan berwibawa tertangkap jelas oleh indera pendengaran Aleya membuatnya tak berkutik untuk beberapa saat.
Duaarrrrr
Aleya bagaikan tersambung petir di siang bolong saat pandangannya menangkap sosok pria paruh baya yang pernah menjadi bosnya. Terlebih lagi pria paruh baya tersebut adalah kakek dari laki-laki yang merupakan ayah biologis putri kecilnya. Aleya berusaha bersikap biasa saja dan beralih menyalami pria paruh baya itu.
"Alhamdulillah sehat pak. Bapak sendiri sehat, kan ? Lama tak berjumpa," Aleya terlalu pandai berakting. Nada suaranya terdengar biasa saja dan raut wajahnya pun tampak normal.
Namun bukan kakek Emir namanya jika tak dapat menangkap keterkejutan dan kegelisahan pada sorot mata bening milik wanita muda dihadapannya. Artinya Aleya tak sepadan dengan pengalaman hidup seorang Emir mantan penguasa sebuah perusahaan besar dan disegani dalam dunia bisnis.
"Dunia tenyata hanya selebar daun kelor, kita akhirnya dipertemukan lagi." Nada suara pria yang sangat dihormati oleh Aleya terdengar lembut namun sarat akan makna.
Apakah pak Emir sudah mengetahui keberadaan Celya ? Ah tidak mungkin, semua hanya kebetulan saja. Aleya menolak dugaan yang sempat mengisi otaknya.
__ADS_1
"Hehehe, iya pak. Saya resign karena ingin kembali kesini dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Di Indonesia tak ada lagi keluarga yang kami miliki," Aleya memang tak memiliki keluarga di tanah air namun bukan itu alasan utamanya ia kembali ke Jepang.
"Bukan karena menghindari seseorang ?!" Kali ini kakek Emir menatap Aleya dengan intens. Pria paruh baya itu tak ingin melewatkan sedikitpun perubahan wajah Aleya.
"Maksudnya ?!" Sadar akan tatapan lawan bicaranya dan tak ingin terjebak, Aleya balik bertanya dengan wajah bingung.
Diam-diam kakek Emir mengagumi penguasaan diri Aleya. Walaupun masih muda namun kecerdikan wanita dihadapannya tak bisa dianggap enteng.
"Gak bermaksud apa-apa, kakek hanya menebak saja. Oh ya, kedepannya jangan panggil bapak padaku tapi panggil kakek saja," Kakek Emir memutuskan untuk tak melanjutkan pertanyaannya.
Untuk sementara biarlah Aleya menganggapnya tak tahu apa-apa. Yang terpenting saat ini calon cucu menantu dan cicitnya berada di tempat yang aman. Sambil memikirkan cara agar bisa menikahkan mereka dan cicitnya memiliki keluarga yang utuh.
"Saya pamit menemui Celya dan mama," Aleya merasa tak nyaman berada diantara papa angkat dan kakek dari ayah biologis putrinya.
Setelah yakin Aleya menghilang dari pandangan mereka, Akihiro berdiri dan duduk disamping sahabatnya. Kali ini wajah Akihiro sangat serius.
"Apa benar yang kamu katakan barusan ?!" Akihiro setengah berbisik. Ia tak ingin orang lain mendengarnya.
Perlahan kakek Emir mengeluarkan foto Najib dari dompetnya dan memperlihatkan pada Akihiro. Foto masa kecil Najib bersama kedua orang tuanya.
"Perhatikan baik-baik dan bandingkan dengan gadis kecil itu, jika keduanya memiliki sedikit kemiripan boleh kita katakan hanya kebetulan saja akan tetapi jika wajah mereka bak pinang dibelah dua maka hal itu harus dipertanyakan. Meskipun konon di dunia ini kita memiliki tujuh kembaran yang tersebar di seluruh penjuru dunia namun keberadaan Celya terkecualikan. Aleya dan Najib memiliki hubungan di masa lalu dan itu tak bisa diabaikan." Kakek Emir menatap sahabatnya dengan wajah tera,atau serius. Ia butuh dukungan dari sahabatnya untuk mempersatukan Aleya dan Najib.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan ? Aku tak mungkin memaksa Aleya mengakui segalanya, bagaimana jika anakku itu kabur ?" Akihiro terlalu menyayangi Aleya seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak ingin kehilangan putri dan cucunya. Walaupun Aleya tidak lahir dari rahim istrinya namun kehadiran Aleya memberikan warna tersendiri dalam kehidupan keluarganya.
"Untuk sementara biarkan saja seperti ini yang penting Aleya dan putrinya tak kemana-mana. Nanti akan kita pertemuan dengan Najib."
"Baiklah, terserah kamu saja. Aku akan mendukung apapun yang akan kalian lakukan asalkan tidak merugikan putriku."
"Tentu saja, aku tak akan mungkin merugikan ataupun mencelakai cucu menantuku," Kakek Emir terkekeh dengan ucapannya sendiri. Belum ada persetujuan dari Aleya namun ia sudah mengklaim Aleya sebagai cucu menantunya.
Tak ingin dicurigai, kedua pria itu mengalihkan topik pembicaraan. Dan tak lupa kakek Emir mengirimkan pesan pada Najib agar segera ke Jepang karena ada sesuatu yang harus di selesaikan.
Sementara di dalam kamar, Aleya memeluk putrinya dengan erat seolah takut kehilangan. Keiko yang sedang berbaring seketika terduduk memperhatikan sang kakak.
"Kakak kenapa ? Baru juga dua jam aku bawa Celya," Keiko menggerutu melihat aksi sang kakak. Gadis itu tak tahu saja kondisi hati Aleya saat ini yang ketakutan setengah mati.
"Makanya lain kali jangan bawa Celya jauh dariku. Kamu tahu kan Celya adalah hidupku," Tanpa sadar kini airmata Aleya membasahi pipinya.
"Tapi gak seperti itu juga, kak. Lihatlah airmatamu sampai segitunya. Kayak air terjun aja." Keiko terkikik geli melihat bagaimana lebaynya sang kakak. Dimata Keiko, Aleya sangat tak masuk akal. Hanya beberapa jam terpisah dari putrinya itupun Aleya tahu yang membawanya adalah adiknya sendiri dan tak mungkin mencelakai ponakannya sendiri.
"Kamu tak tahu saja apa yang aku khawatirkan," Aleya menghapus airmatanya dan kembali tersenyum manis pada putrinya.
Keiko hanya menarik napas panjang. Ia tak akan pernah menang melawan Aleya. Kakaknya itu terlalu pandai berdebat dan seolah tak pernah kehabisan kata untuk membalasnya. Entah darimana kosa kata yang dimiliki oleh kakaknya itu.
__ADS_1
Aleya pun tak lagi memperdulikan keberadaan Keiko. Ia terlalu lelah seharian meracik bumbu. Menyadari dirinya belum bersih-bersih setelah seharian berkutat dengan berbagai macam bumbu, Aleya segera melepaskan pelukannya dan buru-buru ke kamar mandi sebelum Celya melayangkan protesnya.
🌷🌷🌷🌷🌷